Meneropong Sektor Saham yang Menarik untuk IPO pada Kuartal II 2026

Analis memprediksi momentum IPO berpotensi menguat terutama pada kuartal II 2026. Berikut sektor saham yang akan menjadi motor IPO.

Diterbitkan 29 Maret 2026, 15:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Prospek penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di pasar modal Indonesia pada 2026 dinilai masih terbuka, meski sempat mengalami perlambatan pada awal tahun. Sejumlah sektor diproyeksikan akan menjadi motor utama yang menarik minat investor, seiring dengan perbaikan kondisi pasar.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebutkan momentum IPO berpotensi menguat terutama memasuki kuartal II 2026, didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi domestik dan perubahan strategi investor.

"Kalau di kuartal II kalau menurut saya pasca lebaran aktivitas pasar bisa membaik investor mulai melakukan rebalancing portofolio,” kata Nafan kepada Liputan6.com, Sabtu (28/3/2026).

Nafan menjelaskan, sektor energi menjadi salah satu yang paling menarik perhatian, terutama karena didukung oleh tren kenaikan harga komoditas global. Kondisi ini membuat perusahaan berbasis sumber daya alam memiliki daya tarik lebih di mata investor.

"Yang jelas di sini kalau untuk sektor yang paling bisa difokuskan misalnya sektor energi,” ujarnya.

Selain energi, sektor infrastruktur dan logistik juga diprediksi menjadi primadona. Hal ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi domestik serta kebutuhan distribusi barang yang terus tumbuh.

Tak ketinggalan, sektor consumer dan e-commerce juga dinilai masih memiliki prospek cerah. Tingginya konsumsi masyarakat dan perkembangan ekonomi digital menjadi katalis positif bagi perusahaan-perusahaan di sektor ini untuk melantai di bursa.

"Sektor infrastruktur sebenarnya sektor health care, operating consumer kalau lainnya ini pasti berkaitan dengan dinamika kenaikan harga komoditas, bahkan juga infrastruktur dan logistik itu karena juga didukung oleh dinamika aktivitas preekonomian domestik belum lagi juga e-commerce masih hype,” ujarnya.

 

Kesehatan dan Teknologi Jadi Pilihan Selektif

Di sisi lain, sektor kesehatan (health care) dipandang sebagai sektor defensif yang tetap menarik di tengah ketidakpastian pasar. Permintaan yang stabil membuat sektor ini relatif tahan terhadap gejolak ekonomi.

Sementara itu, sektor teknologi masih memiliki peluang, namun dengan pendekatan yang lebih selektif. Investor kini cenderung menghindari perusahaan yang masih mengandalkan strategi “bakar uang” dan lebih memilih emiten dengan fundamental kuat serta profitabilitas yang jelas.

"Terus juga kalau untuk teknologi tapi selektif, carilah IPO di mana perusahaan ini lebih menitikberatkan kepada profitability bukan pada bakar uang kalau health care ya pasti inidefensive ya, health care dan consumer defensive,” ungkapnya.

Menurut dia, dengan kombinasi sektor unggulan dan perbaikan kualitas emiten, pasar IPO Indonesia pada 2026 diharapkan dapat kembali bergairah dan menarik minat investor domestik maupun global.

 

 

 

 

 

12 Perusahaan Antre IPO

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 12 perusahaan dalam proses penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) hingga saat ini. Mayoritas perusahaan dengan aset besar yang sedang proses IPO.

Adapun hingga 27 Maret 2026, belum ada pencatatan saham perdana di BEI. Akan tetapi, 12 perusahaan masih antre IPO.

“Hingga saat ini terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, ditulis Sabtu (28/3/2026).

Berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017 antara lain:

  • 0 perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar)
  • 1 perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar)
  • 11 perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar)

Rincian sektornya antara lain:

  • 0 perusahaan dari sektor basic materials
  • 0 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 3 perusahaan dari sektor consumer nonsilikal
  • 1 perusahaan dari sektor energi
  • 1 perusahaan dari sektor keuangan
  • 2 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 0 perusahaan dari sektor industri
  • 2 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 2 perusahaan dari sektor teknologi
  • 1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik