Separuh 2015 Milik Chelsea Islan, Bagaimana Separuhnya Lagi?

Menengok karier film Chelsea Islan di separuh 2015 dan bagaimana masa depannya?

Diterbitkan 08 Juli 2015, 14:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Baca juga: REVIEW Merry Riana

Adegan film Di Balik 98 (dok.MNC Pictures)

Baca juga: REVIEW Di Balik 98

Syahdan, sukses Merry Riana nangkring di peringkat 4 Box Office Indonesia tahun kemarin, dengan penjualan tiketnya tembus 708.592 orang, sedikit banyak berkat peran Chelsea yang mampu mengeksekusi karakter tersebut dengan total (selain karena ceritanya yang memang sangat menjual). Januari 2015, selisih kurang dari 1 bulan, film Di Balik 98 tayang dan juga langsung beroleh hasil positif. Tak kurang ditonton 648.947 orang--tertinggi hingga Juni 2015.

 

 

Chelsea Islan dan Skandal Videonya

Chelsea Islan dan Skandal Videonya

Lalu munculah sesuatu yang tak diduga-duga dan nyaris menghancurkan karir cemerlang yang baru Chelsea bangun.

Seperti kata pepatah, “Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula anginnya”. Maret 2015, menyeruak video ganti baju yang wajahnya menyerupai Chelsea Islan. Namun Chelsea yang sempat 'menghilang' saat kasus ini muncul, dengan lantang mengakui bahwa itu benar dia. Orang lalu tak jadi mencibir, justru pujian mengalir deras. Dan terbukti skandal tersebut sama sekali tak mempengaruhi eksistensinya di dunia akting.

>Baca juga: Video Buka Baju Artis-artis Cantik Ini Sempat Menghebohkan 

Terakhir April 2015, ia main di film besar yang digadang-gadang akan membuatnya makin berkilau, Guru Bangsa: Tjokroaminoto, biografi tokoh pergerakan Indonesia, HOS Tjokroaminoto yang disutradarai Garin Nugroho. Perannya di film ini memang tak cukup besar. Tapi kita makin tahu, ia tak asal ambil film. Pilihan filmnya rata-rata bukan film murahan atau film yang berpotensi menarik atensi penggila film lokal.

Chelsea Islan di film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. (dok.Youtube)

Kini, Chelsea tengah disibukkan dengan syuting film 3 Srikandi (main bareng Bunga C. Lestari dan Tara Baso), biopik tentang tiga atlet panahan Indonesia yang meraih medali emas di ajang Olimpiade Seoul 1988. Juga remake film Thailand berjudul I Fine.. Thank You.. Love You.. yang memasangkannya dengan aktor berbakat dari Supernova, Hamish Daud. Dua film ini diproduksi oleh PH yang sama, MVP Pictures.

Dengan deretan film bermutu yang telah ia mainkan dan film-film baru yang segera tayang, apakah Chelsea Islan bakal meruntuhkan 'kutukan' artis yang hanya bisa berada di puncak popularitas dalam 1-2 tahun lalu tumbang? Dan mungkinkah dari film-filmnya yang telah dan akan tayang tahun ini, ia bisa menggenggam piala Citra, supremasi tertinggi yang diraih seorang aktris?

 

 

Bagaimana Agar Chelsea Islan Terus Bersinar?

Bagaimana Agar Chelsea Islan Terus Bersinar?

Sebelum menjawab itu, perlu dicari tahu sebabnya kenapa umur popularitas aktor atau aktris di negeri ini hanya setahun-dua tahun.

Bila Anda perhatikan, dalam setahun-dua tahun puncak popularitas, seorang aktris atau aktor bakal memaksimalkan dirinya main film. Coba tengok,misalnya Lukman Sardi, di puncak popularitasnya tahun 2007 dan 2008, ia main film masing-masing lima dan delapan film. Hal itu juga dialami Abimana Aryasatya yang ketika namanya booming di tahun 2012 dan 2013 total main sembilan film. Di deretan aktris, saat berada di puncak kariernya tahun 2013 dan 2014, Acha Septriasa total main enam film.

Setelahnya, tak banyak film yang mereka bintangi. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal itu. Pertama, dari sisi internal, si aktor/aktris merasakan lelah dan ingin mengurangi jumlah film yang ia bintangi dalam setahun. Ia mungkin ingin bersantai, tak ngoyo cari uang. Kedua, faktor eksternal, yaitu kebanyakan film yang mereka bintangi pada gilirannya tak mendatangkan untung sesuai ekspektasi produser. Alhasil, produser pun mencari bintang lain untuk proyek mereka berikutnya.

Chelsea Islan [Foto: Faisal R. Syam/Liputan6.com]

Balik ke Chelsea Islan, sangat mungkin ia akan bernasib seperti aktris dan aktor kita lainnya yang hanya meraih puncak popularitas setahun-dua tahun. Di sini, strategi memilih proyek film sangat diperlukan. Tak perlu dalam setahun main sampai di atas lima film. Dengan begitu penonton cepat bosan, dan risiko ada film yang flop akan membuat produser alergi.

Chelsea telah membuktikan bahwa separuh tahun 2015 adalah miliknya. Ia berpotensi menguasai separuhnya lagi dengan dua film besar miliknya yang siap tayang. Ia bisa jadi matahari yang terus bersinar di jagat perfilman kita. Tapi matahari juga bisa redup. Hal itu yang ia harus waspadai. (Puj/Ade)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Puji Astuti HPS, Ade IrwansyahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan