Tekanan Meluas, Rupiah Lesu dan Imbal Obligasi Melonjak Pekan Ini

Pada pekan ini, rupiah sempat menyentuh level terendah ke 18.175 per dolar AS dan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun naik menjadi 7,7%.

Diterbitkan 01 November 2026, 12:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tekanan terhadap pasar keuangan di Indonesia setelah sempat mengaut pekan lalu. Pekan ini tekanan merembet dari pasar saham ke mata uang dan obligasi.

Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (1/11/2026), pada Rabu pekan ini, nilai tukar rupiah ditutup di rekor terendah 18.175 per dolar AS. Sementara itu, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah melonjak menyusul melemahnya permintaan dalam lelang. Rupiah akhirnya ditutup pada level 18.127 mendekati rekor terendah, dan imbal hasil atau yield obligasi bertenor 10 tahun naik menjadi 7,71%, level tertinggi sejak Mei 2020.

Pasar obligasi pemerintah menjadi sorotan utama di dalam negeri akibat lemahnya permintaan dalam lelang Selasa. Nilai penawaran yang masuk turun menjadi Rp 31,1 triliun dari Rp 64,9 triliun dua pekan sebelumnya, dengan pemerintah hanya menyerap Rp 20,65 triliun, di bawah target awal sebesar Rp 30 triliun.

Imbal hasil lelang untuk tenor 10 tahun naik menjadi 7,54%, angka tertinggi sejak November 2022, dan imbal hasil di pasar sekunder terus meningkat sepanjang pekan.

Sementara itu, Bank Indonesia mengaitkan pelemahan rupiah dengan harga minyak yang melampaui US$ 115 per barel, yang meningkatkan risiko fiskal bagi negara pengimpor minyak serta ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut di AS, arus keluar modal dari pasar negara berkembang (emerging markets), dan kekhawatiran investor terkait tinjauan MSCI terhadap saham-saham Indonesia.

Bank Indonesia menyatakan terus melakukan intervensi di pasar mata uang dan pembelian obligasi pemerintah, Bank Indonesia juga menambahkan pergerakan rupiah secara umum sejalan dengan mata uang regional lainnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (UST) tenor 10 tahun ditutup pada level 4,94% di akhir pekan. Namun, selisih imbal hasil (yield spread) yang diminta investor untuk memegang obligasi pemerintah Indonesia dibandingkan dengan obligasi pemerintah AS melebar menjadi sekitar 2,8% lebih tinggi dari level sebelum perang yang berada di kisaran 2,5%.

 

Kepemilikan Investor Asing di Obligasi Pemerintah

Kepemilikan investor asing atas obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan relatif stabil sekitar Rp 916 triliun hingga 28 Oktober. Sementara itu, bank-bank domestik mengurangi kepemilikan mereka sebesar kurang lebih Rp 10 triliun, sedangkan Bank Indonesia menambah kepemilikan sebesar sekitar Rp 13 triliun.

“Hal ini menunjukkan tekanan terutama berasal dari permintaan domestik yang melemah serta kekhawatiran yang spesifik terhadap Indonesia, bukan akibat keluarnya modal asing; basis investor asing yang stabil pun menjadi pertanda yang melegakan,” demikian dalam keterangan riset Ashmore.

Bagi investor obligasi, imbal hasil (yield) yang lebih tinggi memang menekan harga dalam jangka pendek, tetapi di sisi lain, hal ini memungkinkan investasi baru untuk mengunci tingkat pendapatan yang jauh melampaui laju inflasi.

 

The Fed Menahan Suku Bunga

Di tingkat global, the Federal Reserve (the Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga tetapi memberi sinyal kemungkinan pengetatan lebih lanjut. Harga minyak tetap berada di dekat level tertinggi dalam enam bulan. Sementara itu, ketegangan di kawasan Teluk belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di Amerika Serikat, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakannya di kisaran 3,75–4,00%, meskipun dua pengambil kebijakan, Gubernur Lisa Cook dan Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack memilih untuk menaikkan suku bunga. Saat ini, pasar memperkirakan peluang sekitar 74% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember.

Ekonomi AS tumbuh 3,4% pada kuartal ketiga, sebuah angka yang cukup kuat. Akan tetapi, hasil kinerja yang beragam dari perusahaan-perusahaan teknologi besar memicu kembali pertanyaan mengenai imbal hasil dari investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI), yang pada gilirannya menekan pasar saham global.

 

Kawasan Teluk Masih Menjadi Perhatian

Di kawasan Teluk, militer Iran menyatakan Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal komersial yang tidak mematuhi aturan mereka sampai persyaratan yang diajukan terpenuhi. Sebuah kapal tanker bahkan sempat terkena ranjau di sebelah timur selat tersebut.

Upaya diplomasi tidak menunjukkan banyak kemajuan, di mana seorang pejabat Iran menyebut gagasan dalam draf yang disusun Qatar sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”, sementara pembicaraan di Teheran yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.

Berbagai laporan mengindikasikan bahwa tindakan militer besar-besaran oleh AS kemungkinan besar tidak akan terjadi sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November. Dengan demikian, harga minyak mentah Brent menutup minggu ini di kisaran US$ 117, level tertinggi dalam sekitar enam bulan terakhir.

 

Hal yang Perlu Dicermati ke Depan

Ashmore melihat pekan ini diwarnai oleh tekanan spesifik yang beralih dari pasar saham ke pasar mata uang dan obligasi, bahkan pada saat imbal hasil global melandai.

Bagi investor obligasi, tingkat imbal hasil yang lebih tinggi saat ini menawarkan pendapatan yang menarik, sementara bagi investor ekuitas, fokus pada perusahaan yang likuid dengan fundamental kuat dapat membantu mengelola volatilitas.

Dalam kedua instrumen tersebut, diversifikasi lintas wilayah dan kelas aset tetap menjadi kunci. Beberapa hal penting yang perlu dicermati antara lain pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) AS pada 3 November.

Selain itu, data inflasi Indonesia Oktober serta Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga yang akan dirilis pada awal November, respons terhadap usulan terbaru antara AS dan Iran, serta pertemuan Bank Indonesia berikutnya pada 17–18 November.