ADMF Kantongi Laba Rp 1,5 Triliun pada 2025

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) catat pendapatan naik 2,89% dan laba turun 14,6% pada 2025.

Diterbitkan 19 Februari 2026, 19:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatat kinerja keuangan beragam pada 2025. Perseroan mencatat kenaikan pendapatan tetapi laba turun sepanjang 2025.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (19/2/2026), PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk kantongi pendapatan Rp 12,12 triliun pada 2025. Pendapatan naik 2,89% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 11,78 triliun.

Beban perseroan naik 6,7% menjadi Rp 10,14 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 9,50 triliun.

Perseroan mengantongi laba tahun berjalan sebesar Rp 1,54 triliun pada 2025, turun 14,6% dari periode 2024 sebesar Rp 1,81 triliun. Seiring kinerja keuangan itu, perseroan mencatat laba per saham dasar turun 18,5% menjadi Rp 1.253 per saham dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1.538.

Ekuitas perseroan naik 3,3% menjadi Rp 15,03 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 14,54 triliun. Liabilitas turun menajdi Rp 23,49 triliun dari 2024 sebesar Rp 23,82 triliun. Aset perseroan bertambah 0,40% menjadi Rp 38,52 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 38,37 triliun.

Pada penutupan perdagangan saham Kamis, 19 Februari 2026, harga saham ADM naik 5,99% menjadi Rp 8.850 per saham. Harga saham ADMF dibuka turun 25 poin ke posisi Rp 8.325 per saham. Harga saham AMDF berada di level tertinggi Rp 8.875 dan level terendah Rp 8.325 per saham. Total frekuensi perdagangan 770 kali dengan volume perdagangan saham 9.214 saham. Nilai transaksi Rp 7,9 miliar.

Penutupan IHSG pada 19 Februari 2026

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan saham Kamis, (19/2/2026). Koreksi IHSG terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan 4,75% dan mayoritas sektor saham melemah.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melemah 0,43% ke posisi 8.274,08. Indeks saham LQ45 merosot 0,51% ke posisi 834,28. Sebagian besar indeks saham acuan melemah.

Dalam riset Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Bank Indonesia menahan suku bunga acuan 4,75%, deposit facility 3,75% dan lending facility 5,5% dengan inflasi tetap dalam target 2,5% plus minus satu persen serta cadangan devisa USD 154,6 miliar menegaskan stabilitas makro terjaga.

“Untuk pasar saham, dampaknya netral-positif, tidak ada shock kebijakan, tetapi juga belum menjadi katalis kuat seperti penurunan suku bunga,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, surplus perdagangan dan proyeksi Neraca Pembayaran Indonesia  (NPI) tetap sehat menurunkan risiko eksternal sehingga penurunan IHSG realtif terbatas.

Pada perdagangan saham Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.376,19 dan level terendah 8.251,81. Sebanyak 366 saham melemah sehingga bebani IHSG. 326 saham menguat dan 127 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 3.334.502 kali dengan volume perdagangan saham 53,3 miliar saham.

 

Sektor Saham

Nilai transaksi harian saham Rp 26,2 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.888. Investor asing masih melakukan aksi beli saham. Tercatat investor asing membeli saham Rp 387,02 miliar dalam sehari. Dengan demikian, sepanjang 2026, aksi jual oleh investor asing Rp 14,65 triliun.

Dari 11 sektor saham, enam sektor saham melemah. Sektor saham teknologi turun 1,16%, dan catat penurunan terbesar. Sektor saham keuangan melemah 1,03% dan sektor saham properti terpangkas 0,70%, sektor saham infrastruktur susut 0,27% dan sektor saham industri melemah 0,26%.

Sementara itu, sektor saham basic melonjak 2,85% dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham transportasi melesat 1,92% dan sektor saham energi mendaki 0,82%. Kemudian sektor saham consumer nonsiklikal naik 0,06%, sektor saham consumer siklikal menanjak 0,57% dan sektor saham kesehatan bertambah 0,04%.