Sukses

Amelia Hapsari jadi Juri Piala Oscar Pertama dari Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Direktur Program lembaga nirlaba dokumenter In-Docs, Amelia Hapsari, terpilih menjadi anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences yang menyelenggarakan Piala Oscar. 

Kiprah Amelia Hapsari di In-Docs, yang aktif menyelenggarakan forum lokakarya bersama mentor internasional dan pembuat film dokumenter Asia Tenggara, membuka jalan dirinya menjadi juri Piala Oscar.

In-Docs, didukung Badan Ekonomi Kreatif sejak 2017, menggelar forum global penghubung pembuat film dokumenter Indonesia dan Asia Tenggara dengan industri dan investor film internasional dalam Docs By The Sea.

Dalam forum tersebut, proyek film dokumenter dipresentasikan kepada lembaga donor, jaringan televisi, distributor dan platform dunia yang butuh film dokumenter.

Diharapkan, pengambil keputusan dari institusi bergengsi bisa menemukan film dari Asia Tenggara untuk memperkaya tayangan dokumenter di platform mereka dengan talenta dan perspektif segar.

Kinerja Amelia Hapsari di In-Docs membuat anggota Akademi yang masuk dalam jaringan industri film dokumenter dunia merekomendasikannya untuk jadi bagian Academy of Motion Pictures Arts and Sciences.

“Karena saya direktur In-Docs, mereka melihat kerja saya untuk membawa film-film dokumenter Asia ke dunia. Mereka merasa orang-orang seperti ini harus masuk Academy karena bisa membawa keberagaman di kompetisi Oscar," ujar Amelia Hapsari kepada ANTARA, Jumat (3/7/2020).

“Di kalangan industri dokumenter internasional sendiri, ada banyak orang progresif yang merasa kita harus bawa suara-suara dari dunia ketiga ke taraf internasional," lanjut dia.

2 dari 5 halaman

Internasional

Momen ini terasa pas. Di saat Amelia Hapsari dan rekan-rekannya berusaha agar film dokumenter Indonesia dan Asia Tenggara dapat menjangkau lebih luas, dunia internasional pun sedang memperbaiki diri untuk meningkatkan keragaman. 

Amelia baru mengetahui dirinya menjadi bagian dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences dari orang yang merekomendasikannya. Dia tak tahu profil yang diminta oleh rekannya beberapa waktu lalu ternyata digunakan untuk rekomendasi masuk Academy.

"Orang yang rekomendasikan saya juga baru kirim email sesudah ada pengumuman, dia bilang, 'hahaha, kamu enggak tahu ya kenapa waktu itu aku minta profil sama CV kamu'. Saya enggak tahu", kata Amelia kemudian tertawa.

 

3 dari 5 halaman

Kehormatan

Baginya, ini adalah sebuah kehormatan. Tapi masih terlalu dini untuk terlalu berbangga hati. Perasaannya campur aduk. Sebab, perjalanan film dokumenter untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri pun masih cukup panjang. 

Amelia ingin mengirimkan pesan kepada penonton dan pemangku kepentingan baik itu pemerintah hingga platform video on demand bahwa anggapan film dokumenter tidak bernilai itu salah besar.

"Amat ironis karena sebetulnya di dunia internasional itu mereka punya industri, para pembuat filmnya juga bisa hidup dengan film dokumenter, tidak dianggap nonprofesional, 'oh kamu pembuat film dokumenter' seakan-akan itu sampingan, hanya hobi."

4 dari 5 halaman

Talenta Film

Dalam beberapa tahun terakhir, Amelia menilai ada beberapa talenta film dokumenter Indonesia yang bisa berkembang dan diterima di kancah mancanegara meski jumlahnya masih terlalu sedikit. 

"Masih harus lebih banyak lagi, dukungan dan ekosistem harus lebih terbangun," kata dia.

Hadirnya Amelia sebagai bagian Academy takkan serta merta menjamin film Indonesia bisa masuk ke ajang bergengsi dalam waktu dekat.

5 dari 5 halaman

Hak Suara

Namun, pastinya dia akan menggunakan suaranya untuk memilih film yang betul-betul layak agar bisa masuk ke ajang kompetisi dan menang. 

"Saya harap kemudian saya bisa menggarisbawahi film yang sebetulnya memperjuangkan dan memperlihatkan keberagaman berekspresi," katanya.

(Sumber: Antara News)