Jejak Baitul Arqom Jember, Pesantren Alumni Gontor Pertama Pencetak Kapolri

Menengok sejarah Baitul Arqom Jember, pesantren alumni Gontor tertua di Indonesia yang mencetak jenderal hingga merawat perekat umat.

Diterbitkan 25 September 2026, 13:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam sejarah pesantren di kawasan Tapal Kuda, nama Pondok Pesantren Baitul Arqom di Balung, Jember, punya tempat tersendiri. Berdiri sejak tahun 1959 lewat tangan KH Abdul Mu'id Sulaiman bersama Kiai Mahin Ilyas dan Kiai Djawahir Abdul Muin, lembaga ini memegang sejarah unik, jadi pesantren pertama di Indonesia yang didirikan oleh alumni KMI Pondok Modern Darussalam Gontor.

Bagi pengasuhnya sekarang, hubungan Baitul Arqom dengan Gontor bukan cuma soal label alumni. Ada garis keilmuan dan semangat perjuangan yang dijaga rapat-rapat oleh empat generasi keluarga pendirinya.

Pimpinan PP Baitul Arqom, K.H. Izzat Fahd menceritakan, sebutan sebagai pesantren alumni Gontor tertua ini bukan klaim sepihak. Pengakuan itu datang langsung dari para sesepuh dan pimpinan Gontor sendiri, seperti KH Ahmad Hidayatulah Zarkasyi, KH Akrim Mariyat, sampai almarhum KH Samsul Hadi Abdan.

"Nilai-nilai, sistem KMI, sampai Panca Jiwa Gontor sudah jadi ruh di Baitul Arqom dari awal berdiri sampai hari ini," kata K.H. Izzat Fahd, Jumat (25/9/2026).

 

Turun-Temurun Nyantri di Gontor

Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 30 sampai 50 anggota keluarga besar KH Abdul Mu'id Sulaiman yang pernah mengenyam pendidikan di Gontor. Tradisi ini dimulai dari sang pendiri yang lulus tahun 1943, dilanjutkan anaknya K.H. Masykur Abdul Mu'id (lulus 1968), lalu cucu-cucunya seperti K.H. Izzat Fahd (lulus 2002) dan H. Ismat Syauqi (lulus 2004).

Sekarang, giliran para cicit yang meneruskan tongkat estafet nyantri di sana.

"Kami putra almarhum KH Masykur memang disiapkan untuk meneruskan sanad kepondokmodernan ini, baik lewat Gontor maupun Baitul Arqom," jelas sang Wakil Pimpinan, H. Ismat Syauqi.

Awal berdiri di era 1950-an, kondisi masyarakat sekitar masih cukup terkotak-kotak oleh latar belakang kelompok. Baitul Arqom hadir membawa prinsip khas Gontor: berdiri di atas dan untuk semua golongan. Hasilnya, santri yang masuk ke sini datang dari mana saja. Ada yang berlatar belakang NU, Muhammadiyah, Persis, hingga Al-Irsyad, yang berasal dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua.

"Begitu masuk Baitul Arqom, semuanya menyatu. Pas lulus, mereka balik lagi mengabdi di daerah masing-masing," tutur Kyai Izzat.

Selama 60 tahun lebih berdiri, ribuan alumni lahir dari sini. Salah satu yang paling dikenal publik adalah mantan Kapolri Jenderal (Purn) Badrodin Haiti.

Ke depan, selain mempertahankan kurikulum murni KMI, Baitul Arqom juga mulai melirik sektor pertanian dan ketahanan pangan. Maklum, pesantren ini tumbuh di lingkungan masyarakat agraris.

"Keluarga kami latar belakangnya petani. Ke depan, kami ingin Baitul Arqom juga kuat di bidang pertanian, melengkapi kurikulum KMI yang selama ini kami jalankan," tutup Direktur Badan Wakaf Baitul Arqom, H. Muhammad Imaduddin.