Liputan6.com, Jakarta - Sistem peternakan terpadu lele, maggot dan ayam menghubungkan tiga kegiatan dalam satu alur produksi. Sisa dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lain. Pola ini membuat pakan, limbah, dan hasil ternak tidak berdiri sendiri. Peternak dapat mengatur hubungan tersebut sejak awal agar pekerjaan lebih terarah dan mudah dipantau.
Bayangkan sisa pakan, limbah organik, dan kotoran ternak tidak langsung menjadi beban. Bahan tersebut dapat masuk ke bagian lain dalam usaha, lalu menghasilkan pakan atau produk yang bisa digunakan kembali. Pola semacam ini mulai diterapkan dalam kegiatan budidaya karena dapat mengurangi limbah sekaligus membuka penggunaan sumber daya yang sebelumnya terbuang.
Namun, sistem peternakan terpadu lele, maggot dan ayam tidak cukup dibuat dengan menempatkan kandang dan kolam dalam satu area. Berikut ini adalah cara membuatnya, dilansir oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (8/9/2026).
Advertisement
Memahami Konsep dan Keunggulan Sistem Peternakan Terpadu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343568/original/085619800_1788861332-4594cc73-325c-404c-9139-84343b6a4146.jpg)
Sistem ini bekerja dengan menghubungkan ayam, maggot, dan lele melalui pemanfaatan bahan yang tersedia. Limbah organik dapat digunakan sebagai media untuk memelihara maggot. Maggot kemudian dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan. Sementara itu, hasil dari ayam dan lele dapat menjadi produk yang dijual. Alurnya perlu dibuat sesuai kebutuhan setiap bagian.
Maggot yang digunakan dalam sistem ini umumnya berasal dari larva lalat Black Soldier Fly atau BSF. Larva tersebut dapat menguraikan bahan organik dan kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut maggot BSF sebagai salah satu alternatif bahan baku pakan ikan.
Keunggulan sistem terletak pada pemanfaatan sumber daya secara berulang. Limbah organik tidak langsung dibuang, tetapi diarahkan menjadi media bagi maggot. Maggot dapat digunakan untuk mendukung pakan ayam atau lele sesuai kebutuhan. Pola tersebut dapat membantu mengurangi limbah dan membuka peluang penghematan biaya pakan, tetapi tetap membutuhkan pengaturan jumlah dan kebersihan.
Advertisement
Langkah 1: Tentukan Alur Antara Ayam, Maggot dan Lele
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343569/original/093876100_1788861332-0eb6f1ce-e964-4a33-bfbb-b5c319fda83a.jpg)
Langkah pertama adalah membuat alur sebelum membeli bibit atau membangun kandang. Tentukan dari mana limbah organik berasal, ke mana bahan tersebut akan dipindahkan, bagaimana maggot dipelihara, dan ke mana hasil maggot digunakan. Buat alur sederhana menggunakan catatan agar setiap kegiatan memiliki hubungan yang mudah dipahami.
Bagian ayam dapat menjadi salah satu sumber bahan organik, tetapi kotoran ayam tidak sebaiknya langsung diberikan kepada maggot tanpa pengelolaan. Pilih bahan yang sesuai untuk media maggot dan pisahkan bahan yang berisiko membawa kotoran, benda asing, atau bahan kimia. Kebersihan bahan akan memengaruhi proses pemeliharaan maggot.
Kolam lele perlu ditempatkan dengan mempertimbangkan sumber air, saluran pembuangan, dan jarak dari kandang ayam. Jangan membuat aliran limbah dari kandang langsung masuk ke kolam. Air kolam juga perlu dikelola agar tidak menjadi sumber masalah bagi lingkungan. Penelitian BRIN menunjukkan pengelolaan air buangan penting dalam sistem ayam dan ikan terpadu.
Langkah 2: Siapkan Kandang Ayam dan Sumber Bahan Organik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343570/original/001887200_1788861333-4db03126-b941-4ac2-90ea-4231815be3f1.jpg)
Kandang ayam perlu dibuat agar kotoran dan sisa pakan dapat dikumpulkan tanpa tercampur dengan benda lain. Gunakan wadah atau area penampungan yang mudah dibersihkan. Pisahkan bahan yang masih dapat dimanfaatkan dari sampah seperti plastik, tali, logam, atau bahan kemasan.
Tidak semua limbah kandang perlu dimasukkan ke dalam sistem maggot. Sisa makanan, kotoran, dan bahan organik perlu dipilah terlebih dahulu. Tujuannya agar media yang digunakan tidak membawa bahan yang dapat mengganggu pertumbuhan maggot. Kebiasaan memilah juga membuat jumlah bahan yang tersedia dapat dihitung setiap hari.
Jumlah ayam sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan mengelola kandang. Jangan menambah populasi hanya karena ingin menghasilkan lebih banyak bahan untuk maggot. Kebutuhan pakan, air, ruang, kebersihan, dan tenaga kerja harus dihitung lebih dahulu. Sistem terpadu tetap membutuhkan keseimbangan agar satu kegiatan tidak membebani kegiatan lainnya.
Advertisement
Langkah 3: Buat Tempat Budidaya Maggot
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343571/original/009244300_1788861333-6fdd8ed2-d750-4dc9-ac5e-d942abca595b.jpg)
Tempat maggot dapat dibuat menggunakan wadah yang mudah dibersihkan dan memiliki perlindungan dari hujan serta gangguan hewan. Sediakan ruang untuk media makan, pemeliharaan larva, dan pemanenan. Untuk skala yang lebih besar, bagian tersebut dapat dipisahkan agar pekerjaan lebih mudah dilakukan.
Media maggot berasal dari bahan organik yang sudah dipilah. Sisa makanan dan bahan organik dapat digunakan sesuai kondisi dan pengelolaan setempat. Universitas Padjadjaran menjelaskan bahwa larva BSF dapat digunakan untuk membantu mengolah sampah organik dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan serta bahan lain.
Pemberian media perlu dilakukan secara bertahap. Jangan memasukkan bahan dalam jumlah besar tanpa memperhatikan kemampuan larva menghabiskannya. Media yang tersisa dapat menimbulkan masalah jika dibiarkan. Catat jumlah bahan yang diberikan dan jumlah maggot yang dihasilkan agar penggunaan bahan dapat disesuaikan dari waktu ke waktu.
Langkah 4: Gunakan Maggot untuk Mendukung Pakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343572/original/019136600_1788861333-a3e986ba-1725-4985-8d9f-7b91bb9a1060.jpg)
Maggot dapat digunakan sebagai salah satu bahan pakan untuk lele dan ayam. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing ternak. Jangan langsung mengganti seluruh pakan dengan maggot tanpa mengetahui kebutuhan nutrisi dan pola pemberian pakan. Pakan utama tetap perlu disusun berdasarkan jenis, umur, dan tujuan pemeliharaan.
Pada lele, maggot dapat diberikan sebagai bagian dari pakan, bukan sekadar tambahan tanpa perhitungan. Beberapa kegiatan budidaya telah menggunakan maggot sebagai alternatif pakan lele. Penelitian dan program masyarakat juga mencatat penggunaan maggot untuk membantu menekan kebutuhan pakan komersial.
Ayam juga dapat menerima maggot sebagai bagian dari pakan. Penelitian mengenai ayam kampung menunjukkan maggot dapat digunakan bersama bahan pakan lain. Karena kebutuhan ayam berbeda berdasarkan umur dan tujuan pemeliharaan, jumlah yang diberikan perlu diatur. Hindari menjadikan maggot sebagai satu-satunya sumber pakan.
Advertisement
Langkah 5: Hubungkan Hasil Setiap Bagian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343573/original/029266100_1788861333-82a68652-f636-4209-8430-589547b1a37e.jpg)
Setelah tiga bagian berjalan, buat jadwal yang menghubungkan kegiatan. Misalnya, bahan organik dikumpulkan setiap hari, media maggot diperiksa secara rutin, maggot dipanen sesuai kebutuhan, lalu sebagian hasil digunakan untuk pakan. Sementara itu, ayam dan lele tetap dipelihara berdasarkan jadwal pakan dan perawatan masing-masing.
Hasil dari sistem tidak hanya berupa lele dan ayam. Maggot dapat digunakan sendiri, dijual, atau diolah sesuai kebutuhan. Sisa media setelah budidaya maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik setelah dipastikan sesuai untuk penggunaannya. Dengan begitu, satu kegiatan dapat menghasilkan lebih dari satu keluaran.
Catatan menjadi bagian penting dalam sistem ini. Tulis jumlah ayam, jumlah pakan, jumlah bahan organik, hasil maggot, penggunaan maggot, jumlah lele, dan hasil panen. Dari catatan tersebut, peternak dapat mengetahui bagian yang menghabiskan biaya paling besar dan bagian yang perlu diperbaiki.
Tips Agar Sistem Peternakan Terpadu Berjalan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343574/original/037121600_1788861333-dfb30002-1f3f-467b-b8ee-0c27c7ab7132.jpg)
Sistem peternakan terpadu membutuhkan pengelolaan yang konsisten. Hubungan antara ayam, maggot, dan lele tidak akan berjalan hanya dengan mengandalkan ketersediaan limbah. Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga alur produksi tetap berjalan dan mencegah satu bagian mengganggu bagian lainnya.
1. Mulai dari Skala Kecil: Mulailah dengan jumlah ayam, lele, dan maggot yang dapat dipantau setiap hari. Skala kecil membuat peternak lebih mudah mengetahui kebutuhan pakan, jumlah limbah, tenaga kerja, serta waktu yang dibutuhkan sebelum menambah jumlah ternak.
2. Pisahkan Limbah Sejak Awal: Pisahkan sampah organik dari plastik, logam, bahan kimia, dan benda lain. Pemilahan membuat media maggot lebih mudah dikelola dan mencegah bahan yang tidak sesuai masuk ke dalam proses budidaya.
3. Catat Semua Pengeluaran: Catat pembelian bibit, pakan, obat, wadah, air, listrik, dan kebutuhan lainnya. Bandingkan catatan tersebut dengan hasil penjualan. Cara ini membantu mengetahui apakah sistem benar-benar mengurangi biaya atau hanya memindahkan pengeluaran.
4. Jangan Mengandalkan Maggot Sepenuhnya: Gunakan maggot sebagai bagian dari pakan sesuai kebutuhan ternak. Jangan langsung menghentikan pakan lain. Kebutuhan nutrisi ayam dan lele tetap harus diperhatikan agar pertumbuhan dan produksi tidak terganggu.
5. Jaga Jarak Kandang dan Kolam: Atur posisi kandang ayam, tempat maggot, dan kolam lele agar pekerjaan mudah dilakukan. Hindari aliran limbah langsung menuju kolam. Pemisahan area membantu menjaga air kolam dan mengurangi risiko pencemaran.
6. Periksa Media Maggot Setiap Hari: Perhatikan kondisi media dan jumlah bahan yang tersisa. Jika bahan menumpuk, kurangi pemberian berikutnya. Jika bahan habis terlalu cepat, sesuaikan jumlahnya. Catatan harian membantu menentukan pola pemberian yang sesuai.
7. Kelola Air Kolam: Air kolam perlu diperiksa dan diganti atau dikelola sesuai kondisi. Jangan menjadikan kolam sebagai tempat pembuangan limbah dari kandang. Air yang keluar juga perlu diarahkan agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
8. Sesuaikan Jumlah Ayam dan Lele: Jumlah ternak harus mengikuti kemampuan lahan, pakan, air, dan tenaga kerja. Menambah ayam berarti menambah kebutuhan pakan dan pengelolaan kandang. Menambah lele juga menambah kebutuhan air dan pakan.
9. Sediakan Jalur Pembuangan: Setiap bagian perlu memiliki jalur pembuangan dan tempat penampungan. Jangan menunggu limbah menumpuk sebelum menentukan cara pengelolaannya. Jalur yang sudah disiapkan membuat pekerjaan harian lebih mudah dan mengurangi risiko lingkungan.
10. Evaluasi Setiap Siklus: Setelah satu periode pemeliharaan selesai, periksa hasilnya. Bandingkan jumlah pakan, hasil maggot, kematian ternak, penggunaan air, biaya, dan pendapatan. Gunakan hasil tersebut untuk menentukan perubahan pada siklus berikutnya.
11. Jangan Memaksakan Semua Limbah: Tidak semua limbah harus masuk ke sistem terpadu. Pilih bahan yang memang dapat digunakan dan pastikan penanganannya sesuai. Jika suatu bahan menimbulkan masalah, hentikan penggunaannya dan cari jalur pengelolaan lain.
12. Utamakan Kebersihan: Bersihkan kandang, wadah, alat pakan, dan area kerja secara rutin. Kebersihan membantu mengurangi penumpukan sisa pakan dan bahan organik. Area yang terawat juga memudahkan peternak menemukan masalah sejak awal.
Advertisement
Pertanyaan yang Sering Dicari tentang Sistem Peternakan Terpadu Lele, Maggot dan Ayam
1. Apa yang dimaksud sistem peternakan terpadu lele, maggot dan ayam?
Sistem peternakan terpadu lele, maggot dan ayam adalah pola usaha yang menghubungkan budidaya ayam, budidaya maggot, dan budidaya lele. Bahan dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lain, terutama dalam pengelolaan bahan organik dan pakan.
2. Apakah maggot bisa digunakan sebagai pakan lele?
Maggot BSF dapat digunakan sebagai salah satu bahan pakan lele. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut maggot sebagai alternatif bahan baku pakan ikan. Penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan pakan lele dan tidak harus menggantikan seluruh pakan.
3. Apakah maggot bisa diberikan kepada ayam?
Maggot dapat digunakan sebagai bagian dari pakan ayam. Penelitian pada ayam kampung juga telah menguji penggunaan maggot bersama bahan organik lain sebagai bagian dari pakan. Jumlah pemberian perlu disesuaikan dengan kebutuhan ayam dan komposisi pakan secara keseluruhan.
4. Apakah kotoran ayam bisa langsung diberikan kepada maggot?
Kotoran ayam sebaiknya tidak langsung digunakan tanpa pengelolaan dan pertimbangan kondisi media. Sistem perlu memastikan bahan yang digunakan sesuai untuk budidaya maggot. Beberapa kegiatan memang menggunakan limbah peternakan ayam sebagai bagian dari media, tetapi proses dan pengelolaannya perlu diperhatikan.
5. Apakah sistem lele, maggot dan ayam dapat menghemat biaya?
Sistem ini berpotensi mengurangi sebagian biaya karena maggot dapat digunakan sebagai alternatif bahan pakan dan bahan organik dapat dimanfaatkan kembali. Namun, besarnya penghematan bergantung pada harga pakan, jumlah ternak, biaya produksi maggot, tenaga kerja, dan hasil panen.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5480209/original/055827300_1769049427-53be1b51-4a07-4337-a7d7-3ea2480321b2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343335/original/092273200_1788851870-HOAX__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555013/original/059216600_1776139675-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-14T102537.741.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343567/original/076941500_1788861332-30606be9-08e1-4e92-a1ae-b19e2a96eb85.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343494/original/004600800_1788858658-4e32dbee-f23d-4ae0-ae8f-0a42486e1744.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337809/original/061708700_1788257460-01M1DQJB4V2FH04CQSNZDNHZYH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343477/original/011030100_1788858498-cov.jpg)