Selamat Pagi, Malam: Selamat pada Lucky Kuswandi

Kita mengucapkan selamat pada Lucky Kuswandi atas salah satu tontonan terbaik dari jagad sinema Indonesia tahun ini.

Diterbitkan 26 Juni 2014, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tiga kisah di film ini sejatinya adalah sebuah surat cinta untuk Jakarta hari ini.

***

Lucky Kuswandi sepertinya berada dalam satu aliran seperguruan dengan Nia DiNata dan Sammaria Simanjuntak. Nia, kita tahu, adalah sineas kelas wahid sinema kontemporer kita yang sudah menghasilkan dua film Arisan! (2003 dan 2011) serta Berbagi Suami (2006). Sammaria sudah membuat Cin(t)a (2009) dan Demi Ucok (2013). Tidak mengherankan bila ketiganya berada dalam satu aliran "silat". Nia boleh dibilang adalah mentor bagi Lucky dan Sammaria--dua-duanya pernah bekerja untuk Nia.

Kesamaan mereka bertiga adalah, film-film mereka sejatinya adalah kritik sosial atas masyarakat kontemporer kita. Mereka tak cuma pandai menghibur, tapi juga mengajak penonton untuk jujur pada diri sendiri. Dua film `Arisan!` menguliti topeng kaum jetset Jakarta; Berbagi Suami mengkritik praktek poligami; `Cin(t)a` tentang ironi cinta beda agama; `Demi Ucok` tentang wanita yang berusaha mewujudkan mimpi bikin film ketimbang dijodohkan; sedang `Madame X` adalah film superhero lokal berbumbu komedi dengan pesan membela `the other` alias sang liyan, mereka yang berbeda dan minoritas.

Maka, seperti film-film "aliran Nia DiNata"--saya tak tahu apa ini istilah yang tepat--di atas, Selamat Pagi, Malam pun disesaki berbagai komentar dan kritik sosial pada masyarakat Jakarta kontemporer: soal tak cukup satu handphone, Rainbow cake, chatting dengan avatar palsu, sampai "tongsis" alias tongkat narsis.

Keberpihakan pada sang liyan juga tak luput ditunjukkan Selamat Pagi, Malam. Pada suatu ketika, kala Gia hendak mengajak Naomi menjalani kisah cinta mereka, Naomi berkata lirih dalam bahasa Inggris yang fasih, "There's no place for us here." Naomi rupanya memutuskan hendak menikah.

Pada segmen Gia dan Naomi pula, kita bertemu suatu Jakarta yang kontradiktif. Di satu sisi masyarakatnya sudah sedemikian jet set (seperti digambarkan Naomi dan kawan-kawannya) sampai Gia yang sudah lama tinggal di New York pun bak seseorang yang ketinggalan zaman. Tapi di sisi lain pula, Jakarta--disadari atau tidak--tidaklah ramah pada orang-orang semacam mereka.

Jika diminta mana segmen favorit di antara tiga kisah yang tersaji, cerita Ci Surya yang sepi adalah yang paling bersinar. Dengan keterbatasan akting Dayu Wijanto yang nyaris mengganggu (ekspresinya di awal terlihat kaku), di puncak film kita kemudian dibuat tersentak saat ia seolah melepas seluruh beban hidup karakter Ci Surya yang dimainkannya. Di sinilah, ia berubah jadi mutiara film ini.

***

Di hotel, kita bertemu Ci Surya, Gia dan Naomi, serta Indri dan cowok barunya. Ketika pagi datang, seolah ketiganya mengucapkan selamat pagi pada malam yang telah mengubah hidup mereka.

Saat film berakhir, diiringi lagu "Pergi untuk Kembali", kita pun mengucapkan selamat pada Lucky Kuswandi atas salah satu tontonan terbaik dari jagad sinema Indonesia tahun ini.*** (Ade/Mer)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan