Gemini Man: Pertarungan Dua Will Smith dengan Eksekusi yang Kurang Gereget

Menilik trailernya, Gemini Man berikut tema klona diproyeksikan jadi film futuristik dengan efek visual menawan dan konflik tanpa ampun.

Diterbitkan 10 Oktober 2019, 10:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Gemini Man, salah satu film dengan premis paling menjanjikan tahun ini. Mengusung tema klona yang diajukan lewat pertanyaan, bagaimana jika seseorang digandakan atau punya kembaran dalam versi lebih muda dan tangguh.

Menilik trailernya, Gemini Man berikut tema klona diproyeksikan jadi film futuristik dengan efek visual menawan dan konflik tanpa ampun. Apalagi, Gemini Man digarap sineas peraih dua piala Oscar, Ang Lee. Siapa sangka, trailer menipu. Penceritaan Gemini Man memuat ketegangan yang tak bertahan lama.

 

Gemini Man memulai kisahnya dengan misi Henry Brogan (Will Smith) menembak seorang teroris Rusia yang tengah berada di dalam kereta api supercepat dari jarak 2 kilometer.

Meski kereta melaju dengan kecepatan 238 kilometer per jam, tembakan Henry menembus leher teroris. Usai menjalankan misi, Henry pensiun lalu menyepi di sebuah kapal bersama koleganya, Jack Wills (Douglas Hodge). Jack memberi tahu Henry, yang ditembak mati di kereta bukan teroris melainkan ahli biologi AS yang telah mengabdi selama lebih dari 30 tahun.

Mendengar ini, Henry syok berat. Ia makin curiga saat menyadari perbincangannya disadap dan diawasi Danny (Mary Elizabeth Winstead). Sejak itu hidupnya tak tenang. Danny dan Henry diburu pasukan pembunuh. Keduanya ditolong Baron (Benedict Wong).

Saat kabur, seorang penembak jitu bernama Junior (Will Smith) berupaya membunuh Henry. Wajahnya mirip Henry. Danny menduga, Junior anak Henry. Rupanya, Junior adalah Henry versi 25 tahun lebih muda. Ia hasil klona laboratorium yang dipimpin Clay (Clive Owen). Henry yakin atasannya, Janet Lassiter (Linda Emond) terlibat skandal ini. 

Teledor

Dimulai dengan adegan penembakan yang bikin deg-degan. Dilanjutkan dengan pengejaran dan upaya pembunuhan. Sepertiga awal Gemini Man membuat kita terus bertanya skandal macam apa yang membelit sebuah negara hingga pemerintah sampai hati membunuh abdinya sendiri.

Sayang, naskah Gemini Man tak mengizinkan kita asyik berkubang di lumpur skandal sambil mencari petunjuk lebih banyak. Gemini Man dengan teledor memberikan kata kunci, yang membuat kita tahu apa yang sebenarnya terjadi di pertengahan film.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Tak masalah membongkar dalang di tengah film. Asalkan menit-menit sisanya berisi penguraian sisa simpul rumit berikut penyelesaian dengan klimaks yang bikin dengkul penonton lemas. Apes, Gemini Man tak punya peluru-peluru itu. Saat kita tahu proyek Gemini dan dalangnya, saat itu pula cerita seolah tak beranjak ke mana-mana. Kemajuan alur ada, namun ketegangan mengendur. Naskahnya di paruh kedua seperti orang bernapas megap-megap. Pertanyaan konyol seperti “Kenapa kamu selalu tahu ke mana kami berada?” muncul. Dijawab pula dengan polos oleh lawan main. Padahal, bukankah dalam film spionase atau fiksi ilmiah hal semacam ini lazim terjadi? Interaksi tokoh utama dengan produk klonanya pun tak tergarap dengan apik. Tak ada emosi dan pergolakan batin yang meyakinkan di sana. Emosi yang muncul akibat dilema mengasup dua versi informasi malah lebih menyentuh ketimbang pertemuan Henry dengan musuh yang paling dinanti. Inilah problem paling mendasar Gemini Man. Belum lagi penyelesaian konflik sebesar ini terasa ya sudah begitu saja.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan