'LA Indie Movie' Gelar Nonton Bareng 8 Film Indie

Acara ini merupakan pengembangan potensi kreator Film Muda di Indonesia

Diterbitkan 25 Maret 2016, 02:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kemudian mereka melanjutkannya ke proses syuting dan post production hingga lahirlah karya sineas-sineas muda LA Indie Movie ini. Delapan film indie yang dimunculkan kali ini merupakan hasil dari sebuah proses yang dilakukan komunitas LA Indie Movie. Lewat idenya, para sineas muda dengan dukungan LA Indie Movie berhasil membuat 8 karya film dengan judul: “Speelwijk”, “Frekuensi, Mitos”, “Reportase”, “Deadline”, “Wawancara”, “Bye Bye FB Boy”, dan “Eat, Love and Laugh”.

Baca Juga

    ">
  • REVIEW BALINALE 2014: Urbanis Apartementus & Generasi Baru Sineas
  • Ada Tantangan Baru di L.A Light Indie Movie ke-7
  • Grand Final Vidio.com Music Battle, Lynx Tampil ala Band Indie
  • Dari 8 film indie yang lolos seleksi, 3 kelompok sineas muda mengusung tema komedi dan 5 karya lainnya menghadirkan karya film bergenre horor. Selain mendapatkan mentor sutradara terkenal, sejumlah tim juga mendapatkan dukungan beberapa nama aktor yang cukup dikenal. Mereka terlibat aktif mendukung dalam proses pembuatan film dari 8 tim sineas-sineas muda ini.

    Tiga dari 8 karya film yang berhasil lolos seleksi LA Indie Movie merupakan karya film bergenre komedi, yaitu “Wawancara” (Adjis Doa Ibu), “Eat, Love and Laugh” (Rifky Rahman), dan “Bye bye FB Boy” (Irwan Ibrahim). Tim CES Production yang merupakan sekumpulan mahasiswa kreatif dari Jakarta misalnya, mereka memunculkan judul film pendek “Eat, Love, & Laugh” dengan mengambil latar cerita seorang pemuda pas-pasan yang membuktikan cintanya dengan mengajak kekasihnya membangun makan romantis sederhananya di kandang sapi. Sejumlah stand comedy seperti Kemal Pahlevi, Arif Didu, Fico, dan McDanny juga terlibat dalam pembuatan karya film pendek berjudul “Wawancara” yang bercerita tentang seorang pelamar kerja yang menyulitkan dirinya sendiri karena kejujurannya ketika menjalani wawancara mendapatkan pekerjaan.

    Sementara itu film berjudul “Bye bye FB Boy” mengangkat unsur komedi mengenai polemik pencarian jodoh melalui media sosial.

    Selain genre komedi

    , 5 karya merupakan genre horor dari sineas muda yaitu “Speelwijk” (Darwin Mahesa), “Frekuensi” (Fathan Tri Kurniawan), “Reportase” (Cindy Octaviany), “Deadline” (Firdy Tanjung), dan “Mitos” (Jody Suhendra).

    Di balik film “Speelwijk”, sejumlah anak muda asal Banten mencoba menghidupkan sebuah legenda era kolonial secara kekinian. Disusul dengan kisah “Mitos” yang mengangkat cerita mitos dari foto selfi bertiga ke dalam sebuah film pendeknya dengan didukung aktris Jill Gladys.

    Sementara itu dalam film “Reportase” garapan Tim Kam-siah Production, pencinta film indie dapat melihat kemampuan akting sosok pembaca berita Tommy Tjokro yang turut terlibat dalam karya film horor yang melakukan pengambilan gambar di ruang kuliah yang diset menjadi lorong rumah sakit.

     Pembaca Berita Tommy Tjokro berakting dalam

    "LA Indie Movie bukan menca

    ri sineas muda, tapi menciptakan sineas-sineas muda dari berbagai gagasan menariknya dengan dukungan mentor sutradara yang cukup dikenal dan beberapa aktor/aktris Indonesia yang memiliki semangat mengembangkan perfilman Indonesia dari sebuah komunitas film indie, LA Indie Movie," tambah Ita Sembiring.

    Tim ATV asal Yogyakarta misalnya yang mengangkat tema horor melalui “Deadline”. Kisah “Deadline” berawal dari candaan sepasang kekasih yang sedang kasmaran yang berakhir tragis didukung aktor Yama Carlos. Kemudian sekumpulan anak muda Yogyakarta lainnya didukung Widi Dwinanda aktris peraih penghargaan Pemeran Utama Wanita Terpuji Festival Film Bandung membangun tema horor melalui “Frekuensi” yang sempat mendapatkan pengalaman menarik melakukan pengambilan gambar di rumah jagal hingga larut malam.

    Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

    Halaman
    Show All
    Aditia SaputraTim Redaksi
    Share
    Copy Link
    Batalkan