Presiden Komisaris Astra Beli 178 Ribu Saham ASII

Presiden Komisaris PT Astra International Tbk (ASII) Prijono Sugiarto kini memiliki 4.301.300 saham ASII.

Diterbitkan 12 Mei 2026, 20:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Komisaris PT Astra International Tbk (ASII) Prijono Sugiarto menambah kepemilikan saham ASII.  Aksi pembelian saham ASII itu untuk investasi.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (12/5/2026), Presiden Komisaris Astra International Prijono Sugiarto membeli 178.000 saham ASII dengan harga Rp 5.925 per saham. Nilai pembelian saham ASII itu sekitar Rp 1,05 miliar.

Setelah transaksi pembelian saham ASII, Prijono Sugiarto mengenggam 4.301.300 saham ASII atau setara 0,0106%. Sebelumnya, Prijono Sugiarto memiliki 4.123.300 saham ASII atau setara 0,0102%.

“Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa, 12 Mei 2026, harga saham ASII melemah 3,31% menjadi Rp 5.850 per saham. Harga saham ASII dibuka stagnan di Rp 6.050 per saham. Saham ASII berada di level tertinggi Rp 6.100 dan terendah Rp 5.850 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 9.398 kali dengan volume perdagangan saham 269.749 saham. Nilai transaksi Rp 158,7 miliar.

Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,68% menjadi 6.858,89. Indeks saham LQ45 menguat 0,18% menjadi 669,84. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.

Pada Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.977,28 dan level terendah 6.762,87. Sebanyak 463 saham melemah sehingga bebani IHSG. 207 saham menguat dan 151 saham diam di tempat.

Kinerja Kuartal I 2026

Sebelumnya, PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan pendapatan dan laba bersih sepanjang kuartal I 2026. Hal itu seiring kontribusi dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi yang lebih rendah hingga kuartal I 2026.

PT Astra International Tbk (ASII) meraup pendapatan Rp 78,66 triliun hingga kuartal I 2026, turun 6% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 83,36 triliun. Laba bersih perseroan susut 16% menjadi Rp 5,85 triliun hingga kuartal I 2026. Pada periode sama tahun sebelumnya, perseroan meraup laba bersih Rp 6,93 triliun.

“Pada kuartal pertama tahun 2026, laba Grup menurun terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut,” ujar Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Rudy dikutip dari keterangan resmi, Kamis, (30/4/2026).

Ia menuturkan, sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan imbal hasil kepada pemegang saham, Astra melanjutkan pelaksanaan program pembelian kembali saham pada kuartal pertama tahun ini, di mana sampai saat ini, total pembelian kembali saham yang telah direalisasikan adalah sebesar Rp 2,7 triliun.

PT United Tractors Tbk (UT) juga melanjutkan program pembelian kembali saham mereka pada kuartal pertama tahun ini. Sejak program tersebut dimulai pada bulan November 2025, total pembelian kembali saham mencapai Rp3,0 triliun.

“Ke depan, kondisi pasar diperkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan,” ujar dia.

 

 

Kinerja Keuangan

Laba bersih tidak termasuk non-recurring charges merosot 8% menjadi Rp 6,81 triliun hingga Maret 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 7,39 triliun.

Perseroan mencatat laba bersih per saham turun 15% menjadi Rp 146 hingga kuartal I 2026 dari kuartal I 2025 sebesar Rp 171 per saham.

Perseroan mencatat ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 2% menjadi Rp 232.675 triliun dari periode Desember 2025 sebesar Rp 228.906 triliun. Nilai aset bersih per saham Rp 5.810 pada 31 Maret 2026, naik 2% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 5.692.

Utang bersih, tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan grup mencapai Rp 1,8 triliun pada 31 Maret 2026, dibandingkan dengan kas bersih Rp 7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, dan pembelian kembali saham.

Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan grup mencapai Rp 66 triliun pada 31 Maret 2026, naik dibandingkan Rp 64,9 triliin pada 31 Desember 2025.