Puncak Hari Santri, Menag Bicara Tantangan AI dan Masa Depan Pesantren

Santri dari berbagai pesantren berkumpul di Masjid Istiqlal dalam Munajat Santri untuk Negeri. Menag Nasaruddin Umar mendorong santri menguasai teknologi tanpa meninggalkan tradisi pesantren dan nilai kebangsaan.

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 23:22 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan santri, kiai, pengasuh pesantren, dan tokoh agama berkumpul di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026) malam, dalam kegiatan Munajat Santri untuk Negeri.

Di tengah perkembangan teknologi dan berbagai tantangan pembangunan, pesantren didorong tidak hanya memperkuat pendidikan keagamaan, tetapi juga meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, santri memiliki tanggung jawab menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman.

Pesantren, menurut dia, perlu terus beradaptasi tanpa kehilangan identitas, tradisi keilmuan, dan karakter pendidikan yang diwariskan para ulama.

Menag mengingatkan, penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak sejarah yang menunjukkan keterkaitan antara semangat keagamaan dan perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Nilai perjuangan tersebut, lanjut Nasaruddin, perlu diwariskan melalui pendidikan yang menanamkan kecintaan terhadap Tanah Air, keikhlasan, keteladanan, dan tanggung jawab sosial. Pesantren tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu agama, tetapi juga ikut menjaga persatuan, memperkuat moderasi beragama, dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

Menghadapi perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan, Menag menekankan pentingnya penguatan kompetensi santri di bidang sains, teknologi, dan bahasa internasional. Penguasaan berbagai disiplin ilmu itu diperlukan agar santri dapat mengambil peran lebih luas dalam pengembangan pengetahuan, dakwah, dan pembangunan bangsa.

Namun, kemajuan teknologi harus tetap berjalan beriringan dengan penguatan akhlak dan tradisi keilmuan pesantren. Kajian kitab kuning, kesinambungan sanad keilmuan, serta penghormatan kepada kiai dan guru, menurut Menag, merupakan fondasi pendidikan yang harus dijaga.

Kementerian Agama juga berkomitmen memperkuat ekosistem pendidikan pesantren melalui implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Penguatan tersebut mencakup peningkatan mutu pendidikan, pengakuan terhadap lulusan, dukungan pembiayaan, hingga pengembangan kemandirian ekonomi pesantren.

Selain itu, Menag menyoroti pentingnya pemenuhan hak santri untuk memperoleh lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bermartabat. Pencegahan kekerasan, perundungan, dan pelecehan di lingkungan pendidikan keagamaan menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga marwah pesantren.

Gus Kikin Soroti Pemerataan Kesejahteraan

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum memperkuat persatuan dan meningkatkan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Dalam pidato kebudayaannya, Gus Kikin menguraikan perjalanan sejarah bangsa, mulai dari tumbuhnya gerakan kebangsaan, perjuangan para ulama, hingga peran tokoh-tokoh Islam dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keutuhan Indonesia.

Ia juga mengingatkan sejarah berdirinya Masjid Istiqlal yang digagas sejumlah tokoh Islam, termasuk KH Abdul Wahid Hasyim dan H. Anwar Tjokroaminoto, sebagai simbol rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan pentingnya persatuan dan kemampuan mendahulukan kepentingan bangsa di tengah perbedaan.

Gus Kikin menilai, perbedaan pandangan tidak seharusnya menghabiskan energi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Nilai ukhuwah, kejujuran, ilmu pengetahuan, dan kerja sama perlu menjadi landasan dalam menghadapi tantangan pembangunan.

Ia turut menyoroti pemerataan kesejahteraan di tengah besarnya potensi sumber daya alam Indonesia. Kekayaan bangsa, menurutnya, harus dikelola secara bertanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.

"Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut kemerdekaan, perjuangan pada masa sekarang perlu diwujudkan melalui pendidikan yang baik, masyarakat yang beradab, ekonomi yang lebih adil, serta persatuan yang semakin kuat," ujar Gus Kikin.

Mengacu pada tema Hari Santri 2026, "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", Gus Kikin mengajak kalangan pesantren mengambil bagian dalam menjawab berbagai persoalan, mulai dari ketimpangan ekonomi, pendidikan, kesempatan kerja, kerusakan lingkungan, hingga perubahan teknologi.

"Mari kita gali potensi, hilangkan friksi, kita kerahkan kemampuan membangun negeri, dan kita hindari perselisihan yang tidak perlu," pesannya.

 

Munajat Juga Jadi Bentuk Kepedulian terhadap Korban Karhutla

Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengatakan, Munajat Santri untuk Negeri merupakan wujud pengabdian spiritual sekaligus kepedulian sosial kalangan pesantren terhadap berbagai persoalan bangsa.

Menurut Basnang, kegiatan tersebut bukan sekadar penutup rangkaian peringatan Hari Santri, melainkan juga sarana memperkuat kesadaran bahwa pesantren memiliki tanggung jawab menjaga nilai kemanusiaan, solidaritas, dan persatuan nasional.

"Munajat Santri untuk Negeri adalah doa santri untuk kebaikan negeri ini, sekaligus juga merupakan perwujudan bakti santri untuk negeri. Santri ingin menghadirkan doa-doa terbaik agar Indonesia senantiasa diberi keselamatan, kedamaian, dan keberkahan," ujar Basnang.

Munajat bersama tersebut juga menjadi bentuk empati terhadap masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra.

"Munajat ini juga menjadi bentuk empati santri atas karhutla yang terjadi di berbagai tempat di Kalimantan dan Sumatra. Kami mendoakan agar musibah ini segera teratasi dan saudara-saudara kita yang terdampak diberi kekuatan, kesehatan, dan kemudahan," katanya.

Basnang menegaskan, kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan merupakan bagian dari nilai pendidikan pesantren. Karena itu, santri diharapkan tidak hanya memiliki penguasaan ilmu agama yang kuat, tetapi juga kepekaan terhadap persoalan sosial dan kemampuan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Melalui Munajat Santri untuk Negeri, Kementerian Agama berharap sinergi pemerintah, pengasuh pesantren, ulama, dan masyarakat semakin kuat dalam membangun pendidikan pesantren yang berkualitas dan berdaya saing, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.