Sukses

Inflasi November 2022 5,42 Persen, IHSG Tergelincir ke Posisi 7.081

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah hingga penutupan perdagangan sesi pertama, Kamis (1/12/2022). Koreksi IHSG terjadi di tengah ada sentimen rilis data inflasi November 2022.

Mengutip data RTI, IHSG merosot 0,69 persen ke posisi 7.081,31. Indeks LQ45 tergelincir 0,96 persen ke posisi 998,65. Sebagian besar indeks acuan tertekan. Hingga sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 7.090,27 dan terendah 7.029,40.

Sebanyak 229 saham menguat dan 282 saham melemah. 175 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 834.479 kali dengan volume perdagangan 13,2 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 9,2 triliun.  Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 15.745.

Mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham energi melonjak 1,26 persen, sektor saham basic menguat 0,65 persen, sektor saham industri bertambah 0,25 persen, sektor saham kesehatan menanjak 0,08 persen. Selanjutnya sektor saham properti naik 0,53 persen dan sektor saham transportasi menanjak 1,2 persen.

Sedangkan sektor saham yang melemah antara lain sektor saham nonsiklikal susut 0,71 persen, sektor saham siklikal tergelincir 0,55 persen, sektor saham keuangan merosot 1,25 persen, sektor saham teknologi terpangkas 1,37 persen dan sektor saham infrastruktur merosot 0,10 persen.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut tingkat inflasi November 2022 mengalami pelemahan. Tingkat inflasi di bulan November tercatat 5,42 persen (yoy) atau lebih rendah dari tingkat inflasi di bulan Oktober sebesar 5,71 persen (yoy).

"Terdapat tekanan inflasi yang melemah pada bulan November ini. Kalau dilihat secara tahunan, terjadi inflasi 5,42 persen atau terjdi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 107,05 pada bulan November menjadi 112,85 di Oktober," kata Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa, BPS, Setianto dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis, 1 Desember 2022.

Setianto melanjutkan secara bulanan tingkat inflasi pada November tercatat 0,09 persen (mtm). Sehingga tingkat inflasi tahun kalendernya sebesar 4,82 persen.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Top Gainers-Losers pada 1 Desember 2022

Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:

-Saham OMRE melonjak 24,80 persen

-Saham OKAS melonjak 20,47 persen

-Saham ESTA melonjak 12,50 persen

-Saham BUAH melonjak 12,05 persen

-Saham IPAC melonjak 9,38 persen

 

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

-Saham NICK melemah 6,96 persen

-Saham ATAP melemah 6,93 persen

-Saham SINI melemah 6,82 persen

-Saham AMAR melemah 6,77 persen

-Saham BBRM melemah 6,76 persen

 

Saham-saham teraktif berdasarkan nilai antara lain:

-Saham BBRI senilai Rp 724 miliar

-Saham BBCA senilai Rp 537,5 miliar

-Saham BBSK senilai Rp 505,9 miliar

-Saham TLKM senilai Rp 470,4 miliar

-Saham ADMR senilai Rp 276,6 miliar

 

Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:

-Saham BSBK tercatat 45.010 kali

-Saham RAFI tercatat 28.588 kali

-Saham BBRI tercatat 22.150 kali

-Saham BBCA tercatat 21.245 kali

-Saham TLKM tercatat 17.832 kali

 

3 dari 4 halaman

Inflasi November 2022

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut tingkat inflasi November 2022 mengalami pelemahan. Tingkat inflasi di bulan November tercatat 5,42 persen (yoy) atau lebih rendah dari tingkat inflasi di bulan Oktober sebesar 5,71 persen (yoy).

"Terdapat tekanan inflasi yang melemah pada bulan November ini. Kalau dilihat secara tahunan, terjadi inflasi 5,42 persen atau terjdi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 107,05 pada bulan November menjadi 112,85 di Oktober," kata Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa, BPS, Setianto dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis, 1 Desember 2022.

Setianto melanjutkan secara bulanan tingkat inflasi di bulan November tercatat 0,09 persen (mtm). Sehingga tingkat inflasi tahun kalendernya sebesar 4,82 persen.

Berdasarkan komoditasnya, penyumbang inflasi tertinggi yaitu bensin, bahan bakar rumah tangga, tarif angkutan udara, rokok, beras, telur ayam ras, dan tarif angkitan dalam kota.

"Ini komoditas penyumbang inflasi tertinggi secara tahunan," kata dia.

 

 

 

 

 

4 dari 4 halaman

Inflasi Terendah

Setianto menjelaskan, dari 90 kota dan kabupaten yang diamati BPS, tingkat inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Selor, Kalimantan. Tingkat inflasinya mencapai 9,20 persen yang dikontribusi dari komoditas angkutan udara (2,07 persen), bensin (1,2 persen), bahan bakar rumah tangga (0,87 persen) dan cabai rawit (0,21 persen).

Sementara itu, tingkat inflasi terendah ada di Maluku Utara, yakni Kota Ternate dengan tingkat inflasi hanya 3,26 persen. Adapun komoditas penyumbang inflasinya yaitu angkutan udara (1,21 persen), bensin (0,66 persen), bawang merah (0,39 persen) dan bahan bakar rumah tangga (0,21 persen).

"Inflasi terendah dari 90 kota dan kabupaten di Ternate sbesar 3,26 persen," kata dia.

Sementara itu, tingkat inflasi tertinggi berdasarkan pulau antara lain, di Sumatera , inflasi tertinggi ada di Bukit Tinggi sebesar 7,01 persen. Di Jawa, tingkat inflasi tertinggi di Jember sebesar 7,76 persen. Di Kalimantan, inflasi tertinggi ada di Tanjug Selor sebesar 9,20 persen.

Untuk wilayah Bali-Nusra, tingkat inflasi tertinggi di Kupang sebesar 7,30 persen. Di Sulawesi, inflasi tertinggi ada di Pare-Pare sebesar 7,11 persen. Sedangkan di Papua, tingkat inflasi tertinggi di Kota Jayapura sebesar 6,81 persen.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS