Saat Malam Puncak Festival Film Bandung Seperti Acara Agustusan

Ini tahun ke-empat SCTV menyiarkan live malam puncak FFB.

Diterbitkan 12 September 2015, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Penyanyi Judika Nalon Abadi Sihotang atau biasa dipanggil Judika menjadi salah satu pengisi acara malam puncak Festival Film Bandung (FFB) 2014 yang digelar pada 13 September 2014. (Liputan6.com/Panji Diksana)

Jangan bayangkan sebuah festival meriah mirip Festival Film Cannes atau Academy Awards yang menggelar karpet merah buat para artis yang berdatangan. Atau jangan pula mengira terjadi keramaian di Bandung menyambut festival ini. Tak ada pemutaran film khusus di pusat keramaian atau ada pawai jumpa fans dengan bintang-bintang yang jadi nomintor peraih piala. Bandung adem ayem saja menyambut FFB 2006.

Jangan pula mengira FFB digelar di sebuah tempat mewah. Panggung di ujung ball room yang jadi pusat perhatian cuma dilatarbelakangi kain hitam dan layar besar. Malam itu, FFB membagi piala pada film-film dan sinetron yang tayang di TV dan bioskop di Bandung sepanjang tahun. "Sampai Maret tahun (2006) ini,” kata ketua umum FFB Eddy D. Iskandar, novelis dan penulis skenario kawakan.

Pada FFB 2006 waktu itu, Berbagi Suami merajai perolehan piala untuk film dengan memborong 6 piala (Film, sutradara, skenario, tata artistik, pemeran pembantu wanita, dan pemeran utama wanita). Sedangkan Kiamat Sudah Dekat merajai kategori sinetron lewat 5 piala yang diperoleh (sinetron drama, penyunting, skenario, sutradara, dan pemeran anak).

Meriam Bellina mengaku tak menyangka mendapat penghargaan di Festival Film Bandung 2014.

Di malam penyerahan anugerah FFB itu, kebanyakan peraih piala tak datang mengambil penghargaan atas kerja mereka. “Hal itu memang kami sayangkan,” kata Eddy. Yang saya ingat betul, artis-artis yang datang langsung ditodong jadi pembaca pengumuman di panggung.

>Kendati demikian, tak berarti FFB bukan ajang penting buat tolak ukur penilaian karya terbaik sineas anak negeri (di TV maupun film). Sebuah festival yang sudah berlangsung tanpa henti, bahkan ketika perfilman dianggap mati suri, jelas bukan ajang main-main.

Bahkan kala pemerintah Orde Baru meminta FFB mengubah nama jadi Forum Film Bandung karena alasan mengada-ada (kata “festival” itu cuma milik Festival Film Indonesia), festival ini tetap jalan. Andai FFB digelar lebih meriah bak festival sebenar-benarnya, ajang ini bakal bicara banyak, tak cuma jadi ajang bagi-bagi piala mirip malam perayaan 17 Agustusan.

Konsistensi dan menjaga reputasi sebagai ajang penghargaan yang minim kontroversi yang bikin gaduh kemudian membuat Festival Film Bandung dilirik stasiun TV. FFB kini lebih meriah dan jadi ajang penghargaan perfilman tingkat nasional. Selamat berpesta di FFB, insan film dan TV.** (Ade/Mer)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan