Sukses

6 Lagu Sedih BCL, Tentang Kehilangan Pasangan Hingga Jatuh Cinta Tak Berani Bilang

Liputan6.com, Jakarta - BCL berduka. Suami tercinta, Ashraf Sinclair, meninggal di Jakarta, Selasa (18/2/2020), jelang subuh akibat serangan jantung. Mangkat di usia 40 tahun, Ashraf Sinclair meninggalkan banyak kenangan manis bagi keluarga dan sahabat.

Berbareng dengan kepergian Ashraf Sinclair, warganet ramai membahas lagu-lagu sedih yang melambungkan nama BCL di belantika musik Indonesia. Artikel ini tak bermaksud mengungkit kesedihan sang diva.

Melainkan, menapaki rekam jejak BCL. Berkarier sejak 2004 lewat lagu “Kumerindu” (duet dengan PAS), BCL telah melahirkan banyak hit. Ada 6 lagu sedih BCL yang membuat kita terbawa perasaan. Teriring doa semoga BCL tabah dan tegar melewati musibah ini. Selamat menyimak.

2 dari 7 halaman

1. Saat Kau Pergi (2005)

“Saat Kau Pergi” adalah single pertama dari album soundtrack film Dealova yang dibintangi Jessica Iskandar dan Evan Sanders. Film ini flop di pasar. Ajaibnya, album soundtrack yang ditangani serius oleh Aquarius Musikindo ini terjual 300 ribu kopi lebih dan diganjar plakat platinum ganda.

“Saat Kau Pergi” terasa makin pedih berkat orkestrasi Victorian Philharmonic Orchestra Australia yang elegan sekaligus megah. “Ternyata kau pergi tuk selamanya, tinggalkan diriku dan cintamu. Apa kau melihat dan mendengar tangis kehilangan dariku?” tanya BCL.

3 dari 7 halaman

2. Aku Tak Mau Sendiri (2006)

Setelah menulis “Aku Bukan Untukmu” buat Rossa, Aji Mirza Hakim alias Icha “Jikustik” meracik salah satu balada paling sedih di eranya. “Aku Tak Mau Sendiri” dinyanyikan BCL dengan sederhana, dilingkungi orkestrasi Victorian Philharmonic Orchestra. Liriknya unik. Tak mengeksploitasi sakitnya ditinggalkan.

Icha mengambil subtema, setelah ditinggal pergi, kita bisa apa? Jawabnya, memohon pertolongan Tuhan. “Kirim aku malaikatMu biar jadi kawan hidupku. Dan tunjukkan jalan yang memang Kau pilihkan untukku,” pinta BCL.

4 dari 7 halaman

3. Cinta Sejati (2012)

Kali pertama dirilis sebagai single untuk mengiringi Habibie dan Ainun melenggang di tangga box office, tak disangka lagu ini meledak. BCL menindaklajuti kesuksesan ini dengan merilis album kompilasi The Best of BCL. Selain filmnya sukses, rahasia lagu ini terletak di orkestrasi lembut dan penjiwaan tingkat tinggi BCL.

Soal penjiwaan, Nyonya Ashraf Sinclair ini dikenal mumpuni. Ia berhasil menjinakkan nada-nada liar gubahan Melly Goeslaw. Yang paling diingat dari lagu ini, lirik “Saat aku tak lagi di sisimu, kutunggu kau di keabadian…”

5 dari 7 halaman

4. Kecewa (2008)

Tanpa video klip, “Kecewa” jadi lagu wajib putar di radio sepanjang 2009. Tak ada yang menyangka karya Teguh D. ini meledak. Sesuai judul, banyak orang mengekspresikan sakit hati dengan membawakan lagu ini.

“Kecewa” dikemas dalam format band. BCL ditempatkan sebagai vokalis. Meski demikian, aransemen ini tak membuat sensasi sakit hati berkurang. Yuk, kita nyanyikan bersama lirik berikut ini: Kuingin marah, melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri disini. Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada bahwa hatiku kecewa…

6 dari 7 halaman

5. Cinta Pertama, Sunny (2006)

Bayangkan Anda jatuh cinta pada seseorang yang tak sengaja Anda temui di kedai kopi. Hampir tiap hari Anda melihatnya menghadap laptop. Diam-diam, benih cinta mekar di kebun hati. Anda tak berani bilang cinta. Lebih senang menyimpan rasa dalam hati saja. Suatu sore, berkawan gerimis, di kedai kopi, Anda menatapnya dari meja seberang.

Lalu sayup-sayup terdengar lagu, “Tiap kali aku berlutut, aku berdoa, suatu saat kau bisa cinta padaku.” Jangan heran kalau dada mendadak sesak dan mata berkaca. Sedahsyat itu efek lagu ini. Anehnya, saat dibawakan penyanyi lain, dampaknya tak semenyakitkan itu. Ini signature BCL.

7 dari 7 halaman

6. Jera (2017)

Yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan akibat pengkhianatan, saat ia bahagia dengan orang lain sementara Anda belum bisa move on. “Aku lelah, aku jera. Aku rasa cinta tak berguna. Ingin pergi tapi tak bisa, hatiku masih milikmu,” ungkap BCL di lagu ini.

Suaranya terdengar agak parau seperti kelelahan habis menangis. Di tangan BCL, karya Yovie Widianto ini terdengar lebih dalam. Masih ragu dengan teknik BCL menghayati lagu?

Loading