BEI: Laporan ESG Kredibel Bangun Kepercayaan Investor

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan, tingginya tingkat kepatuhan emiten terhadap penerapan ESG penting untuk menjaga pasar modal Indonesia di mata dunia.

Diterbitkan 03 Desember 2025, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tingkat kepatuhan perusahaan tercatat atau emiten dalam menyampaikan laporan keberlanjutan (sustainability report) menunjukkan tren positif. Hal ini ditunjukkan dari jumlah emiten yang melapor terkait laporan ESG tembus 90% lebih. Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pemenuhan kewajiban pelaporan tersebut sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten dan Perusahaan Publik.

"Memang belum 100 persen (emiten yang menyampaikan laporan keberlanjutan), karena tidak semuanya juga menyampaikan laporan keuangan tepat waktu, karena itu (biasanya disampaikan) satu paket antara laporan keuangan dengan laporan keberlanjutan,” kata Jeffrey Hendrik seperti dikutip dari Antara.

Ia mengatakan, tidak ada kendala teknis yang dihadapi perusahaan dalam mengimplementasikan pelaporan Environmental, Social and Governance (ESG) tersebut.

Ia mengatakan, tingginya tingkat kepatuhan emiten terhadap implementasi ESG penting untuk menjaga daya saing pasar modal Indonesia di mata dunia.

BEI berkomitmen untuk memfasilitasi keterbukaan tersebut agar pasar modal domestik lebih adaptif terhadap kebutuhan investor modern yang mengutamakan keberlanjutan.

"Kami berharap pasar modal Indonesia akan lebih beradaptasi sehingga akan menarik banyak investor global maupun investor domestik yang dari hari ke hari semakin peduli dengan penerapan prinsip-prinsip ESG ini," kata Jeffrey.

Jeffrey menuturkan, transparansi ESG kini bukan lagi sekadar pelengkap proses bisnis perseroan, tapi dapat mempengaruhi ekspektasi para investor global maupun domestik.

Ia mengatakan, pelaporan aktivitas keberlanjutan yang baik akan membantu investor memahami bagaimana perusahaan mengelola risiko terkait iklim dan sosial, serta strategi penciptaan nilai jangka panjang.

Ke depannya, BEI berkomitmen untuk memperluas indeks ESG serta mendukung pencatatan instrumen keuangan hijau, seperti sukuk hijau (green bonds) dan produk investasi berkelanjutan lainnya.

Langkah tersebut diharapkan dapat memobilisasi modal menuju proyek-proyek yang mendorong pertumbuhan ekonomi transisi di Indonesia.

“Laporan ESG yang kredibel membangun kepercayaan investor dan mendukung nilai perusahaan yang berkelanjutan,” ujar Jeffrey.

BEI Bakal Luncurkan IDX-ESG Disclosure Guidance

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menerbitkan IDX-ESG Disclosure Guidance. IDX ESG Disclosure Guidance adalah panduan untuk membantu perusahaan tercatat dalam mengungkapkan informasi terkait Environmental, Social, and Governance (ESG) secara transparan dan terstruktur.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI, Ignatius Denny Wicaksono, CFA menjelaskan, rencana penerbitan IDX ESG Disclosure Guidance adalah untuk membantu perusahaan tercatat dalam perjalanan keberlanjutan mereka. Panduan ini akan diluncurkan bersama dengan implementasi platform pelaporan metrik ESG pada tahun 2024.

"BEI berencana meluncurkan ESG Metric Platform pada awal kuartal I tahun 2025 untuk penyampaian laporan keberlanjutan tahun buku 2024 oleh perusahaan-perusahaan tercatat," kata Denny, Rabu (20/11/2024).

Tujuan dari panduan ini adalah untuk membantu perusahaan dalam beberapa aspek. Antara lain memahami konsep ESG, melaporkan emisi Gas Rumah Kaca (GHG), memahami masing-masing metrik ESG, dan menyelesaikan pelaporan metrik ESG melalui platform pelaporan IDX.

"Jadi untuk penghitungan 2024, berakhirnya di April 2025. Semoga antara Januari-April, sebelum itu kita sudah terapkan (IDX ESG Disclosure Guidance) yang baru," imbuh Denny.

Pada tahun yang akan datang, BEI berencana menyelenggarakan kelanjutan program IDX Net Zero Incubator bagi perusahaan tercatat, yang akan meliputi topik terkait Setting Net Zero Target & Trajectory serta penyusunan roadmap dan strategi dekarbonisasi perusahaan tercatat. Program ini juga akan diperluas dengan mengikutsertakan perusahaan-perusahaan tercatat lainnya yang belum memperoleh kesempatan untuk mengikuti pelatihan pada tahun ini.

 

 

Kinerja Penurunan Emisi

Adapun untuk tahun ini, program IDX Net Zero Incubator diselenggarakan sejak 1 Agustus 2024 (Modul 1) sampai dengan 6 November 2024 (modul 5) yang diikuti oleh 117 perusahaan tercatat.

Pelatihan diselenggarakan secara offline dan online, yang terdiri dari 8 kali pertemuan dengan total waktu pelatihan selama 27 jam.

Diharapkan setelah mengikuti rangkaian pelatihan ini, perusahaan tercatat dapat mengaplikasikannya dalam penyusunan pelaporan aspek-aspek ESG perusahaan, khususnya dalam penyampaian kinerja penurunan emisi, secara transparan dan akurat pada Laporan Keberlanjutan oleh perusahaan tercatat.

Ke depannya, diharapkan juga semakin banyak perusahaan yang peduli terhadap perubahan iklim dan dapat memulai perjalanan dekarbonisasi guna berkontribusi terhadap pengurangan efek emisi gas rumah kaca secara keseluruhan.