Resensi Film Chaos Walking: Petualangan Tom Holland dan Daisy Ridley di Planet Baru dengan Chemistry Pulen

Lama mengenal Tom Holland sebagai Spider-man, kini ia kembali dengan peran baru di genre petualangan lewat Chaos Walking.

Diterbitkan 05 April 2021, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Terbiasa melihat Tom Holland sebagai manusia laba-laba bisa jadi membuat kita lupa bahwa sang aktor di layar lebar sesungguhnya bisa jadi apa saja. Chaos Walking salah satu buktinya.

Chaos Walking yang merupakan adaptasi novel The Knife of Never Letting Go karya Patrick Ness diproyeksikan ke layar lebar dengan Doug Liman sebagai sutradara. Ia siap tayang di Indonesia April 2021.

Yang menarik, dalam Chaos Walking Tom Holland adu akting dengan Daisy Ridley yang bersinar terang berkat Star Wars. Pertemuan salah satu ikon Marvel dengan “duta” perang bintang terasa unik. Berikut resensi film Chaos Walking.

Todd Hewitt Tahun 2257

Cerita Chaos Walking berada di garis waktu tahun 2257 masehi. Kala itu Bumi yang tua dianggap tak bisa lagi “melayani” polah manusia. Sebagian bermigrasi ke planet baru demi kehidupan lebih baik.

Pada tahun itu pula, manusia punya kemampuan mendengar suara hati sesama yang divisualkan dengan pendar cahaya di wajah mereka. Adalah Todd Hewitt (Tom Holland) yang dibesarkan dua ayah, yakni Ben (Demian Bichir) dan Cillian (Kurt Sutter).

Ia berupaya menyamarkan suara hati agar tak terlacak orang lain. Suatu siang, Todd mendapati Viola (Daisy Ridley) mencuri. Viola lari menuju pesawat yang jatuh di hutan.

Hanya Wali Kota Farbranch

Bertemu cewek membuat hati Todd berdesir karena tak ada satu pun wanita di kota Prentisstown. Todd melapor ke Wali Kota, David Prenstiss (Mads Mikkelsen) yang kemudian mengerahkan warga untuk memburu Viola.

Ben dan Cillian minta Todd - Viola kabur ke Farbranch. Warga Farbranch malah memusuhi Todd dan Viola setelah tahu keduanya dari Prentisstown. Hanya Wali Kota Farbranch, Hildy (Cynthia Erivo), yang menyambut mereka.

Sinopsis film ini membuat pikiran kita berkelana ke sebuah perjalanan penuh tantangan di mana dua pemeran utama berproses menjadi sosok yang layak dibanggakan. Namun eksekusi film ini agak mengkhianati harapan kita.

Menghadapi Sebisanya

Di awal film, Todd tampak lemah dan disepelekan. Pertemuan dengan Viola membuatnya berproses. Sayang, tokoh ini tak kunjung berkembang. Di babak puncak pun, ia masih saja tak berdaya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Sementara Viola dalam pencariannya memang berhasil mendapat yang ia mau. Tetap saja, penonton tak diizinkan “mengukur” ketangguhan Voila karena bangunan cerita film ini terus mengajak kita kabur-kaburan. Yang disajikan Chaos Walking selalu soal perjalanan, seolah kabur dari pengejaran (baca: masalah). Saat kondisi terdesak, barulah dua insan ini menghadapi sebisanya.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan