Pendapatan Campina Tembus Rp 860 Miliar, Bertahan di Tengah Pelemahan Konsumsi

PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) konsistensi mencetak pertumbuhan pendapatan jangka panjang dengan CAGR 3,16% sejak 2012 hingga 2024.

Diterbitkan 15 Desember 2025, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) menunjukkan ketahanan kinerja di tengah dinamika makroekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat. Saat pertumbuhan ekonomi nasional melambat dan konsumsi rumah tangga cenderung selektif, perseroan masih mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,14% secara tahunan menjadi Rp 860 miliar hingga kuartal III 2025.

"Kinerja yang relatif resilient di tengah dinamika makroekonomi. Dalam konteks tersebut, Campina mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,14% year-on-year menjadi Rp 860 miliar, sejalan dengan laju pertumbuhan industri es krim nasional yang sedikit melambat," kata Sekretaris Perusahaan Campina Ice Cream Industry Sagita Melati dalam Paparan Publik Campina, Senin (15/12/2025).

Kinerja tersebut sejalan dengan perlambatan industri es krim nasional, namun tetap mencerminkan kemampuan perseroan menjaga volume penjualan dan momentum komersial.

Bagi pelaku pasar modal, capaian ini menjadi sinyal bahwa Campina memiliki basis permintaan yang relatif stabil meskipun tekanan konsumsi masih berlangsung.

Secara historis, konsistensi kinerja Campina juga tercermin dari pertumbuhan pendapatan jangka panjang dengan CAGR 3,16% sejak 2012 hingga 2024.

"Campina mencatatkan pertumbuhan yang stabil dengan CAGR sebesar 3,16% sejak tahun 2012 hingga tahun 2024," ujarnya.

Trend ini menunjukkan kemampuan perseroan dalam menjaga top line secara konsisten, meskipun dihadapkan pada periode tekanan konsumsi dan disrupsi eksternal.

 

Margin Tertekan

Dari sisi profitabilitas, tekanan biaya masih menjadi tantangan utama. Laba bersih hingga kuartal III 2025 tercatat menurun 20,54% secara tahunan, seiring kenaikan signifikan biaya bahan baku dan distribusi. Margin laba kotor juga tertekan akibat peningkatan proporsi direct material terhadap penjualan.

"Laba bersih hingga kuartal III tahun 2025 menurun 20,54% menjadi 6,98%. Penurunan laba bersih dan di EBITDA juga mencerminkan keputusan manajemen untuk menahan kenaikan harga jual secara agresif guna menjaga volume maupun penjualan di tengah sensitivitas daya beli masyarakat," jelasnya.

Manajemen memilih untuk tidak menaikkan harga jual secara agresif demi menjaga volume penjualan di tengah tingginya sensitivitas daya beli konsumen. Keputusan ini berdampak pada penurunan margin jangka pendek, namun dinilai sebagai langkah defensif untuk menjaga pangsa pasar dan keberlanjutan pendapatan.

 

Fokus Efisiensi dan Strategi Jangka Panjang

Untuk menjaga daya tarik saham di mata investor, Campina memfokuskan strategi pada efisiensi operasional, optimalisasi distribusi, serta penyesuaian portofolio produk. Perseroan juga memperkuat kanal digital dan strategi harga yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar.

Dalam jangka panjang, profitabilitas Campina masih menunjukkan tren positif dengan CAGR laba bersih 7,78% dan CAGR EBITDA 2%. Hal ini menandakan kemampuan perseroan menghasilkan arus kas yang sehat meski menghadapi tekanan biaya dalam beberapa tahun terakhir.

"Dari sisi profitabilitas, laba bersih dan EBITDA menunjukkan pertumbuhan jangka panjang yang positif dengan CAGR laba bersih sebesar 7,78% dan CAGR EBITDA 2%," pungkasnya.