Hanya Manusia: Tema Langka Untuk Industri, Disertai Sejumlah Catatan Kritis

Hanya Manusia rilisan Divisi Humas Polri mencoba mengisi minornya genre ini.

Diterbitkan 07 November 2019, 20:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aksi atau drama bertema kriminal relatif jarang diusung film Indonesia. Selain merepotkan dari aspek biaya produksi maupun teknis, genre ini terbilang susah dijual di bioskop. Hanya Manusia rilisan Divisi Humas Polri mencoba mengisi minornya genre ini.

Hanya Manusia mengusung tema kriminal spesifik yakni perdagangan manusia. Skenario Hanya Manusia dikembangkan, bersinggungan dengan pelacuran berikut narkoba.

Salah satu yang kami pertanyakan terkait film Hanya Manusia, pilihan pemain. Tak ada bintang laga di barisan pemeran utama. Kami berasumsi titik berat Hanya Manusia ada pada hubungan tokoh utama dengan lawan main, entah itu anggota keluarga, pacar, suami, dan sejenisnya.

Baru belasan menit berlalu, dugaan kami mendekati kebenaran. Film yang ditayangkan mulai Kamis (7/11/2019) ini mengisahkan Annisa (Prisia) salah satu anggota reskrim Ibu kota. Annisa tinggal bersama adiknya, Dinda (Shenina).

Ibunya meninggal. Pun ayahnya yang juga polisi gugur dalam tugas saat mengamankan tawuran. Annisa ditugasi Kompol Angga (Yama) mengusut tewasnya sejumlah gadis dengan tato khas di kaki mereka. 

 

 

Investigasi Annisa

Dari sejumlah riset, dugaan Annisa mengarah pada Jamal (Tegar), informan polisi terkait sejumlah peredaran narkoba. Angga yang menilai bukti-bukti Annisa kurang kuat tak mau percaya. Begitu pula Iptu Aryo (Lian).

Tak menyerah, Annisa terus melacak. Kecurigaan menemukan titik terang di sebuah restoran masakan Tiongkok. Bersamaan dengan itu, Annisa menerima telepon. Dari ujung telepon, ia mendengar suara Dinda yang ketakutan. Dinda memberi pesan aneh, ingin liburan ke tempat yang dulu pernah dikunjunginya bersama almarhum ayah.

 

 

Melacak Jamal

Tiga pilar yang menggerakkan cerita Hanya Manusia yakni, perdagangan manusia, pertalian Annisa dengan Dinda, dan chemistry-nya dengan Iptu Aryo yang masih malu-malu. Penekanannya terletak pada perdagangan manusia yang berfokus pada pencarian.

Di sinilah masalahnya. Pencarian digambarkan dengan upaya melacak Jamal lewat beberapa tokoh lain, lalu mengerucut pada beberapa nama penting yang tak elok kalau kami sebutkan di sini. Anda bisa saksikan sendiri. Pencarian ini kurang tergarap dengan seru.

 

 

Lemah dalam Eksekusi

Sejumlah adegan baku hantam di film ini kurang meyakinkan. Pertarungan dua lawan satu dengan senpi, lebih banyak menampilkan permainan sudut pandang kamera sehingga kurang greng. Dan lagi-lagi, pencarian membuat kita bertemu banyak tokoh yang terbagi dalam babak-babak kecil lalu berakhir begitu saja.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Ini sebenarnya bisa diakali dengan persembahan babak akhir yang dikemas kolosal. Elemen kolosalnya sudah ada, yakni puluhan polisi berikut armada dan persenjataan lengkap. Populasi villain-nya pun tak kalah banyak dan garang. Ditambah, TKP yang melibatkan alat-alat berat. Lagi-lagi, Hanya Manusia lemah di aspek eksekusi.      

Halaman
Show All
Liputan6.com, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan