Sukses

Bursa Saham Asia Melemah Tertular Wall Street

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik dibuka lebih rendah pada Kamis (18/8/2022), setelah reli wall streetterbaru mendingin semalam dan risalah Juli dari Komite Pasar Terbuka Federal AS menunjukkan sedikit bukti tekanan inflasi mereda pada saat pertemuan.

Indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 0,58 persen. Indeks Nikkei 225 Jepang, indeks Topix dan Kospi Korea Selatan turun sekitar 1 persen pada awal perdagangan.

Kerugian dirasakan di seluruh industri mulai dari ritel hingga pertambangan. Produsen batubara Australia Whitehaven Coal, bagaimanapun, terus menonjol, membukukan kenaikan 3,5 persen di awal perdagangan. 

Perusahaan diuntungkan dari lonjakan harga batu bara yang telah meningkat sejak tahun lalu seiring dengan dibukanya ekonomi global untuk bisnis. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,17 persen.

Setelah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Rabu, 17 Agustus 2022, Gubernur Reserve Bank of New Zealand Adrian Orr mengatakan pada Kamis, dia yakin inflasi akan turun.

"Kami tidak mengatakan kami keluar dari hutan, kami masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi kami punya waktu di pihak kami,” katanya kepada “Squawk Box Asia” CNBC, ditulis Kamis (18/8/2022).

Setelah pasar ditutup Rabu, Tencent mencatat penurunan penjualan kuartalan pertamanya. Perusahaan mengatakan pendapatannya dirugikan oleh kurangnya persetujuan game dan peraturan yang membatasi waktu bermain, lockdown pandemi dan ekonomi lemah yang merusak penjualan iklan. Australia akan merilis angka penganggurannya.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Penutupan Wall Street 17 Agustus 2022

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Rabu, 17  Agustus 2022. Reli yang telah mendorong harga lebih tinggi sejak Juni tampak kehilangan tenaga.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menilai data ritel terbaru dan risalah dari the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 171,69 poin atau 0,5 persen ke posisi 33.980,32. Indeks S&P 500 susut 0,72 persen menjadi 4.274,04. Indeks Nasdaq tergelincir 1,25 persen menjadi 12.938,12.

Indeks Dow Jones menghentikan kenaikan beruntun dalam lima hari tetapi menyelesaikan sesi mingguan yang sedikit positif hingga kini. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing tergelincir 0,14 dan 0,84 persen sejak awal pekan.

Saham bergejolak karena pelaku pasar menilai risalah pertemuan the Fed terbaru menunjukkan bank sentral akan melanjutkan kenaikan agresif hingga dapat meredam inflasi.

Pada saat yang sama, the Fed juga mengindikasikan dapat segera memperlambat kecepatan pengetatannya, sementara juga mengakui keadaan ekonomi dan risiko penurunan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

“Peserta menilai ketika sikap kebijakan moneter semakin diperketat, kemungkinan akan menjadi tepat di beberapa titik untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga sambil menilai efek penyesuaian kebijakan kumulatif pada kegiatan ekonomi dan inflasi,” kata risalah tersebut dilansir dari CNBC,  Kamis (18/8/2022).

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Pelaku Pasar Cermati Laba Ritel

Sementara itu, pelaku pasar juga terus menyisir laba korporasi dari sektor ritel. Saham Target tergelincir 2,6 persen setelah membukukan laba jauh dari harapan karena bergulat dengan kelebihan persediaan. Lowe mengakhiri sedikit lebih tinggi meskipun kuartal beragam.

Data penjualan ritel yang dirilis Rabu mendatar pada Juli, meskipun konsumen memang meningkatkan belanja online.

“Tidak mengherankan melihat pasar mengambil nafas dari reli musim panas yang sedang berlangsung,” ujar Direktur Pelaksana E-Trade Financial, Chris Larkin.

Ia menambahkan, pasar mencari tanda-tanda perlambatan kenaikan suku bunga yang tampaknya telah memicu kenaikan baru-baru ini akan datang. “Investor harus tetap gesit dan terus mengharapkan volatilitas karena kita mungkin belum keluar dari masalah,” kata dia.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi juga naik dengan obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 7 basis poin (bps) menjadi 2,9 persen karena kekhawatiran resesi dan ketidakpastian mengenai jalur kenaikan suku bunga the Fed terus berlanjut. Langkah ini menyeret saham-saham pertumbuhan seperti teknologi.

4 dari 4 halaman

Risalah Pertemuan The Fed

Sementara itu, dari risalah pertemuan the Fed pada Juli 2022 menunjukkan bank sentral berencana melanjutkan kenaikan suku bunga untuk menurunkan inflasi. “Dengan inflasi yang tetap jauh di atas tujuan komite, para peserta menilai perpindahan ke sikap kebijakan yang membatasi diperlukan untuk memenuhi mandat legislatif komite untuk mempromosikan lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga,” demikian mengutip risalah.

The Fed menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin pada dua pertemuan terakhirnya. Namun, bank sentral mengisyaratkan hal itu dapat memperlambat laju dalam beberapa bulan mendatang karena pergerakan besar secara histoir berlaku penuh.

“Peserta menilai ketika sikap kebijakan moneter semakin diperketat, kemungkinan akan menjadi tepat di beberapa titik untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga sambil menilai efek penyesuaian kebijakan kumulatif pada kegiatan ekonomi dan inflasi,” tulis risalah tersebut.

Beberapa peserta rapat juga mengindikasikan the Fed harus mempertahankan suku bunga pada tingkat yang membatasi bahkan setelah memperlambat kenaikan. Risalah juga menunjukkan the Fed khawatir tentang inflasi dan lingkungan ekonomi yang memburuk.

“Ketidakpastian tentang inflasi jangka menengah tetap tinggi, dan keseimbangan inflasi tetap condong ke atas, dengan beberapa peserta menyoroti kemungkinan guncangan pasokan lebih lanjut yang timbul dari pasar komoditas,” demikian mengutip risalah.

Anggota the Fed melihat risiko terhadap prospek pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil terutama pada sisi negatifnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS