Bioskop Kini Makin Banyak, Tapi untuk Siapa?

Ketika jumlah bioskop kian banyak, penonton film yang menonton film Indonesia justru menurun. Lalu, bioskop buat siapa?

Diterbitkan 10 Juni 2014, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Mekanisme pasar di bioskop

Kesepakatan dengan Grup 21

Pertanyaannya, jika penonton bioskop kita makin sedikit nonton film Indonesia, lalu bioskop-bioskop yang banyak jumlahnya itu diperuntukkan bagi siapa?

Nah, ini dia. Tak ramai diketahui publik, film-film box office dari Hollywood kini sudah bebas dipertontonkan berbarengan di semua bioskop. Semula, yang diistimewakan adalah jaringan bioskop Grup 21 yang juga satu bagian kelompok usaha dengan pihak pengimpor film-film box office Hollywood, yakni PT Omega Film.

Dilansir tabloid Kontan edisi 26 Mei-1 Juni 2014, mengutip keterangan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syarifuddin, pemutaran film-film box office Hollywood sekarang bisa berbarengan di seluruh bioskop, baik milik jaringan 21 Cineplex maupun bukan.

Dikatakannya, keseragaman proyektor digital di setiap bioskop dan kesepakatan bersama antara GPBSI memungkinkan hal ini terwujud.

Ini artinya, bioskop di seluruh Indonesia kini tak perlu khawatir kekurangan pasokan film, ataupun merasa dirugikan karena diminta memutar film baru belakangan setelah tayang di jaringan 21 Cineplex. Dengan begitu, penonton film di kota terpencil kini bisa nonton Godzilla, The Amazing Spider-Man, atau Maleficent bareng dengan penduduk di kota besar.

Mekanisme pasar

Selain menggembirakan, kabar ini patut diwaspadai bagi pelaku film nasional. Kini, persaingan mereka dengan film-film Hollywood kian meluas wilayahnya. Bioskop tentu akan lebih memilih memutar film laris ketimbang film tak laris. Kalau kebetulan film yang kebanyakan laris itu dari Hollywood, ya pihak bioskop tentu akan lebih sering memutar film Hollywood. Hingga kini tak ada aturan durasi tayang di bioskop bagi film nasional. Semuanya diserahkan pada mekanisme pasar. Yang laris, bakal lebih sering diputar.

Hollywood memiliki kekuatan kapital yang mengglobal. Sebuah film blockbuster Hollywood bisa dibuat dengan bujet sampai melebihi ukuran Rp 2 triliun dalam mata uang kita. Bandingkan dengan bujet film nasional yang rata-rata Rp 2-3 miliar.

Sementara itu, bagi penonton film, mau nonton film Hollywood atau film nasional, harga tiketnya umumnya sama. Penonton film tentu akan lebih memilih film berkualitas ketimbang film yang dibuat dengan seadanya.

Jika sudah begini, pertanyaan yang menjadi soal adalah, banyak bioskop untuk siapa? Film Hollywood atau film nasional? Kemana pemerintah? Tidak adakah yang melindungi film-film buatan anak bangsa sendiri? (Ade/Mer)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan