Moody's Pangkas Outlook Indonesia, Analis Sebut Sinyal Waspada Disiplin Fiskal

Head of Research Kisi Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi menilai, langkah Moody's menurunkan peringkat Indonesia menjadi negatif jadi peringatan awal.

Diterbitkan 08 Februari 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Analis Pasar saham sekaligus Head of Research KiSi Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai penurunan prospek atau outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings dari stabil menjadi negatif, belum mencerminkan krisis, melainkan sinyal peringatan awal bagi pelaku pasar dan pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal.

Ia menyebut, perubahan outlook tersebut merupakan bentuk early warning bagi stabilitas ekonomi. Namun, status Indonesia yang masih berada di level investment grade membuat dampaknya belum bersifat struktural atau jangka panjang. Investor disebut masih melihat fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat.

"Ini early warning buat disiplin fiskal tapi bukan bencana karena status investment grade masih aman," kata Wafi kepada Liputan6.com, Minggu (8/2/2026).

Dia menuturkan, reaksi pasar lebih banyak dipengaruhi faktor persepsi risiko jangka pendek yang dapat memicu volatilitas pada instrumen keuangan, terutama obligasi dan nilai tukar rupiah. Hal ini berpotensi membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menempatkan dana.

Selain itu Wafi menjelaskan, penurunan outlook oleh Moody’s berpotensi memicu gejolak sementara di pasar, khususnya pada perdagangan obligasi pemerintah dan pergerakan nilai tukar. Investor asing cenderung menyesuaikan ekspektasi risiko sehingga mempengaruhi arus modal masuk.

"Investor baiknya liat ini sebagai penyesuaian persepsi risiko jangka pendek yang bisa picu volatilitas di pasar obligasi dan nilai tukar," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan bencana bagi pasar keuangan nasional. Selama peringkat kredit Indonesia masih berada dalam kategori layak investasi, dampaknya cenderung terbatas dan lebih bersifat sentimen jangka pendek.

 

Sektor Paling Sensitif

Wafi menilai sektor perbankan dan BUMN Karya menjadi yang paling sensitif terhadap perubahan outlook tersebut. Perbankan terdampak langsung karena kepemilikan surat utang negara yang besar, sehingga fluktuasi pasar obligasi dapat memengaruhi kinerja mereka.

Sementara itu, BUMN Karya serta emiten yang memiliki eksposur utang dalam mata uang asing dinilai lebih rentan. Potensi kenaikan biaya dana dan pelemahan rupiah dapat menambah tekanan terhadap beban keuangan perusahaan-perusahaan tersebut.

"Sektor perbankan dan BUMN Karya paling sensitif. Perbankan terdampak langsung karena kepemilikan surat utang negara yang besar sedangkan BUMN Karya dan emiten dengan eksposur utang valas tinggi rawan dari potensi kenaikan biaya dana dan pelemahan rupiah," ujarnya.

 

 

Peluang Buy on Weakness

Meski begitu, ia melihat pasar cenderung bereaksi berlebihan terhadap sentimen negatif ini. Kondisi tersebut justru membuka peluang buy on weakness, terutama untuk akumulasi saham perbankan berkapitalisasi besar dan sektor konsumen primer yang memiliki fundamental kuat.

"Pasar cenderung overreact yang justru bikin peluang buy on weakness untuk akumulasi saham perbankan big caps dan konsumen primer yang fundamentalnya solid," pungkasnya.

Â