Sukses

Live Report:PENGUMUMAN KABINET JOKOWI JILID II

Gustri Randa Mengecam Pembatasan Film Impor

Liputan6.com, Jakarta Usulan pembatasan masuknya film impor oleh Kamar Dagang Indonesia (KADIN) mendapat kecaman dari berbagai pihak. Setelah Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) menyampaikan penolakannya, kini giliran aktor senior Gustri Randa yang menolak dengan tegas usul KADIN tersebut.

Menurut Gusti Randa, KADIN melihat film sebagai komoditas dagang, bukan sebagai karya seni. Bintang film Cinta Dibalik Noda itu pun meminta kepada KADIN untuk bicara kepada orang-orang film tentang usul pembatasan film impor tersebut.

"Kalau tidak mengerti perfilman, berdiskusilah dengan orang-orang film," kata Gusti saat dihubungi via telpon, Selasa (17/2/2015).

Salah satu alasan KADIN membatasi impor film asing karena untuk membangkitkan film Indonesia. Hal tersebut dinilai Gusti tidak tepat. Untuk menjadikan film Indonesia sebagai tuan rumah di negerinya sendiri, dibutuhkan kerja keras para sineas dan dukungan pemerintah.

"Indonesia tidak bisa melakukan pendekatan melalui pembatasan film impor. Seharusnya, insan film selalu meningkatkan kualitas karyanya, sehingga pasar film Indonesia tidak hanya di dalam negeri, namun juga sampai kemancanegara," kata Gustri Randa yang namanya melambung lewat sinetron Siti Nurbaya.

Gusti Randa mencontohkan bagaimana film Bollywood di India dan Hong Kong memiliki industri film yang besar meski mereka tak membatasi film impor. Menurutnya, penyebab film di kedua negara tersebut berkembang pesat, bukan karena digemari di dalam negeri, namun karena penontonnya sudah mendunia.

"Tetapi bukan hanya sineas saja, Pemerintah Indonesia juga  harus ikut berperan dalam meningkatkan kualitas film nasional. Misalnya, dengan mempermudah dan mempermurah biaya bagi sineas untuk berkreasi. Termasuk di antaranya, tidak mempersulit soal perizinan," tandas suami Nia Paramitha ini.

Sementara itu, para komunitas pecinta film juga menolak usulan pembatasn film impor tersebut. Cinema Lovers Community (CLC) dari Purbalingga menolak tegas usulan KADIN tersebut. Menurut mereka, bila film impor dibatasi, ia yakin film Indonesia justru akan semakinsulit berkembang.

"Film Indonesia akan kehilangan referensi. Dengandemikian, film Indonesia akan semakin ketinggalan dan tujuan untuk meningkatkan kualitas film nasional serta jumlah penonton malah tidak akan tercapai," kata Nanki Nirmanto, Manajer Program CLC.

Loading