Lovina Beach (STRK) Siap Ekspansi Pasar Global, Bidik Kenaikan Pendapatan 5 Kali Lipat

PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) menyebutkan kebutuhan dana untuk ekspansi sebesar Rp 10 miliar untuk mendongkrak kapasitas perseroan.

Diterbitkan 29 Desember 2025, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) bersiap melakukan ekspansi pada 2026. Perusahaan ini tengah menambah kapasitas fasilitas pendukung sekaligus menyiapkan peningkatan produksi guna menangkap peluang pasar global.

Direktur Utama PT Lovina Beach Brewery Tbk, Bona Budhisurya, menyampaikan perseroan saat ini tengah membangun dua fasilitas tambahan yang akan dimanfaatkan sebagai area penyimpanan.

Menurut Bona, kapasitas operasional yang dimiliki perusahaan sebenarnya masih memadai untuk mendukung kebutuhan pasar, baik ekspor maupun domestik. Namun, peningkatan kebutuhan penyimpanan bahan baku dan kemasan tetap harus dilakukan.

"Kita lagi bangun extension, dua bangunan yang sekarang sedang dikejar penyelesaiannya. Ini lebih ke warehouse, karena kita harus stok yang volumenya besar,” ujar Bona kepada awak media di Potato Head Beach, Bali, Sabtu 27 Desember 2025.

Peningkatan kapasitas operasional tersebut dilakukan seiring penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan mitra distributor terbesar di Jepang. Di sisi lain, sejumlah calon mitra dari Eropa, Amerika Serikat, dan Meksiko juga telah melakukan penjajakan langsung.

"Yang dari Amerika, Eropa, dan Meksiko datang untuk melihat langsung. Mereka akan ke pabrik. Kalau sudah lihat langsung, biasanya tinggal signing,” kata Bona.

Bona menilai pasar Jepang, khususnya untuk produk ready to drink (RTD), sangat besar. Bahkan, jika Lovina hanya mampu menguasai sekitar 0,03 persen dari pasar RTD Jepang, pabriknya harus beroperasi penuh selama 24 jam.

“Kalau itu tercapai, pabrik kita jalan 24 jam. Artinya kita juga butuh lebih banyak tenaga kerja dari masyarakat Bali,” ujarnya.

Terkait nilai kebutuhan dana ekspansi, Bona memperkirakan berada di angka di atas Rp 10 miliar.

“Estimasi di atas Rp 10 miliar. Tapi kita pilih yang kualitasnya bagus dan masuk akal,” katanya.

Dengan ekspansi tersebut, Lovina menargetkan lonjakan penjualan yang signifikan pada 2026. Bona memproyeksikan pendapatan dan laba bersih perusahaan bisa tumbuh lima kali lipat dibandingkan sejak melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada 2023.

“Minimum lima kali lipat. Market luar negeri itu besar sekali, dan kita sudah secure partner-partnernya,” tegasnya.

Kontribusi Ekspor

Dalam komposisi penjualan, Bona memperkirakan kontribusi ekspor akan jauh melampaui pasar domestik. Pada tahap awal, perbandingan ekspor dan lokal diperkirakan 60:40. Namun, jika pasar Eropa, Amerika, dan Meksiko terealisasi, porsi ekspor bisa mencapai 90 persen.

Bona mengakui kondisi pasar di dalam negeri sendiri masih lesu. Penurunan daya beli membuat penjualan turun hingga 50 persen. Kondisi inilah yang mendorong Lovina lebih agresif membidik pasar global.

"Kalau market lokal sepi, ya kita cari market luar. Kita enggak boleh kalah dulu,” ujarnya.

Produk Coco Bali diposisikan sebagai andalan di segmen ready-to-drink (RTD), yang saat ini tengah menunjukkan pertumbuhan signifikan secara global. Berdasarkan data Fortune Business Insights, nilai pasar RTD dunia pada 2024 mencapai USD 766,69 miliar, dengan kawasan Asia Pasifik menguasai 35,67% dari total pangsa pasar.

Kerja Sama Strategis

Sebelumnya, PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Coco Bali Pte Ltd, perusahaan minuman yang berbasis di Singapura. Kerja sama ini merupakan langkah STRK dalam memperluas dan memperkuat eksistensinya di pasar global.

Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan menghadirkan sejumlah produk baru yang mengusung konsep gaya hidup premium, dengan inspirasi dari kekayaan budaya serta sumber daya alam Bali, Indonesia.

Direktur Utama PT Lovina Beach Brewery Tbk, Bona Budhisurya, mengungkapkan kerja sama tersebut didorong oleh tren pertumbuhan pasar di sektor minuman ready to drink (RTD) dan premium yang kian menguat, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

"Kami melihat pasar RTD dan premium beverage terus bertumbuh, terutama di Asia Pasifik. Konsumen sekarang mencari produk yang praktis, rasa yang seimbang, dan punya cerita. Di situlah Coco Bali kami posisikan,” ujar Bona saat konferensi pers di Potato Head Beach Club, Badung, Bali, Sabtu, 27 Desember 2025.

Ia menegaskan, pengembangan sejumlah produk ini tidak hanya ditujukan sebagai proyek jangka pendek, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perseroan dalam memperkuat inovasi.

"Bagi kami, proyek ini bukan jangka pendek. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk terus berinovasi, tetap patuh pada regulasi, serta membawa kualitas craft Indonesia ke level yang lebih tinggi, ke level dunia,” ucapnya.