Film Abigail: Visual Menarik, Sayang Konflik dan Klimaksnya Kurang Tajam

Bagi yang senang mencicipi film dari berbagai negara, Abigail menambah perbendaharaan Anda.

Diterbitkan 19 September 2019, 15:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Salah satu pilihan alternatif di bioskop pekan ini, Abigail. Film produksi Rusia dengan nuansa petualangan aksi fantasi berbasis drama keluarga yang kuat. Ada sentuhan sejarah dengan membatasi alur hidup tokohnya pada kurun waktu tertentu.

Ini membuat Abigail punya karakter dan peradaban sendiri. Pendek kata, Abigail menciptakan dunianya sendiri. Abigail membawa Anda pada sistem masyarakat dengan masalah, struktur, dan fungsinya. Lantas, semenarik apa film Abigail di mata penonton Indonesia?

 

Abigail (Kaitlyn McCormick), gadis yang masa kecilnya kurang beruntung. Ayahnya, Jonathan (Eddie Marsan) ilmuwan yang cerdas, sementara ibunya, Margaret (Tsenia Kutepova), ibu rumah tangga murni. Suatu malam, keluarga kecil ini menerima kunjungan Garrett (Artyom Tkachenko). Garrett rekan kerja Jonathan sejak lama.

Sayangnya, sejak dikunjungi Garrett, Jonathan tak pernah kembali. Margaret tahu, suaminya ditangkap dengan dalih terinfeksi kusta meski tak ada pemeriksaan dan diagnosis yang jernih. Kepergian Jonathan, pukulan berat bagi Abigail cilik. 

Perlawanan Abigail

Beranjak remaja, Abigail (Tinatin Dalakishvili) yang tumbuh menjadi gadis tertutup, berupaya melacak keberadaan ayahnya. Ia lantas bertemu dengan Bale (Gleb Bochkov) dan komunitas yang diduga terinfeksi.

Pertemanan dengan mereka membuat Abigail menyadari, ada yang salah dengan penangkapan sejumlah orang yang diduga terinfeksi. Abigail menyusun rencana untuk membuat perlawanan terhadap sistem. Perlawanan ini dibuat berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan sang ayah sebelum ditangkap.

Plus Minus

Kesan pertama menonton Abigail, ada plus minus yang menyolok. Sisi plusnya, sineas Aleksandr menyajikan hubungan ayah dan anak yang intens, memperlihatkan emosi yang terus menanjak, dan makin lama makin tak berjarak meski di tengah jalan keduanya terpisah.

Ikatan emosi dijalin dari percakapan sebelum tidur, tebak-tebakan, menggambar sketsa, hingga adegan dramatis penangkapan yang mencerminkan rasa kehilangan. Akting Eddie sebagai ayah terbilang meyakinkan.

Ini tampak jelas dari cara Eddie menatap si buah hati yang terasa mengayomi, sabar, dan sayang. Aktris cilik Kaitlyn di luar dugaan mampu mengimbanginya. Di beberapa adegan Kaitlyn centil, penuh pertanyaan, dan menyerap ajaran ayahnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Sayangnya, Tinatin tak mampu melanjutkan sifat dasar Abigail cilik. Ekspresinya cenderung datar. Caranya berargumen dan menarik kesimpulan tak serta merta meyakinkan kita bahwa Abigail sosok terpilih dan membawa perubahan. Karakternya kurang tangguh.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan