Catatan dari Korban PHP Film `Di Balik 98`

Film Di Balik 98 ternyata tak segagah judulnya. Film debut karya Lukman Sardi ini memilih bermain aman.

Diterbitkan 15 Januari 2015, 13:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tahun 1998, sebagaimana 1966, adalah salah satu titik perhentian penting kita sebagai bangsa. Di tahun itu, kita melihat sebuah gejolak sosial dan politik yang pada gilirannya mengubah arah perjalanan bangsa ini, mengakhiri sebuah zaman lama (Orde Baru) dan memulai zaman baru.

Maka, ketika ada sineas mengangkat gejolak sosial politik tahun 1998 dan memilih judul Di Balik 98, ekspektasi yang muncul adalah filmnya membeberkan apa yang terjadi di balik gejolak di tahun itu.

Hal itu, misalnya, yang rasanya membuat film ini jadi perbincangan ramai bahkan sebelum tayang dan ditonton orang banyak. Film ini dikhawatirkan tidak menyuguhkan kebenaran sejati seputar peristiwa di tahun itu.

Well, menurut saya, mereka yang tempo hari sempat khawatir akan isi film Di Balik 98 dan berkesempatan menonton filmnya, pasti bakal bernapas lega. Yang muncul bisa jadi malah reaksi lain lagi. Mau tahu reaksi saya usai nonton?

Ini: "Haaah… begini doang filmnya?"

Untuk memulai kritik ini mari kita mulai dari pilihan kosa kata di judul. Film ini semula punya judul Di Balik Pintu Istana. Entah bagaimana judulnya diubah jadi Di Balik 98. Menonton filmnya tempo hari, judul kedua yang akhirnya dipilih terasa lebih tepat.

Lukman Sardi saat sutradarai Di Balik 98. (dok. MNC Pictures)

Namun, judul itu pun tak meninggalkan prolematikanya tersendiri. Pangkal soalnya terletak pada pilihan frasa "Di Balik". Kata "Balik" menurut kamus memiliki arti “sisi yang sebelah belakang dari yang kita lihat.”

Maka, ketika judul yang dipilih adalah "Di Balik 98", ekspektasi penonton atau calon penonton pada filmnya adalah mendapat suguhan apa yang terjadi di balik peristiwa gejolak sosial-politik tahun 1998. Setidaknya itu ekspektasi saya. Dan saya rupanya terlalu berharap. Ujungnya, saya merasa menjadi korban PHP (pemberi harapan palsu).

>Harapan pertama adalah pada nama sutradaranya. Film ini debut film panjang Lukman Sardi. Ia bukan sembarang aktor. Sejak mencuri perhatian sebagai rival Soe Hok Gie di Gie (Riri Riza, 2005), Lukman menorehkan namanya sebagai aktor watak kelas wahid generasi baru sinema kita. Dia seperti "Sean Penn-nya Indonesia" yang akting di setiap filmnya tak pernah mengecewakan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Malang melintang sepuluh tahun sebagai aktor, rupanya sudah tepat bagi Lukman Sardi naik kelas: berada di belakang layar sebagai sutradara. Ini lumrah terjadi. Di Hollywood sana kita menyaksikan Ben Affleck, George Clooney, hingga Angelina Jolie menjadi sutradara dan menghasilkan film-film yang baik. Meski lumrah, tidak banyak aktor yang memiliki keberanian dan kemampuan menyutradarai film panjang. Apalagi di Indonesia. Jumlahnya segelintir. Ingatan saya yang pendek saat menulis ulasan ini hanya menemukan satu nama, Deddy Mizwar yang membuat Ketika dan Naga Bonar Jadi 2. Untuk keberanian Lukman Sardi, kita harus mengapresiasi bagaimanapun film panjang yang dihasilkannya. Sebab pula, topik yang diangkat Lukman sebagai film pertamanya juga tak sembarangan. Mengangkat peristiwa 1998 ke film jelas memiliki tantangan tersendiri yang maha berat.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Firli Athiah NabilaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan