Islam Indonesia di Mencari Hilal dan Surga yang Tak Dirindukan

Bagaimana wajah Islam Indonesia digambarkan di dua film libur Lebaran 2015, Mencari Hilal dan Surga yang Tak Dirindukan?

Diterbitkan 22 Juli 2015, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta PERINGATAN: SPOILER ALERT! Esai film ini, selain panjang, juga membincangkan inti cerita dua film yang edar di libur Lebaran tahun ini, Mencari Hilal dan Surga yang Tak Dirindukan. 

I.

Saya masih ingat pernah mewawancarai Manoj Punjabi, bos MD Pictures di kantor lamanya di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 2013 silam. Di ruangannya yang luas, saya menanyai Manoj soal proses pembuatan film Ayat-ayat Cinta yang rilis 2008 untuk membantu seorang kawan yang sedang melakukan penelitian tentang film Islam/islami.

Saya masih ingat alasannya mengadaptasi novel karya Habiburrahman El-Shirazi itu ke layar lebar. Katanya, novel Ayat-ayat Cinta memiliki potensi sebuah melodrama yang bakal mengharu biru penonton.

Yang ia maksud melodrama di novel tersebut adalah bagian saat tokoh utamanya, Fahri kemudian melakukan poligami pada dua wanita yang mencintainya, Aisha dan Maria.

Film remaja Ayat-ayat Cinta.

Dan memang, ketika filmnya jadi, bagian poligami tersebut menjadi momen dramatis yang ditekankan pada klimaks film. Di filmnya, Fahri (Fedi Nuril) terpaksa melakukan praktek poligami dengan Aisha (Rianti Cartwright) dan Maria (Carissa Putri).

Praktek poligami juga kemudian menjadi tema utama film yang baru dirilis Manoj di musim libur Lebaran tahun ini, Surga yang Tak Dirindukan. Tujuh tahun pasca Ayat-ayat Cinta berhasil mengharu biru penonton hingga mendatangkan 3,7 juta orang ke bioskop, Manoj tampaknya ingin mengulang suksesnya dahulu.

Berhasilkah ia mengulang sukses rekor jumlah penonton Ayat-ayat Cinta dahulu? Hm, bukan hal itu yang jadi fokus tulisan ini. Saya lebih tertarik menganalisis bagaimana potret keberislaman Indonesia direpresentasikan lewat film Surga yang Tak Dirindukan.

Selain itu, di momen yang sama, beredar pula film bertema Islam lain di bioskop, Mencari Hilal karya Ismail Basbeth. Sungguh menarik melihat betapa bedanya Islam Indonesia ditunjukkan dalam dua film tersebut.

Dari pra-Islamisasi ke post-Islamisasi di Indonesia

II.

Baiknya memulai dengan menjawab pertanyaan, kenapa film bertema religi terus dibuat sejak 2008 hingga kini? Apa hubungan kelahiran film-film religi sejak 2008 dengan kondisi masyarakat Islam di Indonesia kontemporer?

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Ada buku bagus yang edisi terjemahannya baru beredar untuk menjawab pertanyaan krusial di atas. Judulnya Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (KPG, Juni 2015) yang ditulis Ariel Heryanto. Di salah satu bab buku tersebut, Ariel menjelaskan kelahiran Ayat-ayat Cinta pada 2008 tak terlepas dan kondisi sosio-politik Indonesia saat itu. Kondisi yang dimaksud adalah periode yang disebutnya post-Islamisme. Teori ini dipinjamnya dari telaah Asef Bayat yang menganalisis kondisi sosial-politik di Timur Tengah pada 2000-an. Kata Ariel, apa yang terjadi pada kecenderungan konsumsi budaya popular di Iran, Mesir dan banyak negara Timur Tengah lain paralel dengan yang terjadi di Indonesia kini. Menurut Ariel, kebangkitan kaum menengah Muslim pada 2000-an hingga kini adalah fenomena global. Dan terdapat pola yang mirip di antara negara mayoritas penduduk Muslim. Jika meminjam periodisasi post-Islamisme Bayat, Indonesia telah memasuki berbagai tahapan Islamisasi sesuai kondisi sosio-politik yang dilalui bangsa ini. Kita bisa menyebut di masa Orde Baru Soeharto, terutama di tahun 1970-an dan 1980-an, dengan pra-Islamisasi. Saat itu, Islam dianggap musuh oleh rezim. Partai Islam dan Islam politik disingkirkan, dianggap ancaman kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tentu ingat, Islam politik dianggap ekstrem kanan, yang sama berbahayanya dengan ekstrem kiri (baca: komunis) bagi rezim Orde Baru. Di periode ini pula berbagai gesekan rezim dengan Islam terjadi, mulai dari Komando Jihad, tragedi Tanjung Priok, pemboman Borobudur dan BCA hingga tragedi Lampung. Kemudian memasuki 1990-an, Soeharto mengambil langkah politik 180 derajat dari sebelumnya. Ia merangkul kalangan Islam dengan mendirikan ICMI serta disimbolkan pula dengan ia naik haji. Islam diberi tempat dalam kancah perpolitikan nasional. Periode ini bolehlah disebut Islamisasi. Namun, Islamisasi Soeharto toh tak bisa menyelamatkannya dari kejatuhan di tahun 1998. Seketika umat Islam kehilangan pelindungnya. Namun, di masa itu, Islamisasi tak bisa lagi dibendung apalagi diberangus. Tanpa patron politik, Islam toh tetap menjadi pemenang percaturan politik di awal era Reformasi. Gerakan politik Poros Tengah yang digagas Amien Rais mampu menjegal Megawati Soekarnoputeri, yang partainya jadi pemenang Pemilu 1999, ke tampuk kekuasaan. Kemenangan Abdurrahman Wahid (dan kemudian pula kejatuhannya) adalah bukti kemenangan politik Islam. Setelah kemenangan politik Islam, ada fenomena menarik yang terjadi di masyarakat Muslim Indonesia. Melihat kecenderungan dunia politik yang kotor, korup dan penuh rekayasa demi kepentingan pribadi dan golongan, lambat laun—entah disadari atau tidak—warga Muslim Indonesia menjauh dari Islam politik. Yang dikejar warga Muslim Indonesia bukan lagi pencapaian politik (baca: presiden islami atau partai Islam berkuasa di parlemen), melainkan kesalehan pribadi. Di masa ini, utamanya memasuki dekade 2000-an, bermunculan pendakwah-pendakwah yang tak lagi mendengungkan umat Islam harus berkuasa secara politis, tapi memfokuskan umat Islam harus saleh, rajin ibadah, dan menjalankan pola hidup islami secara individual. Di masa itu, kita melihat tumbuhnya para pendakwah macam Aa Gym, Jeffri Al-Buchori, Yusuf Mansyur dan Arifin Ilham. Mereka memanfaatkan dengan jenius perangkat komunikasi modern (utamanya televisi) untuk merengkuh umat. Tumbuh di era televisi pun kemudian membuat mereka dipuja bak rock star dan jadi selebriti, bukan lagi sekadar pendakwah. Gaya berpakaian mereka, misalnya, mencipta tren tersendiri. Di sinilah umat Islam Indonesia telah memasuki periode post-Islamisasi. Di saat periode ini dimulai, masyarakat Indonesia merasakan kemunculan kelas menengah baru yang jumlahnya begitu banyak. Konsep kelas menengah baru ini tentu saja problematis. Sebab, berbeda dengan konsep kelas menengah sebagai katalisator perubahan sebagaimana diteorikan para sosiolog, kelas menengah baru Indonesia lebih merupakan buah keuntungan jumlah usia produktif yang masif atau bonus demografi, hingga yang terlihat lebih merupakan pola konsumsi mereka yang meningkat. Para ekonom kemudian merasa lebih pas menyebut mereka sebagai kelas konsumen baru. Nah, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, otomatis pula mayoritas kelas menengah baru/kelas konsumen baru ini beragama Islam. Datanya seperti ini. Menurut Bank Pembangunan Asia (ADB), kelas menengah adalah kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp 24-240 ribu sehari. Selama kurun waktu 1999-2009, jumlahnya melonjak hampir dua kali lipat. Kini jumlahnya diperkirakan 130 juta orang atau sekitar 60 persen dari jumlah penduduk Indonesia dan terus bertambah 8-9 juta orang per tahun. Karena 87 persen lebih penduduk Indonesia adalah Muslim (sensus 2010), maka kaum Muslim jelas mendominasi kelas ini (Tempo, 3 Agustus 2014). Kelas menengah baru Muslim ini kemudian mempraktekkan gaya hidup modern tanpa harus melepas ketakwaan mereka sebagai umat Islam. Mereka umumnya berhijab tapi tetap bergaya; mereka mengonsumsi kosmetik halal; mereka menyekolahkan anak-anak mereka bukan di pesantren tradisional, tapi sekolah Islam modern unggulan; mereka hobi berwisata umrah; serta tak lupa pula rajin berzakat dan bersedekah. Bagi golongan ini menjadi saleh bukan berarti harus melepas tata cara hidup modern.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Firli Athiah NabilaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan