Indeks Nikkei di Jepang Naik Terbatas Setelah Rilis Pertumbuhan Ekonomi

Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat terbatas pada perdagangan Senin, (16/2/2026) setelah mengumumkan pertumbuhan ekonomi.

Diterbitkan 16 Februari 2026, 08:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia konsolidasi pada perdagangan Senin, (16/2/2026), dan indeks Nikkei naik tipis usai Jepang mengumumkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini seiring libur Imlek mendorong perdagangan tipis dan data ekonomi yang kurang baik dari Jepang sedikit meredam pasar.

Mengutip laman au.investing.com, China, Korea Selatan, Taiwan dan Amerika Serikat termasuk di antara pusat-pusat perdagangan yang sepi membuat mata uang, komoditas dan obligasi sepi.

Data utama pekan ini baru akan dirilis Jumat ketika survei manufaktur global dirilis dan Amerika Serikat (AS) melaporkan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal keempat. Perkiraan median adalah pertumbuhan tahunan sebesar 3%, turun dari 4,4% pada kuartal sebelumnya tetapi masih solid.

Di sisi lain, Jepang melaporkan pertumbuhan ekonomi hanya 0,1% pada Desember 2025, jauh di bawha perkiraan pertumbuhan 1,6%. Hal ini seiring pengeluaran pemerintah menghambat aktivitas ekonomi.

Angka-angka yang mengecewakan itu menekankan tugas berat yangn menanti Perdana Menteri Sanae Takaichi dan seharusnya mendukung upaya untuk stimulus fiskal yang lebih agresif.

Mungkin dengan pertimbangan itu, investor mendorong indeks Nikkei naik 0,2% setelah kenaikan 5% pekan lalu. Indeks saham Asia-Pasifik MSCI di luar Jepang menguat 0,1%.

Sementara itu, bursa saham Korea Selatan melonjak 8,2% pekan lalu. Sedangkan bursa saham Taiwan naik hampir 6%.

"Kekhawatiran kami di Asia adalah jika perusahaan teknologi raksasa mengumumkan penghentian sementara pengeluaran modal. Hal itu dapat menyebabkan koreksi tajam pada saham yang telah melonjak tajam di pasar seperti Korea tahun ini,” ujar Chief Investment Officer Vantage Point, Nick Ferres.

“Meskipun rotasi kemungkinan akan menguntungkan pasar negara berkembang, kami semakin berhati-hati terhadap saham di Korea dan Taiwan setelah kinerja dan peningkatan peringkat yang luar biasa,” ia menambahkan.

 

 

Lebih Banyak Belanja Modal Berarti Lebih Sedikit Pembelian Kembali Saham

Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,2%, sementara kontrak berjangka Nasdaq naik 0,1%. Musim laporan keuangan berlanjut, dengan daya tarik utama adalah Walmart, yang akan memberikan gambaran tentang tren pengeluaran konsumen setelah Desember yang mengecewakan untuk penjualan ritel.

Saham peritel tersebut telah melonjak 20% tahun ini, membawa kapitalisasi pasarnya di atas USD 1 triliun dan menjadikannya perusahaan terbesar berdasarkan nilai pasar di sektor barang konsumsi pokok, yang naik 15% pada 2026.

Saham defensif telah diuntungkan dari rotasi keluar dari sektor teknologi di tengah kekhawatiran tentang biaya besar belanja modal AI dan efek disruptif persaingan AI pada sektor-sektor seperti perangkat lunak, yang telah kehilangan 24% nilai pasarnya dalam tiga bulan terakhir.

Rencana belanja modal (capex) perusahaan hyperscaler telah membengkak menjadi USD 660 miliar, USD 120 miliar lebih tinggi daripada di awal musim laporan keuangan.

Analis di Goldman Sachs mencatat seiring dengan melonjaknya belanja modal, pembelian kembali saham di S&P 500 telah turun 7% dibandingkan tahun lalu.

"Ini menandai kuartal ketiga berturut-turut stagnasi," tulis mereka dalam sebuah catatan.

"Kami memperkirakan meningkatnya kelangkaan arus kas bebas dan pembelian kembali saham akan memperkuat premi bagi perusahaan yang fokus pada pengembalian arus kas kepada pemegang saham."

 

 

Pasar Komoditas

Tidak ada kekurangan aliran uang tunai ke pasar obligasi karena uang keluar dari saham dan data ekonomi AS mendukung argumen untuk lebih banyak pemotongan suku bunga dari Federal Reserve.

Imbal hasil obligasi Treasury dua tahun turun menjadi 3,408% pada Jumat, penutupan terendah sejak pertengahan 2022. Kontrak berjangka menunjukkan peluang 68% The Federal Reserve (the Fed) akan memangkas suku bunga pada bulan Juni dan memperhitungkan pelonggaran sebesar 62 basis poin untuk tahun ini.

Penurunan imbal hasil menarik indeks dolar turun 0,8% pekan lalu menjadi 96,890, dengan sebagian besar kerugian terjadi terhadap yen Jepang yang pulih.

Dolar sedikit lebih kuat di 152,94 yen, setelah merosot 2,9% pekan lalu, sementara euro tetap stabil di USD 1,1870. Dolar AS juga melemah 1% terhadap franc Swiss pekan lalu, sementara euro merosot di bawah 0,9100 franc untuk pertama kalinya sejak 2015.

Kenaikan franc yang tak henti-hentinya membuat pasar waspada terhadap kemungkinan intervensi dari Bank Nasional Swiss mengingat inflasi sudah turun menjadi 0,1%, mendekati titik terendah dari kisaran target 0% hingga 2%.

Di pasar komoditas, harga emas turun 0,5% menjadi USD 5.014 per ons, setelah berfluktuasi liar dalam beberapa minggu terakhir karena beberapa investor terpaksa keluar dari posisi leverage mereka.

Harga minyak tetap stabil karena investor mencerna laporan Reuters bahwa OPEC cenderung untuk melanjutkan peningkatan produksi minyak mulai April.

Harga Brent tetap stabil di USD 67,74 per barel, sementara harga minyak mentah AS hampir tidak berubah di USD 62,87 per barel.