Doremi and You: Tentang Hati, Empati dan Bunga Toleransi di Kebun Pertiwi

Tak hanya naskah asli yang sederhana dan menyejukkan, Doremi and You dibekali lagu soundtrack dengan lirik berpetuah.

Diterbitkan 17 Juni 2019, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda menonton film anak-anak buatan dalam negeri dan pulang dengan hati hangat? Jika jawabannya hampir tak pernah, Doremi and You (ditulis Doremi & You) bisa jadi akan mengobati rindu Anda dengan film anak Indonesia yang berkualitas.

Tak hanya naskah asli yang sederhana dan menyejukkan, Doremi and You dibekali lagu soundtrack dengan lirik berpetuah. Hampir semua karakter di Doremi and You tampil dengan takaran pas, dramatisasinya pun tidak lebai.

Doremi and You menampilkan empat sekawan, yakni Putri (Naura), Imung (Fatih), Anissa (Nashwa), dan Markus (Toran). Keempatnya siswa SMP Bhinneka Jaya. Kehidupan mereka baik-baik saja sampai suatu hari, Putri mengajak teman-temannya melakukan swafoto dengan latar sawah menggunakan ponsel anyar Imung.

Agar hasil jepretan ciamik, ponsel Imung ditaruh di sedel sepeda. Lalu sepeda itu diparkir di tepi sungai. Apes, sepeda itu ambruk. Putri dan kawan-kawan berupaya menyelamatkan ponsel Imung.

Celakanya, tas Markus terbuka. Isi tas termasuk uang sejuta rupiah hasil iuran jaket kelompok paduan suara hanyut terbawa arus sungai. Putri dan teman-teman memutar otak untuk mencari uang pengganti iuran jaket.

Tercetus ide mengikuti ajang pencarian bakat Doremi and You yang berhadiah Rp 10 juta. Putri lantas melobi kakak kelasnya, Reno (Devano), agar mau mengajarinya aransemen musik dan pembagian suara. Putri tak menyadari, Reno punya rencana lain di balik semua ini.

Tanpa Ekspektasi

Kami menonton Doremi and You tanpa ekspektasi apa pun. Bahkan, tanpa mencari informasi terkait sinopsis, pemain, dan kru di balik film ini. Menonton tanpa informasi dan ekspektasi macam-macam ternyata asyik juga. Kami kaget ternyata ini film musikal.

Dibuka dengan lagu “Hari Ini Indah” yang energik, cerita bergulir dengan topik sederhana tentang mencari cara memenangkan lomba. Sebuah topik klise lantaran sudah banyak film dalam dan luar negeri bertema serupa.

>Yang menarik, semangat keragaman yang sejak awal diusung BW Purbanegara dan Jujur Prananto. Semangat ini tergambar jelas pada latar belakang (suku) para tokoh utama hingga warna sepeda yang mereka pakai untuk beraktivitas.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Suntikan isu keragaman ditata rapi. Anissa yang dari Sumatera Utara misalnya, diceritakan tinggal di Yogyakarta bersama pamannya. Ia bisa sekolah di Jawa karena mendapat beasiswa yayasan. Sementara Markus, ikut ayahnya mengadu nasib sebagai pengusaha badut pertunjukan.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ruly Riantrisnanto, Fadjriah NurdiarsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan