Saham HSC Rentan Panic Selling, Analis Sarankan Fokus Jangka Pendek

Pengamat pasar modal Reydi Octa memaparkan risiko dari saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Diterbitkan 09 April 2026, 15:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat pasar modal Reydi Octa, menilai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) memiliki risiko yang lebih besar terhadap gejolak harga di pasar.

Kondisi ini membuat saham menjadi lebih sensitif terhadap aksi jual, terutama saat terjadi perubahan sentimen atau pergerakan dari pemegang saham utama. Reydi menjelaskan, saham dengan konsentrasi tinggi lebih mudah mengalami panic selling, terutama jika pemegang saham besar mulai melepas kepemilikannya.  Aksi tersebut kerap menjadi sinyal negatif bagi investor lain, sehingga memicu aksi jual lanjutan di pasar.

"Saham dengan konsentrasi tinggi juga lebih rentan panic selling, terutama ketika pemegang saham besar melepas sebagian kepemilikannya atau muncul sentimen negatif. Karena free float kecil, tekanan jual sedikit saja bisa berdampak besar ke harga," kata Reydi kepada Liputan6.com, Kamis (9/4/2026).

Ia  mengungkapkan, struktur kepemilikan yang tidak merata menyebabkan likuiditas saham menjadi terbatas. Akibatnya, tekanan jual dalam jumlah relatif kecil sekalipun dapat memicu penurunan harga yang signifikan.

Selain itu, munculnya sentimen negatif baik dari faktor internal perusahaan maupun eksternal pasar dapat mempercepat terjadinya aksi jual secara masif. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas harga saham cenderung meningkat tajam dalam waktu singkat.

Lebih Cocok untuk Strategi Jangka Pendek 

Reydi menilai saham dengan karakteristik HSC cenderung lebih sesuai untuk strategi jangka pendek dibandingkan investasi jangka panjang.

Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat ketidakpastian yang melekat pada saham tersebut. Menurutnya, investor perlu memiliki pemahaman mendalam terkait fundamental perusahaan serta struktur kepemilikan sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam saham jenis ini.

"Saham HSC lebih cocok untuk strategi jangka pendek daripada investasi jangka panjang, kecuali investor benar-benar memahami fundamental dan struktur kepemilikannya. Ini bukan sekadar high risk high return, tapi ketidakpastiannya juga sangat tinggi," pungkasnya.

 

 

BEI dan KSEI Umumkan Daftar Saham Terkonsentrasi Tinggi, Simak Manfaatnya

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026).

Pelaksana tugas Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyampaikan publikasi HSC merupakan praktik yang telah diterapkan di berbagai bursa global, termasuk Hong Kong Stock Exchange, terutama dalam merespons isu konsentrasi kepemilikan saham.

Jeffrey menjelaskan, pengumuman HSC bertujuan memberikan gambaran kepada publik terkait tingkat kepemilikan saham yang terpusat pada pihak tertentu. Informasi ini diharapkan dapat membantu investor dalam mempertimbangkan keputusan investasi secara lebih matang.

"HSC merupakan pengumuman kepada publik di mana terdapat kepemilikan saham kuasa pusat saham yang terkonsentrasi pada sejumlah persentil penghubungan saham,” kata Jeffrey dalam Konferensi Pers dan Sosialisasi Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal Indonesia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/4/2026).

Ia menegaskan, status HSC tidak serta-merta mencerminkan adanya pelanggaran di pasar modal, termasuk terkait ketentuan free float. Dengan kata lain, saham yang masuk dalam daftar ini belum tentu melanggar aturan yang berlaku.

"Nanti ada pertanyaan kalau terkonsentrasi sekian persen, apakah tidak memenuhi ketentuan free float. Jawabannya, tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran apapun di bidang pasar modal,” ujarnya.

 

 

Mekanisme Evaluasi dan Tindak Lanjut

Jeffrey menjelaskan, penentuan saham yang masuk kategori HSC dilakukan melalui kajian bersama antara BEI dan KSEI menggunakan metodologi yang telah ditetapkan dalam prosedur operasional standar. Proses ini memastikan penilaian dilakukan secara objektif dan terukur.

Berbeda dengan praktik di Hong Kong yang tidak disertai tindakan lanjutan, BEI membuka ruang bagi emiten untuk melakukan evaluasi internal guna meningkatkan daya tarik investasinya. Emiten juga dapat mengambil langkah strategis yang dianggap perlu untuk memperbaiki kondisi kepemilikan saham.

“Namun di BEI nantinya perusahaan tercatat dapat melakukan assessment atau hal-hal lain yang dirasa perlu atau necessary action untuk meningkatkan investability dari kondisi emiten tersebut,” jelasnya.

Dalam hal perusahaan tercatat tidak lagi dalam kondisi kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi, maka BEI bersama dengan KSEI akan membuat pengumuman penutup atas hal tersebut.