Rahasia Sampoerna (HMSP) Pimpin Pasar di Indonesia

Salah satu langkah yang dilakukan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dengan mengembangkan produk di kategori bebas asap.

Diterbitkan 03 Desember 2025, 14:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) memaparkan perkembangan kinerja hingga kuartal III 2025, termasuk langkah Sampoerna dalam menghadapi perubahan industri hasil tembakau dan pergeseran preferensi konsumen. 

Perusahaan juga melanjutkan pengembangan produk di kategori bebas asap seperti IQOS, VEEV, ZYN, dan BONDS by IQOS. Beberapa inisiatif yang dijalankan antara lain peluncuran batang tembakau BLENDS untuk produk tembakau yang dipanaskan, varian baru TEREA Riviera Pearl, serta perluasan distribusi BONDS ke sejumlah kota besar.

Menurut perusahaan, rangkaian langkah tersebut turut mendorong posisinya di segmen produk bebas asap. Pada laporan sembilan bulan  2025, Sampoerna menyampaikan  perusahaan mencatatkan pangsa pasar sebesar 30,9% dengan volume penjualan 59,4 miliar batang. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan ekonomi nasional dan dinamika pasar yang mendorong konsumen beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau.

Penjualan bersih perusahaan mencapai Rp 83,7 triliun atau turun 5,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih tercatat Rp 4,5 triliun, turun 13,7% secara tahunan. Perusahaan menyebut penurunan ini lebih baik dibandingkan kinerja Semester I 2025.

Dalam paparannya, Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi, mengatakan, di tengah tantangan dan dinamika industri yang terus berkembang, Sampoerna tetap konsisten menjalankan strategi bisnis serta terus berinovasi demi memperkuat kualitas produk dan portofolio lintas segmen, baik di segmen rokok konvensional maupun produk bebas asap. 

"Kami juga terus memperkuat organisasi melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia, guna meningkatkan daya saing dan menjadi salah satu pusat talenta Philip Morris International (PMI)," ujarnya.

 

Strategi Multi-Kategori HMSP

Ia juga menambahkan, selain upaya nyata yang dilakukan secara konsisten, dukungan Pemerintah merupakan salah satu kunci dalam menjaga keberlangsungan industri legal di tengah tantangan dan dinamika saat ini. 

"Kami sangat mengapresiasi kebijakan Pemerintah untuk menerapkan tarif cukai yang sama di tahun ini dan tahun depan. Kebijakan ini, disertai dengan penegakan hukum terhadap peredaran rokok ilegal, memberikan ruang bagi industri hasil tembakau legal untuk tetap bertahan, menjaga penerimaan negara, dan mendukung perekonomian nasional,” ia menambahkan.

Dalam penjelasannya, perusahaan menyatakan strategi multi-kategori terus dijalankan melalui penguatan merek di berbagai segmen, termasuk A Mild, Magnum, dan Marlboro di kategori SKM, serta Dji Sam Soe dan Sampoerna Kretek di segmen SKT.

Ivan menjelaskan, transformasi perusahaan diarahkan untuk menyesuaikan portofolio lintas segmen dengan preferensi konsumen dewasa, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai perusahaan yang telah menjadi bagian dari perjalanan Sampoerna selama lebih dari satu abad.

Perusahaan juga menginformasikan operasional Sampoerna melibatkan lebih dari 90.000 tenaga kerja langsung maupun tidak langsung melalui fasilitas produksi di Pulau Jawa serta 43 Mitra Produksi Sigaret (MPS). Di sektor hulu, kemitraan dengan sekitar 19.500 petani tembakau dan cengkih terus dijalankan.

Mengacu pada studi Litbang Kompas 2025, aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan Sampoerna disebut memiliki efek berganda sekitar Rp 204,1 triliun per tahun atau setara 1% PDB.

 

Program Sampoerna untuk Indonesia

Selain itu, inisiatif pemberdayaan melalui program "Sampoerna untuk Indonesia" masih berlanjut, termasuk pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan, dan digitalisasi. Program Sampoerna Retail Community (SRC) kini mencakup lebih dari 250.000 toko kelontong, dan sebagian besar telah menggunakan ekosistem digital AYO by SRC. Berdasarkan riset KG Media, omzet jaringan SRC mencapai Rp 263 triliun pada 2022.

Program pelatihan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) diklaim telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 97.000 peserta, sementara program lanjutan mendukung 1.600 UMKM, termasuk yang berhasil melakukan ekspor.

Tahun ini, perusahaan juga memperkenalkan program Sampoerna Karya Bangsa (SKB) yang berfokus pada pengembangan keterampilan dan pelatihan vokasional untuk meningkatkan kapasitas tenaga kerja.

"Dengan semangat inovasi dan berlandaskan Falsafah Tiga Tangan, transformasi yang dijalankan oleh Sampoerna tidak hanya bertujuan untuk pertumbuhan bisnis, tetapi juga untuk menjadi mitra pembangunan bangsa serta berkontribusi dalam mewujudkan kemandirian ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Ivan.