Perburuan: Karya Richard Oh Yang Paling Mudah dan Enak Diikuti

Pada 15 Agustus 2019, tiga film Indonesia dirilis di bioskop, yakni Bumi Manusia, Makmum, dan Perburuan.

Diterbitkan 20 Agustus 2019, 12:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Air Mata Menggenang

Misalnya, saat seorang tokoh membahas Tanah Air. Gambar yang muncul mengikuti unsur-unsur yang disebutkan. Terasa lincah dan selaras. Adipati Dolken yang memimpin cetita tampil konsisten, tak banyak bicara, namun sayangnya juga tampak seperti tak punya daya. Sebagai pelarian, hingga di titik akhir film ia tampak tak berdaya. Grafik hidupnya terasa menurun dan dramatis. Ia membuat Perburuan ini semakin pilu. Tokoh lain seperti Ningsih tampak tenang dan Dipo (Ernest Samudra) meledak-ledak. Ledakan ini juga tertahan lama.  

Perburuan di tangan Richard Oh tak serta merta memperlihatkan kehebohan atau adegan kolosal. Penokohan dan sebagian konfliknya dikemas menyerupai pertunjukan teater. Salah satu adegan yang terasa teaterikal terjadi di pertengahan film. Hardo bersembunyi di sebuah gubuk, lalu si pemilik gubuk yang sudah sepuh dan pandangannya kabur datang. Percakapan tentang seorang anak, nostalgia soal istri, dan bagaimana ibu memandang putranya terasa amat menyentuh. Suasananya hening namun emosinya menusuk. 

Perburuan ditutup dengan adegan yang membuat mata berlinang. Di sanalah, emosi sejumlah tokoh yang tadinya terasa malu-malu alias kalem akhirnya tumpah. “Ayo kawan, bunuh aku!” teriak seorang tokoh di depan beberapa penduduk sipil yang memegang tombak dan bambu runcing. Momen dramatis ini muncul setelah seseorang menjatuhkan bendera Jepang ke tanah lalu mengibarkan sang merah putih. Penutupan yang mengentak dan membuat air mata menggenang. 

Bagi kami, Perburuan dengan alur linear menjadi karya Richard yang paling mudah dan enak diikuti. Menyenangkan, melihat film bertema cinta Tanah Air dikemas sederhana, jauh dari ingar-bingar perang dan desau timah panas, kotbah seputar nasionalisme, atau cinta yang manja. Bisa jadi karena kesenyapan inilah Perburuan kurang mendapat respons positif. Padahal, di film ini Richard lebih simpel dan komunikatif. Atau mungkin karena posternya kurang heboh? (Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan