Boy Thohir Terafiliasi Emiten MGLV di Sektor Data Center dan AI, Saham Melambung

Harga saham PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) menguat signifikan didorong sejumlah sentimen.

Diterbitkan 08 September 2026, 17:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) dahulu bernama PT Panca Anugrah Wisesa Tbk melonjak signifikan sepanjang 2026.

Mengutip data Google Finance, harga saham MGLV melompat 513,64% menjadi Rp 14.850 per saham secara year to date hingga penutupan perdagangan Selasa, 8 September 2026.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa, 8 September 2026, harga saham MGLV naik 10% menjadi Rp 14.850 per saham. Harga saham MGLV dibuka naik Rp 1.325 menjadi Rp 14.825 per saham. Saham MGLV berada di level tertinggi Rp 14.850 dan terendah Rp 14.600 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 136 kali dengan volume perdagangan saham 351.469 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 247,2 miliar, demikian berdasarkan data RTI.

Kenaikan harga saham MGLV ini seiring perseroan juga masuk bisnis high-density data center yang dirancang untuk kebutuhan cloud computing dan komputasi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Selain itu, pengusaha nasional Garibaldi Thohir, yang akrab dikenal sebagai Boy Thohir juga masuk investasi di data center. Boy Thohir kembali memperluas eksposur investasinya ke sektor yang diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masa depan.

Setelah selama bertahun-tahun dikenal kuat di sektor energi dan sumber daya alam, kini jaringan investasinya mulai merambah infrastruktur data center dan Artificial Intelligence (AI) melalui PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV).

Keterkaitan Boy Thohir dengan MGLV tercatat melalui PT Trinugraha Thohir yang memiliki 2,25% saham serta PT Trinugraha Thohir Harmoni sebesar 4,86%. Kehadiran jaringan bisnis Thohir menjadi menarik karena MGLV kini tengah melakukan transformasi besar menuju bisnis high-density data center yang dirancang untuk kebutuhan cloud computing dan komputasi AI.

"Langkah tersebut seolah menjadi babak baru dalam perjalanan investasi Boy Thohir," demikian seperti dikutip dari keterangan resmi, Selasa, (8/9/2026).

Dari Energi Menuju Infrastruktur Ekonomi Masa Depan

Nama Boy Thohir selama ini identik dengan sektor energi. Perjalanan bisnisnya antara lain dibangun melalui Adaro, yang kemudian berkembang menjadi salah satu kelompok usaha energi dan sumber daya alam terbesar di Indonesia.

Namun, dalam perkembangannya, portofolio investasi Boy Thohir tidak berhenti pada energi konvensional. Eksposurnya berkembang menuju mineral strategis dan ekosistem baterai kendaraan listrik, termasuk melalui PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

 

Pola Investasi

Masuknya eksposur Boy Thohir ke MGLV memperlihatkan sebuah pola investasi yang menarik. Sektor yang dibidik memiliki satu kesamaan: menjadi bagian dari kebutuhan fundamental ekonomi pada masa mendatang.

Jika pada era industrialisasi kebutuhan utamanya adalah energi, kemudian era elektrifikasi membutuhkan critical minerals dan battery materials, pertumbuhan ekonomi berbasis AI akan membutuhkan sumber daya baru dalam jumlah masif: computing power dan data center.

AI Bukan Hanya Software, tetapi Infrastruktur

Pertumbuhan Artificial Intelligence sering kali diasosiasikan dengan perusahaan teknologi dan pengembangan software. Namun di balik perkembangan AI terdapat kebutuhan infrastruktur fisik yang sangat besar. AI membutuhkan server berkapasitas tinggi, GPU computing, jaringan telekomunikasi, cooling system, data center, serta pasokan listrik dalam jumlah besar dan stabil.

MGLV berencana mengembangkan fasilitas high-density data center untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan, pengelolaan, dan pemrosesan data yang semakin besar, termasuk untuk mendukung cloud computing dan Artificial Intelligence.

Dengan demikian, investasi pada data center pada dasarnya bukan sekadar investasi pada tren teknologi, tetapi investasi pada infrastruktur yang memungkinkan ekonomi AI berjalan."

Menariknya, data center dan energi justru memiliki hubungan yang semakin erat. Semakin besar kemampuan komputasi sebuah data center, semakin besar pula kebutuhan listrik dan sistem pendinginannya. Artinya, pertumbuhan AI pada akhirnya juga akan menciptakan permintaan baru terhadap energy infrastructure,” demikian seperti dikutip dari keterangan resmi, Selasa, (8/9/2026).

 

Perluasan Kompetensi dan Jaringan Investasi

Hal ini membuka sebuah benang merah dari perjalanan investasi Boy Thohir dimulai dari energi, mineral, ekosistem kelistrikan, hingga ke data center dan artificial intelligence

Dari perspektif tersebut, ekspansi menuju data center dan AI tidak sepenuhnya merupakan lompatan ke sektor yang berbeda. Sebaliknya, langkah ini dapat dilihat sebagai perluasan dari kompetensi dan jaringan investasi energi menuju infrastruktur digital generasi berikutnya.

Track record investasi Boy Thohir menunjukkan kecenderungan untuk membangun eksposur pada sektor-sektor dengan structural demand jangka panjang. Dari energi dan pertambangan, mineral untuk elektrifikasi, hingga kini data center dan AI, terdapat karakter yang relatif konsisten: mencari kebutuhan fundamental yang skalanya berpotensi membesar seiring perubahan ekonomi dan teknologi.

Sebab jika pada dua dekade sebelumnya energi dan komoditas menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, dalam dekade mendatang energi, konektivitas, data center, dan computing power berpotensi menjadi infrastruktur yang sama strategisnya.

Dalam konteks tersebut, MGLV bukan hanya cerita mengenai sebuah emiten yang memasuki bisnis AI. Ini dapat menjadi bagian dari cerita yang lebih besar mengenai bagaimana Boy Thohir, yang membangun fondasi bisnisnya dari energi, kini mulai mengambil posisi dalam pembangunan infrastruktur untuk era Artificial Intelligence.

Dari menyediakan energi untuk menggerakkan industri, menuju menyediakan infrastruktur untuk menggerakkan ekonomi digital dan AI.