Rugi Garuda Indonesia USD 46,48 Juta hingga Maret 2026

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat pendapatan naik 5,39% dan rugi merosot 39,2% pada kuartal I 2026.

Diterbitkan 23 April 2026, 16:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat kinerja keuangan beragam pada kuartal I 2026. Perseroan mencatat kenaikan pendapatan tetapi masih membukukan rugi meski menyusut hingga Maret 2026.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (23/4/2026), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk meraup pendapatan USD 762,35 juta, naik 5,39% dari periode sama tahun sebelumnya USD 723,56 juta. Kontribusi pendapatan itu dari penerbangan berjadwal tumbuh 7,35% dari USD 603,69 juta pada kuartal I 2025 menjadi USD 648,10 juta.

Sementara itu, penerbangan tidak berjadwal turun 34,19% menjadi USD 24,98 juta hingga kuartal I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya USD 37,96 juta. Lain-lain naik 8,98% menjadi USD 89,27 juta pada kuartal I 2026 dari kuartal I 2025 sebesar USD 81,91 juta.

Sementara itu, beban usaha turun tipis 0,71% menjadi USD 713,22 juta kuartal I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya USD 718,36 juta. Perseroan membukukan beban operasional penerbangan turun menjadi USD 350,24 juta pada kuartal I 2026 dari kuartal I 2025. Beban pemeliharaan dan perbaikan naik menjadi USD 159,14 juta pada kuartal I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya USD 156,19 juta.

Beban kebandaraan naik menjadi USD 57,84 juta dari periode sama tahun sebelumnya USD 54,05 juta. Beban pelayanan penumpang naik tipis menjadi USD 49,92 juta pada kuartal I 2026 dari periode kuartal I 2025 sebesar USD 49,62 juta. Beban tiket, penjualan dan promosi naik menjadi USD 45,64 juta pada kuartal I 2026 dari kuartal I 2025 sebesar USD 40,15 juta.

 

Aset Perseroan

Perseroan mengalami rugi selisih kurs sebesar USD 1,39 juta dari sebelumnya untung USD 12,83 juta. Pendapatan keuangan perseroan naik menjadi USD 9,13 juta dari kuartal I 2025 sebesar USD 3,36 juta.

Laba entitas asosiasi perseroan turun menjadi USD 0,61 juta pada kuartal I 2026 dari kuartal I 2025 sebesar USD 0,87 juta. Perseroan mencatat rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 39,2% menjadi USD 46,48 juta pada kuartal I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya USD 76,49 juta.

Ekuitas perseroan turun menjadi USD 68,25 miliar pada Maret 2026 dari Desember 2025 sebesar USD 91,91 miliar. Liabilitas perseroan naik menjadi USD 7,43 miliar pada 31 Maret 2026 dari 31 Desember 2025 sebesar USD 7,33 miliar. Perseroan mencatat aset naik menjadi USD 7,50 miliar pada 31 Maret 2026 dari 31 Desember 2025 sebesar USD 7,43 miliar. Perseroan kantongi kas dan setara kas USD 857,50 juta pada 31 Maret 2026.

Tingkat Ketepatan Waktu Garuda Indonesia Tertinggi dalam 3 Tahun

Sebelumnya, grup Garuda Indonesia yang terdiri dari Garuda Indonesia dan Citilink, mencatatkan tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP)  sebesar 92,08% selama arus mudik dan balik Lebaran 2026. Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada momentum Lebaran.

"Capaian tersebut merefleksikan peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, di mana OTP pada Lebaran 2025 tercatat sebesar 87,12% dan 86,07% pada Lebaran 2024. Capaian ini menjadi indikator kuat konsistensi peningkatan kinerja operasional kami, khususnya dalam mengelola intensitas penerbangan tinggi pada periode peak season,” ujar Direktur Operasi Garuda Indonesia, Dani Haikal Iriawan, Selasa (32/3/2026).

Dani menegaskan, keberhasilan ini juga merupakan hasil kolaborasi erat dengan para pengguna jasa. "Konsistensi tatalaksana operasional dan kesiapan penumpang dalam mengikuti prosedur penerbangan, khususnya yang hadir lebih awal di bandara, menjadi faktor penting yang turut menjaga kelancaran operasional di tengah tingginya trafik Lebaran,” ia menambahkan.

Layani 1,1 Juta Penumpang 

Sejalan dengan capaian OTP tersebut, Garuda Indonesia Group juga mencatat mengangkut lebih dari 1,1 juta penumpang selama periode 14–29 Maret 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 501.336 penumpang Garuda Indonesia melalui 3.297 penerbangan 681.162 penumpang Citilink melalui 4.357 penerbangan.

Secara keseluruhan, Garuda Indonesia Group mencatatkan tingkat keterisian penumpang atau seat load factor (SLF) sebesar 86%, mencerminkan konsistensi pertumbuhan permintaan perjalanan selama periode Lebaran. 

Adapun rute dengan trafik tertinggi didominasi oleh rute domestik seperti Jakarta–Medan, Jakarta–Banda Aceh, Surabaya–Denpasar, Jakarta–Pangkal Pinang, serta Yogyakarta–Denpasar. Sementara untuk rute internasional, trafik tertinggi tercatat pada Jakarta–Amsterdam, Jakarta–Madinah, Jakarta–Jeddah, Jakarta–Haneda, dan Denpasar–Tokyo.