Wall Street Tergelincir Imbas Dampak Perang Iran

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street rontok jelang akhir pekan didorong sejumlah sentimen.

Diterbitkan 21 Maret 2026, 08:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada perdagangan Jumat, 20 Maret 2026. Koreksi wall street melemah seiring konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda dan harga minyak terus naik.

Mengutip CNBC, Sabtu (21/3/2026), indeks Dow Jones merosot 443,96 poin atau 0,96% dan berakhir di 45.577,47. Indeks S&P 500 terpangkas 1,51% dan ditutup ke posisi 6.506,48. Indeks Nasdaq tergelincir 2,01% dan ditutup ke posisi 21.647,61.

Selain itu, indeks saham perusahaan kecil Russell 2000 merosot lebih dari 2% dan tergelincir ke wilayah koreksi, yakni penurunan 10% dari titik tertinggi terakhirnya. Pada titik terendah hari itu, indeks Dow Jones dan Nasdaq diperdagangkan di wilayah koreksi, tetapi akhirnya ditutup di bawah ambang batas 10%.

Pergerakan ini terjadi setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan semalam. Sementara itu, Iran juga melancarkan serangan baru terhadap situs-situs energi di Teluk Persia.

Di sisi lain, Wall Street Journal melaporkan, mengutip pejabat AS, kalau Pentagon mengirimkan ribuan marinir tambahan ke Timur Tengah.

CBC News menyebutkan, persiapan besar-besaran sedang dilakukan untuk mengirim pasukan darat ke Iran, mengutip beberapa sumber.

Penjualan meningkat pada sore hari, setelah Reuters melaporkan bahwa Irak telah menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada semua ladang minyak yang dioperasikan oleh perusahaan asing. Hal ini menyebabkan harga minyak naik, dengan minyak mentah Brent mencapai USD 113 per barel pada titik tertingginya hari itu dan minyak WTI diperdagangkan di atas USD 98 per barel.

“Jika ini merupakan eskalasi yang melibatkan pasukan di darat, maka kita mungkin akan menghadapi setidaknya beberapa minggu lagi pasar dengan harga minyak yang lebih tinggi, harga gas yang tinggi; Anda bergantung pada setiap berita utama tentang infrastruktur energi di wilayah tersebut,” ujar ahli strategi investasi Baird, Ross Mayfield, kepada CNBC.

“Terus terang, pasar saham belum mengalami penurunan yang mencerminkan peristiwa semacam ini, jadi masih ada potensi penurunan lebih lanjut,” ia menambahkan.

 

 

Kekhawatiran Inflasi Meningkat

Sementara itu, kekhawatiran inflasi kembali meningkat dan pemotongan suku bunga dari Federal Reserve tidak mungkin terjadi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik pada Jumat, yang semakin berkontribusi pada pelemahan pasar saham.

Indeks utama mencatat penurunan selama empat minggu berturut-turut. S&P 500 bertahan lebih baik daripada indeks acuan lainnya, hanya turun 7% dari level tertingginya baru-baru ini.

“Tidaklah aneh dalam lingkungan yang kita hadapi saat ini, dengan banyaknya ketidakpastian yang ada, untuk mengalami koreksi 10% pada indeks mana pun,” kata Art Hogan dari B. Riley.

“Jadi, sejauh S&P lebih luas dan lebih beragam, kemungkinan besar akan menjadi yang terakhir jatuh. Tetapi ini juga menunjukkan bahwa kita berada dalam masa yang sangat tidak pasti.”

Penjualan terjadi secara luas pada Jumat dengan saham-saham teknologi unggulan di pasar bullish mengalami kerugian terbesar. Nvidia dan Tesla masing-masing kehilangan 3%. Hanya sedikit sektor yang aman karena kenaikan imbal hasil juga memukul sektor utilitas yang biasanya stabil.

Bursa Saham Asia-Pasifik Bergerak Beragam, Menyusul Gejolak di Wall Street AS

Sebelumnya, sebagian besar bursa saham Asia-Pasifik mengalami penurunan pada hari Jumat menyusul perdagangan yang bergejolak di Wall Street Amerika Serikat (AS) karena investor menjual aset mulai dari obligasi pemerintah hingga saham dan logam di tengah gejolak perang Iran.

Dikutip dari CNBC, Jumat (20/3/2026), indeks saham S&P/ASX 200 Australia turun 0,27% pada perdagangan awal saham di kawasan Asia Pasifik. Indeks saham Hang Seng Hong Kong berada di 25.312, lebih rendah dari penutupan terakhir indeks di 25.500,58.

Indeks saham Kospi Korea Selatan yang berisi saham-saham unggulan menjadi pengecualian, naik hampir 1% sementara indeks Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil naik 0,94%.

Pasar saham di Jepang tutup karena hari libur nasional. 

Teheran menyerang pabrik gas terbesar dunia di Qatar, menyebabkan kerusakan pada pasokan energi selama beberapa tahun ke depan, sebagai balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars.

CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengatakan serangan Iran telah menghilangkan 17% kapasitas ekspor LNG negara itu selama tiga hingga lima tahun.

Serangan balasan terhadap infrastruktur minyak dan gas utama di seluruh Timur Tengah menyebabkan harga energi melonjak.

Harga gas alam AS  terakhir terlihat naik 1,5%, diperdagangkan pada USD 3,112 per juta British thermal units. Harga bensin Nymex RBOB bulan depan untuk pengiriman bulan April, naik hampir 1% menjadi USD 3,13 dan mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun.