Liputan6.com, Jakarta Capital inflow atau arus modal masuk ke Indonesia diperkirakan akan meningkat signifikan pada paruh kedua 2025, didorong oleh koordinasi strategis antara bank sentral di kawasan Asia.
Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura disebut tidak ingin mata uang mereka terlalu kuat karena dapat menurunkan daya saing ekspor.
Dalam konteks ini, Indonesia menjadi tujuan menarik bagi aliran dana asing karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dan stabilitas fiskal yang relatif terjaga.
Advertisement
Bank-bank sentral negara maju di Asia dinilai akan mulai membeli obligasi dari negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Malaysia.
Arah pergeseran aliran dana global ini dipicu oleh melemahnya daya tarik US Treasury, yang belakangan mengalami penurunan permintaan dan hasil lelang yang mengecewakan. Hal ini membuka peluang besar bagi pasar obligasi Indonesia untuk menjadi magnet baru bagi investor kawasan.
“Saya lihat ada kemungkinan capital flow balik ke Indonesia di second half, yang mana sebagian besar itu akan datang dari central bank–central bank di Asia. Kemungkinan ini akan membuat terjadi apresiasi rupiah,” ujar Chief Economist PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, Fakhrul Fulvian, Rabu (4/6/2025).
Rupiah Bisa Menguat ke Rp 15.500
Fakhrul menyatakan bahwa penguatan rupiah hingga Rp 15.500 per dolar AS pada tahun ini bukan hanya karena faktor teknikal, tetapi murni karena aliran dana asing yang masuk.
Fenomena ini juga didorong oleh semakin lunturnya peran dolar AS sebagai jangkar keuangan global, terutama setelah AS menyatakan tidak lagi ingin menyerap kelebihan likuiditas dunia melalui US Treasury.
Daya Tarik Pasar Asia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5092470/original/051788900_1736770258-20250113-Rupiah_Melemah-ANG_4.jpg)
Selain itu, kondisi pasar AS yang melemah memperkuat daya tarik pasar Asia. Dengan turunnya opsi investasi di AS dan kebijakan fiskal Indonesia yang konservatif, investor global mulai mengalihkan dananya ke pasar negara berkembang yang lebih prospektif.
Ketidakpastian di pasar obligasi AS memberi ruang bagi negara seperti Indonesia untuk mengisi kekosongan tersebut.
“Kita punya pandangan karena hal-hal fundamental ini, karena hal yang terkait dengan flow, dana asing, kita lihat rupiah itu bisa menguat ke 15.500 pada tahun ini. Pure karena flow, karena Amerika tidak mau lagi berperan sebagai penyerap dana global,” jelas Fakhrul.
Advertisement
Yield Obligasi Bisa Tembus 6%
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3566690/original/055374600_1631185686-20210909-PPKM-IHSG-5.jpg)
Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun diperkirakan bisa mencapai 6%, menciptakan momentum yang menarik bagi korporasi untuk menerbitkan obligasi.
Tingkat imbal hasil ini dinilai cukup kompetitif, terlebih di tengah tren penurunan suku bunga global dan potensi penguatan nilai tukar rupiah. Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperoleh pendanaan dengan biaya yang relatif lebih rendah.
Dengan membaiknya kondisi pasar dan meningkatnya minat investor, Fakhrul menilai bahwa paruh kedua 2025 merupakan periode yang tepat bagi emiten untuk masuk ke pasar.
Yield tinggi di tengah stabilitas makro dapat mendorong penerbitan obligasi lebih agresif, baik oleh pemerintah maupun sektor swasta.
“Akhir tahun second half akan menjadi waktu yang lebih preferable untuk menerbitkan corporate bond dibandingkan second half. Taruhannya apa di sini? Yang kita lihat di sini hal yang jadi paling penentunya, wildcard-nya adalah apakah Amerika Serikat mau tidak mau harus melakukan bond buying-nya di yield yang lebih tinggi,” tutur Fakhrul.
Peran China dan Local Currency Settlement Ubah Peta Pendanaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2970772/original/032944800_1574070739-20191118-Perdagangan-Awal-Pekan-IHSG-Ditutup-di-Zona-Merah-2.jpg)
Salah satu game changer yang disebut Fakhrul adalah perjanjian bilateral antara Bank Indonesia dan PBOC (bank sentral Tiongkok), yang memungkinkan penerbitan obligasi oleh entitas Indonesia dalam mata uang yuan (CNH).
Indonesia menjadi negara pertama yang memperluas kerjasama transaksi lokal dengan Tiongkok hingga ke akun finansial, bukan hanya perdagangan dan investasi langsung.
Hal ini membuka jalan bagi pemerintah dan korporasi untuk mengakses pasar pendanaan dengan yield lebih rendah.
Fakhrul memperkirakan bahwa jika Indonesia berhasil tapping ke pasar obligasi CNH, yield-nya bisa serendah 3%. Ini menjadi pembeda signifikan dibandingkan pendanaan dolar AS yang saat ini memiliki yield sekitar 5,5%.
Kelebihan likuiditas di Tiongkok dan kebijakan suku bunga rendah menjadikan pasar CNH sebagai alternatif strategis bagi pembiayaan Indonesia ke depan.
“Ada kemungkinan di kuartal III nanti, Indonesia akan menerbitkan obligasi dalam Renminbi untuk pertama kalinya. Dengan likuiditas tinggi di China dan benchmark obligasi 10 tahun mereka hanya 1,6%, yield obligasi kita di pasar CNH bisa serendah 3%,” kata Fakhrul.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414164/original/000004000_1782298740-Cek_fakta_-_rumor_ukraina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256117/original/079954000_1781147945-Tugas__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2216035/original/023260300_1526473912-20180516-IHSG-1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/164/original/089229800_1562306521-WhatsApp_Image_2019-07-05_at_12.56.31.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262510/original/043477700_1781827837-AP26169828495121-Kanada_Piala_Dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542959/original/069384900_1775008055-Italia_vs_Bosnia-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264262/original/083963700_1782102827-senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263474/original/094364200_1781931705-paraguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8415599/original/012053300_1782300444-turki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263847/original/059626700_1782021744-000_B7RA6W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263738/original/072928200_1781986742-Crysencio_Summerville.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259148/original/073901100_1781485988-diallo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261495/original/061029900_1781712600-Ivory_Coast_s_Elye_Wahi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259250/original/045793700_1781492796-curacao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7942892/original/090201900_1780778139-AP26157707967919.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579573/original/036335300_1778057265-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3284618/original/004329100_1604313218-20201102-Hari-ini-Rupiah-Ditutup-melemah-atas-dolar-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291090/original/060643400_1604902998-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)