Marak Sopir Arogan di Jalanan, Ini Tips Redam Emosi

Kenali pemicu kemarahan dan Terapkan Tips dari psikolog untuk mengelola frustrasi.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 10:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jagat media sosial belakangan ramai dihiasi beragam video perselisihan antar-pengendara di jalan raya. Berawal dari persoalan kecil, emosi kerap dengan cepat tersulut hingga berujung pertengkaran yang menyita perhatian warganet.

Psikolog Klinis Diah Nurayu Kusumawardani mengatakan, berkendara memang merupakan situasi yang cukup mudah memunculkan frustrasi. Kemacetan, perilaku pengendara lain, suara klakson dan knalpot, hingga kondisi terburu-buru karena takut terlambat dapat menjadi pemicunya.

“Di jalan itu, kita bisa secara terus-menerus menghadapi kemacetan, kemudian perilaku pengendara lain. Kan ada ya yang suka menyerobot, atau mungkin sering membunyikan klakson. Mungkin kita juga lagi dalam kondisi yang, wah akan terlambat nih,” kata Diah saat dihubungi, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, kondisi jalan yang tidak sesuai harapan juga bisa membuat seseorang lebih mudah frustrasi. Pengendara yang berharap perjalanan lancar, tetapi ternyata terjebak macet, misalnya, dapat mengalami kekecewaan yang kemudian berubah menjadi kemarahan.

“Biasanya dari rasa frustrasi ini berkembang menjadi rasa marah,” ujarnya.

Kemarahan tersebut, lanjut Diah, berkaitan dengan potensi meningkatnya perilaku mengemudi secara agresif maupun berisiko. Namun pemicunya tidak selalu berasal dari situasi di jalan.

“Bisa jadi memang kondisi psikologis yang sudah ada sebelum dia berkendara. Seperti misalnya pengendara berada dalam kondisi yang sedang lelah, atau mungkin terburu-buru, atau mungkin memang sedang banyak tekanan atau masalah,” jelasnya.

“Jadi memang bisa jadi ada masalah yang dihadapi di jalan, tapi bisa juga memang akumulasi dari sebelum dia berkendara,” sambung Diah.

Diah menjelaskan, perilaku agresif tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses psikologis sebelum seseorang akhirnya melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Pemicu awalnya bisa berupa kendaraan terserempet, diserobot, dibunyikan klakson, atau dipotong secara tiba-tiba. Setelah itu, otak akan memberikan penilaian terhadap kejadian tersebut.

“Kalau misalnya dilihat sebagai ancaman, ketidakadilan, penghinaan, dan lainnya, ya mungkin reaksi emosional jadi lebih intens,” katanya.

Emosi Meningkat

Ketika emosi meningkat, tubuh ikut bereaksi. Detak jantung meningkat, tubuh menegang dan perhatian semakin terpusat pada hal yang membuat seseorang marah.

“Dalam kondisi ini tuh orang biasanya akan lebih mikir ‘saya harus membalas’ daripada apa akibat ketika saya melakukan pembalasan,” terang Diah.

Akibatnya, kemarahan dapat berubah menjadi perilaku agresif. Bentuknya beragam, mulai membunyikan klakson secara berlebihan, memaki, mengejar kendaraan lain, hingga berujung perkelahian dan kekerasan fisik. Namun, Diah mengingatkan bahwa marah dan agresif bukan hal yang sama.

“Marah itu emosi, agresif itu adalah sebuah perilaku. Jadi bisa aja orang itu emang marah, tapi memilih untuk tidak melakukan perilaku kekerasan,” jelasnya.

Kemampuan mengendalikan dorongan tersebut berkaitan dengan regulasi emosi. Orang yang mampu mengenali tanda-tanda kemarahan dalam dirinya memiliki kesempatan untuk mengambil jarak sebelum bertindak.

“Kalau dia sadar dirinya marah, dia jadi lebih punya kesempatan untuk mengambil jarak terhadap emosinya sebelum melakukan tindakan,” ujarnya.

Sebaliknya, orang dengan kemampuan regulasi emosi yang buruk cenderung tidak mengenali tanda-tanda tersebut. Ketika dorongan marah muncul, tindakan bisa dilakukan secara spontan.

Menurut Diah, cara seseorang memaknai tindakan pengendara lain juga sangat berpengaruh terhadap emosi.

Ketika diserobot, misalnya, seseorang dapat menganggap dirinya tidak dihargai atau diremehkan. Pemaknaan seperti itu dapat langsung memicu kemarahan.

“Kalau misalnya kita lagi mengendarai kendaraan, terus tiba-tiba diserobot, terus kita memaknai sebagai kayak, ‘wah dia tidak melakukan sesuatu yang sesuai aturan’, dan kita marah di situ,” katanya.

Namun, situasinya bisa berbeda apabila kejadian tersebut dimaknai dari sudut pandang lain.

“Kalau misalnya kita memaknai dengan ‘oh mungkin dia terburu-buru, oh mungkin dia ada urgensi sehingga harus mengendarai kendaraannya dengan ngebut-ngebutan’, nah ini kan akhirnya emosinya berubah, tidak lagi marah, tapi mungkin muncul perasaan simpati,” tuturnya.

Selain cara memaknai kejadian, toleransi terhadap frustrasi juga berpengaruh. Orang dengan toleransi frustrasi rendah dapat lebih cepat mengalami lonjakan emosi ketika menghadapi pemicu kecil.

“Kalau memang toleransinya rendah, ketika misalnya menghadapi kondisi emosional yang tidak menyenangkan, itu biasanya berkaitan, ada kecenderungan untuk melakukan perilaku agresif atau mengendarai secara berisiko,” katanya.

Faktor lain seperti kepribadian, kebiasaan dan pengalaman juga ikut berperan. Meski demikian, perilaku agresif saat berkendara tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan psikologis.

“Perilaku agresif dalam berkendara itu tidak serta-merta mengatakan bahwa seseorang itu mengalami gangguan psikologis. Jadi bisa jadi kayak ada akumulasi dan lain-lainnya,” jelas Diah.

 

Kenali Diri Sendiri

Untuk mencegah konflik di jalan berubah menjadi kekerasan, Diah menyarankan pengendara mengenali tingkat emosinya sendiri. Ketika mulai sadar kemarahan sudah meningkat, pengendara sebaiknya memberikan jeda dan tidak langsung menghadapi orang lain.

“Kalau misalnya emosinya sudah, wah ini kayaknya udah mulai intens nih. Yang perlu dilakukan adalah bukan langsung melakukan perilaku yang tidak menyenangkan atau memenangkan perdebatan, tapi tenangkan dulu,” ujarnya.

Jika sedang mengemudi, kendaraan dapat ditepikan di tempat yang aman. Pengendara kemudian bisa mengatur napas dan menenangkan diri sebelum mengambil tindakan.

“Jadi jangan langsung bertindak ketika kita sedang berada dalam intensitas emosi yang tinggi,” tegasnya.

Setelah kondisi lebih stabil, pengendara dapat mengecek kembali apa yang membuat dirinya marah dan bagaimana ia memaknai kejadian tersebut.

“Baru dari situ kita ganti ke cara berpikir yang lain atau cara memaknai yang lain, cara berpikir. Sorry, pemaknaan lain seperti apa sih yang bisa membuat saya lebih tenang,” katanya.

Diah juga mengingatkan agar keselamatan menjadi prioritas. Tidak semua tindakan pengendara lain harus dibalas.

“Tidak semua tindakan orang itu ya harus dibalas,” ujarnya.

Jika pengendara lain memotong jalan atau menyalip secara tiba-tiba, sebaiknya tidak ikut terpancing. Pengendara justru disarankan mencari jalur yang lebih aman.

Apabila terjadi kecelakaan atau kendaraan tersenggol, pengendara juga diminta tidak langsung turun dan menghadapi pihak lain dalam kondisi emosi.

“Pastikan kita dalam kondisi yang tenang dulu, kemudian selesaikan masalahnya secara objektif,” kata Diah.

Kerugian dapat didokumentasikan dan persoalan dibicarakan setelah kendaraan dipinggirkan. Langkah itu juga penting agar kendaraan yang berhenti tidak menghambat arus lalu lintas.

“Jadi minggir dulu, jangan di tengah jalan karena itu akan menghambat pengendara lain dan akhirnya bikin kemacetan,” jelasnya.

Menurut Diah, inti pencegahan konflik di jalan adalah menahan diri saat emosi sedang tinggi. Sebab, keputusan yang diambil dalam kondisi tersebut lebih mudah bersifat impulsif.

“Ketika dalam kondisi emosi yang intens, apa pun itu termasuk marah, janganlah mengambil keputusan yang besar atau bertindak, karena biasanya tindakan kita cenderung impulsif atau tidak disertai pertimbangan yang matang,” tandasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6