Liputan6.com, Jakarta Apa itu ilmu sejarah? Ilmu sejarah sebagai disiplin ilmiah yang formal justru tergolong muda. Berdasarkan paper Development of History as an Academic Discipline yang dipublikasikan di SSRN, sejarah berkembang sebagai disiplin akademik mandiri pada abad ke-19, terutama di Jerman, setelah mulai dipisahkan dari sastra. Paper tersebut mencatat bahwa pada 1850-an terdapat 19 universitas yang menawarkan sejarah, sementara jumlah profesor sejarah mencapai 238 pada 1931.
Lalu, sebenarnya apa itu ilmu sejarah yang kita pelajari hari ini? Secara ringkas, ilmu sejarah adalah kajian sistematis tentang masa lalu manusia yang bertumpu pada bukti nyata seperti dokumen, artefak, dan tradisi lisan, bukan sekadar hafalan tanggal dan nama tokoh.
Faktanya, cakupan ilmu ini jauh lebih luas daripada yang diajarkan di bangku sekolah. Dilansir dari EBSCO, sejarah merupakan disiplin akademik yang mempelajari masa lalu untuk memahami kondisi masyarakat saat ini sekaligus melihat berbagai kemungkinan perkembangan di masa depan.
Advertisement
Apa Itu Ilmu Sejarah? Pengertian dan Cakupannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5053593/original/073860900_1734344276-1734338862947_ciri-ciri-sejarah-sebagai-ilmu-1.jpg)
Langkah pertama memahami ilmu sejarah adalah membedakan dua hal yang sering dikira sama, yaitu masa lalu dan sejarah. Masa lalu adalah segala sesuatu yang pernah terjadi, sedangkan ilmu sejarah adalah cara ilmiah untuk merekonstruksi, menafsirkan, lalu menuliskan kembali masa lalu itu agar bermakna. Dengan begitu, tidak semua kejadian lampau otomatis menjadi kajian sejarah; ia baru "menjadi sejarah" setelah ditelusuri dan dianalisis berdasarkan bukti.
Mengutip penjelasan Study.com, ada tiga istilah yang perlu dibedakan: prasejarah untuk masa sebelum munculnya catatan tertulis, masa lalu untuk seluruh kejadian sebelum masa kini, dan sejarah sebagai proses mempelajari, menafsirkan, serta mencatat masa lalu secara bermakna.
Contoh sederhananya, penemuan kapak batu adalah objek kajian prasejarah, sedangkan analisis naskah Proklamasi 1945 tergolong kajian sejarah karena bertumpu pada dokumen tertulis. Pertanyaan klasik berikutnya, apakah ilmu sejarah termasuk sains atau seni?
Sebagaimana dijelaskan Observatory dari Tec de Monterrey, penelitian dalam ilmu sosial melibatkan berbagai perspektif dan pengalaman manusia. Posisi serta sudut pandang peneliti juga berperan dalam menentukan bagaimana suatu fenomena dikaji dan diinterpretasikan. Marc Bloch dalam bukunya The Historian's Craft menyebut bahwa sejarah pada hakikatnya merupakan "ilmu tentang perubahan" (the science of change). Menurutnya, sejarah berusaha memahami manusia dalam dimensi waktu serta perubahan yang membentuk kehidupan mereka.
Manfaat memahami definisi ini adalah kamu jadi sadar bahwa ilmu sejarah punya banyak cabang. Ada sejarah dunia, sejarah politik, sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah intelektual, hingga sejarah seni yang masing-masing menyoroti sisi berbeda dari kehidupan manusia. Misalnya, sejarah ekonomi menelaah bagaimana Revolusi Industri mengubah pola kerja, sementara sejarah sosial menyoroti keseharian rakyat biasa, bukan hanya raja atau panglima.
Advertisement
Ciri-Ciri Ilmu Sejarah sebagai Disiplin Ilmiah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5052921/original/033777700_1734342395-1734337816682_ciri-ciri-sejarah-sebagai-ilmu.jpg)
Apa yang membuat sejarah pantas disebut ilmu, bukan sekadar kumpulan cerita? Mengacu pada materi Boundless World History dari Lumen Learning, sejarah sebagai disiplin akademik modern berbasis metode empiris berkembang pada Era Pencerahan. Metode tersebut mengandalkan sumber primer dan bukti lain untuk merekonstruksi masa lalu. Inilah beberapa ciri yang membedakan ilmu sejarah dari mitos atau dongeng.
- Empiris dan berbasis bukti, karena setiap klaim sejarawan wajib didukung sumber nyata seperti dokumen, arsip, prasasti, atau artefak.
- Sistematis dan metodis, sebab penelitiannya mengikuti prosedur baku sehingga hasilnya dapat diuji ulang oleh peneliti lain.
- Memiliki objek kajian yang jelas, yaitu manusia dan masyarakatnya dalam ruang serta waktu tertentu, bukan gejala alam semata.
- Objektif tetapi tetap interpretatif, sehingga sejarah setia pada fakta namun penafsiran sejarawan turut membentuk narasinya.
- Bersifat unik atau unikum, karena sebuah peristiwa hanya terjadi sekali dan tak akan terulang persis sama, seperti Proklamasi 17 Agustus 1945.
- Tentatif alias dapat direvisi, sebab kesimpulan bisa berubah begitu ditemukan bukti baru atau muncul tafsir yang lebih kuat.
Tips singkat, ketika membaca konten bertema sejarah, biasakan mengecek apakah penulisnya menyertakan sumber. Kalau sebuah klaim tidak punya rujukan bukti, kamu perlu lebih hati-hati sebelum memercayainya.
Konsep Dasar dan Cara Berpikir dalam Ilmu Sejarah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308965/original/060293300_1785212743-Gemini_Generated_Image_ll3d4fll3d4fll3d.jpg)
Sebelum masuk ke metode, kamu perlu mengenal konsep dasar yang menjadi kacamata para sejarawan. Konsep paling fundamental adalah waktu (kronologi dan periodisasi), ruang (tempat suatu peristiwa berlangsung), serta kausalitas atau hubungan sebab-akibat antarperistiwa. Ketiganya membuat kisah masa lalu tersusun runtut, bukan sekadar potongan kejadian yang acak.
Di dunia pendidikan sejarah modern, dikenal pula kerangka berpikir historis melalui Historical Thinking Project yang dikembangkan di bawah arahan sejarawan Peter Seixas. Kerangka ini menggunakan enam konsep berpikir historis sebagai panduan untuk membantu siswa memahami masa lalu secara lebih kritis dan mendalam.
Sebagaimana dijelaskan tim Integrated Action Civics Project dari UC Berkeley, enam konsep utama dalam Historical Thinking dapat dipahami melalui pertanyaan-pertanyaan kunci yang membantu siswa menganalisis masa lalu secara lebih mendalam, seperti pada tabel berikut.
| Konsep Berpikir Historis | Pertanyaan Panduan |
|---|---|
| Signifikansi historis | Bagaimana kita menentukan apa yang penting untuk dipelajari dari masa lalu? |
| Bukti sumber primer | Dari mana kita tahu apa yang kita ketahui tentang masa lalu? |
| Kontinuitas dan perubahan | Bagaimana memaknai aliran sejarah yang rumit antara yang berubah dan yang tetap? |
| Sebab dan akibat | Mengapa sebuah peristiwa terjadi dan apa saja dampaknya? |
| Perspektif historis | Bagaimana memahami pengalaman beragam orang di masa lalu tanpa menghakiminya dengan ukuran masa kini? |
| Dimensi etis | Pelajaran moral apa yang pantas ditarik dari penafsiran atas peristiwa sejarah? |
Contoh penerapannya, saat menilai kemerdekaan Indonesia, kamu bukan cuma menghafal tanggalnya, melainkan menimbang mengapa peristiwa itu signifikan, apa penyebabnya, serta bagian mana yang berubah dan mana yang berlanjut sampai sekarang. Cara berpikir seperti inilah yang membedakan belajar ilmu sejarah dari sekadar menghafal urutan tahun.
Advertisement
Metode Penelitian dan Bedanya Ilmu Sejarah dengan Historiografi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5079816/original/012584100_1736153301-1735888599970_ciri-sejarah-sebagai-ilmu.jpg)
Karena masa lalu tidak bisa disaksikan langsung, ilmu sejarah bergantung pada jejak dan sumber untuk membangun ulang sebuah peristiwa. Marc Bloch, sejarawan Prancis dan salah satu pendiri Mazhab Annales, dalam The Historian’s Craft menjelaskan bahwa sejarawan pada dasarnya tidak dapat mengamati secara langsung fakta-fakta masa lalu yang ditelitinya.
Karena itu, pengetahuan sejarah diperoleh melalui berbagai kesaksian dan jejak yang ditinggalkan masa lalu. Untuk menyiasati keterbatasan itu, sejarawan menempuh empat langkah baku yang disebut metode historis.
- Heuristik, yakni tahap mencari dan mengumpulkan sumber sejarah dari berbagai tempat.
- Kritik sumber, yakni menguji keaslian fisik sumber (kritik eksternal) sekaligus kredibilitas isinya (kritik internal).
- Interpretasi, yakni menafsirkan fakta lalu merangkainya menjadi hubungan sebab-akibat yang masuk akal.
- Historiografi, yakni tahap menuliskan hasil penelitian menjadi kisah sejarah yang sistematis dan mudah dipahami.
Sumber yang dipakai pun bertingkat, mulai dari sumber primer (bukti langsung seperti naskah asli dan artefak), sumber sekunder (tafsiran pihak kedua seperti buku teks), sampai sumber tersier (rangkuman seperti ensiklopedia).
Menariknya, satu sumber bisa berperan ganda; sebuah memoar menjadi sumber primer untuk meneliti penulisnya, tetapi menjadi sumber sekunder ketika dipakai menelaah zaman yang ia ceritakan. Perlu kamu bedakan juga antara sejarah dan historiografi.
Merujuk Britannica, historiografi adalah penulisan dan kajian tentang bagaimana sejarah ditulis, termasuk pemeriksaan kritis terhadap sumber, pemilihan informasi, serta penafsiran yang digunakan dalam menyusun narasi sejarah. Sederhananya, historiografi adalah sejarah dari penulisan sejarah itu sendiri.
Manfaat dan Relevansi Ilmu Sejarah di Kehidupan Modern
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/9337995/original/042797500_1788269658-IMG_1652.jpg)
Buat apa belajar ilmu sejarah kalau peristiwanya sudah lewat? Justru di sinilah letak nilai praktisnya. Mengutip North Seattle College, mempelajari sejarah membantu mengembangkan berbagai keterampilan seumur hidup, mulai dari literasi informasi, membaca dan berpikir kritis, menulis, hingga kemampuan melihat perspektif, memecahkan masalah, dan berkolaborasi.
- Melatih berpikir kritis, karena kamu terbiasa menimbang bukti, memisahkan fakta dari opini, dan menilai kredibilitas sumber.
- Memperkuat identitas dan rasa kebangsaan, sebab mengenal akar budaya serta perjuangan bangsa memperjelas jati diri kolektif.
- Menjadi bahan pertimbangan keputusan, karena pola sebab-akibat masa lalu membantu menghindari kesalahan yang sama.
- Menumbuhkan empati, sebab memahami perspektif orang di masa lampau melatihmu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
- Membuka jalur profesi, karena ilmu sejarah bisa mengantar pada karier sebagai sejarawan, arsiparis, kurator museum, peneliti, sampai penulis.
Relevansi terbesarnya adalah menyambungkan masa lalu dengan masa kini. Marc Bloch dalam The Historian’s Craft, dikutip dari QuotePark, menyatakan bahwa ketidaktahuan terhadap masa lalu dapat menyebabkan kesalahpahaman dalam memahami masa kini. Ia juga menekankan pentingnya memahami masa kini untuk membaca masa lalu secara lebih utuh.
Sebagaimana dijelaskan American Historical Association, mengenali kesinambungan atau kontinuitas sama pentingnya dengan memahami perubahan dari waktu ke waktu dalam mengembangkan kemampuan berpikir historis. Dalam praktiknya, cara pandang ini membantumu memahami mengapa sebagian tradisi dan nilai tetap lestari meski zaman terus bergerak.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ilmu Sejarah
Apakah ilmu sejarah sama dengan sejarah?
Tidak persis sama. Kata sejarah kerap dipakai untuk menyebut peristiwa masa lalu itu sendiri, sedangkan ilmu sejarah adalah disiplin ilmiah beserta metodenya untuk meneliti, menafsirkan, dan menuliskan peristiwa tersebut secara sistematis.
Apakah ilmu sejarah termasuk ilmu sosial atau seni?
Keduanya bisa benar. Sejarah umumnya digolongkan sebagai ilmu sosial atau bagian dari humaniora karena memakai metode ilmiah, tetapi proses penulisannya juga menuntut seni bercerita agar narasinya hidup dan enak dibaca.
Apa manfaat mempelajari ilmu sejarah dalam kehidupan sehari-hari?
Ilmu sejarah melatihmu berpikir kritis, menimbang bukti sebelum percaya pada suatu informasi, memahami identitas diri dan bangsa, sekaligus mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu untuk membuat keputusan yang lebih bijak hari ini.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343335/original/092273200_1788851870-HOAX__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555013/original/059216600_1776139675-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-14T102537.741.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342535/original/041645600_1788773436-HOAX__11_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337809/original/061708700_1788257460-01M1DQJB4V2FH04CQSNZDNHZYH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343423/original/092948700_1788857126-6cae1046-6380-4e55-bdce-da45e66aea4f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343459/original/072586900_1788858003-HL_anggur.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343450/original/032361400_1788857677-aa454c42-059c-4428-9ec5-2db3d253b981.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343429/original/049824700_1788857238-Gemini_Generated_Image_4epj5p4epj5p4epj.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304033/original/069517200_1784704526-Untitledw.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5508267/original/010150500_1771570964-Untitled_design__11_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4592812/original/045820200_1695984542-gabin-vallet-J154nEkpzlQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343112/original/005905300_1788844442-74f4cf4c-a84d-4dfe-9b10-553f6ec59979.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5475562/original/082101600_1768628241-Gemini_Generated_Image_uzx59buzx59buzx5.png)