Joko Anwar Ungkap Masalah Industri Film Indonesia 20 Tahun Terakhir

Tahun ini, genap dua dekade industri perfilman nasional menggeliat. Joko Anwar memberikan sejumlah catatan kritis demi masa depan film Indonesia.

Diterbitkan 23 Maret 2020, 20:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Joko Anwar berharap, ke depan ada riset mendetail terkait potensi pasar di beberapa kota besar yang jumlah bioskopnya masih minim atau malah tak ada bioskop sama sekali. "Mengingat rasio jumlah layar dengan populasi penduduk negara kita juga masih timpang," ia menukas.

Peran Distributor

Hal lain yang dikritisi Joko Anwar, industri film Indonesia belum punya distributor. Rumah produksi membuat film sekaligus memperjuangkan agar karya mereka bisa mejeng di bioskop. Peran distributor penting, yakni mengurasi film mana yang layak dibeli lalu menjajakannya ke pihak bioskop.

"Di Indonesia, siapa saja istilahnya dapat akses menayangkan film di bioskop. Bioskop menampung karena tak mau dibilang tidak mendukung film dalam negeri. Akibatnya, banyak film yang kualitas dan estetikanya kurang namun bisa tayang. Padahal untuk ke bioskop, orang kan punya effort keluar rumah hingga keluar uang untuk beli tiket. Ini patut kita pikirkan untuk perkembangan industri film Indonesia ke depan," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan