Liputan6.com, Jakarta - Hari ini 20 tahun lalu, tepatnya pada Senin, 17 Juli 2006, pukul 15.19 WIB, wilayah Pangandaran dilanda gempa dan tsunami dahsyat. Gempa megathrust berkekuatan Magnitudo 7,7 yang berpusat di Samudera Hindia itu memicu tsunami di pesisir sepanjang Jawa Barat, Jawa Tengah, bahkan sampai ke Yogyakarta. Akibatnya 668 orang tercatat meninggal dunia dan ribuan lainnya luka-luka dan kehilangan tempat tinggal.Â
Tsunami Pangandaran 2006 itu menjadi pengingat bahwa ancaman megathrust adalah nyata. peristiwa itu juga memberi pelajaran, tidak semua gempa megathrust menghasilkan guncangan yang sangat kuat. Pada tipe tsunami earthquake, guncangan di darat dapat terasa relatif lemah, tetapi tsunami yang ditimbulkan justru sangat merusak.
Daryono, pengamat dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mengatakan, banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari peristiwa tsunami Pangandaran 2006.
Advertisement
"Pahami karakter ancaman, mengenali tanda-tanda tsunami, dan segera melakukan evakuasi setelah gempa meskipun dirasakan lemah di wilayah pantai merupakan kunci untuk menyelamatkan nyawa," katanya.
Megathrust bukan sekadar potensi, kata Daryono, tetapi ancaman nyata yang harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan budaya mitigasi.
Daryono juga mewanti-wanti satu hal penting yang harus dipahami bahwa tsunami dapat terjadi meskipun guncangan gempa sangat lemah. Gempa Pangandaran dengan magnitudo 7,7 merupakan tsunami earthquake, yaitu gempa yang menghasilkan tsunami besar tetapi guncangannya relatif lemah di daratan.
"Akibatnya banyak orang tetap berada di pantai karena merasa gempa yang terjadi 'tidak berbahaya'. Pelajaran yang dapat diambil, jangan menunggu gempa terasa kuat. Jika berada di pantai dan terjadi gempa, segera evakuasi meninggalkan pantai," ungkapnya.
Pelajaran penting ketiga, kata Daryono, tsunami datang sangat cepat. Gelombang tsunami tiba di Pantai hanya membutuhkan waktu sekitar 15–20 menit setelah gempa. Waktu tersebut terlalu singkat apabila masyarakat hanya menunggu informasi resmi.
"Pelajaran untuk kita, lakukan evakuasi mandiri (natural warning) jauh lebih penting daripada menunggu peringatan dini atau sirine perintah evakuasi," katanya.
Keempat, edukasi masyarakat menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada teknologi. Sistem peringayan dini, aplikasi informasi dan sirine memang sangat penting. Namun ketika masyarakat memahami tanda-tanda alam tsunami, mereka dapat menyelamatkan diri bahkan tanpa teknologi.Â
"Pelajaran bahwa mitigasi terbaik dimulai dari masyarakat yang paham risiko," katanya.
Sedangkan pelajaran kelima, pantai wisata memiliki risiko korban jauh lebih besar. Saat tsunami terjadi, saat itu Pangandaran sedang ramai wisatawan karena sore hari dan musim liburan. Banyak korban berasal dari wisatawan dan pendatang yang tidak mengenal jalur evakuasi.
"Pelajaran, bahwa seluruh destinasi wisata pantai harus memiliki jalur evakuasi, papan petunjuk evakuasi, latihan evakuasi, titik kumpul aman dan informasi tsunami bagi wisatawan," ungkap Daryono.
Jalur evakuasi harus lebih dekat daripada zona datangnya tsunami, harus menjadi pelajaran keenam. Tinggi tsunami Pangandaran 2006 bervariasi ada yang mencapai 5–8 meter, bahkan lebih dari 10 meter. Masyarakat hanya memiliki waktu emas yang singkat untuk selamat.
"Pelajarannya bahwa evakuasi harus dirancang agar dapat dicapai dengan berjalan kaki dalam waktu singkat," katanya.
Pelajaran penting keenam, menurut Daryono perlu ditekankan, korban terbesar berasal dari tsunami, bukan gempa. Gempa sendiri saat itu hampir tidak merusak. Yang menimbulkan lebih dari 668 korban jiwa adalah tsunami. Ini menunjukkan bahwa bahaya terbesar di pantai selatan Jawa bukan hanya gempa, tetapi tsunami.
"Pelajaran penting bahwa mitigasi pesisir harus memberi perhatian yang sama besar pada ancaman tsunami," katanya.
Daryono mengatakan, tsunami dapat terjadi di sepanjang pantai selatan Jawa. Peristiwa Tsunami Pangandaran membuktikan bahwa seluruh pantai selatan Jawa berada pada zona subduksi megathrust aktif. Wilayah yang terdampak saat itu meliputi Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Bantul.
"Pelajaran ketujuh, semua kabupaten pesisir selatan Jawa harus memiliki budaya dan masyarakat siaga tsunami. Korban jiwa dapat ditekan melalui kesiapsiagaan terhadap potensi gempa megathrust yang memicu tsunami," katanya
Dua puluh tahun setelah Pangandaran, Indonesia telah memiliki sistem peringatan dini tsunami, peta bahaya tsunami, jalur evakuasi, sekolah lapang gempa dan tsunami, dan Tsunami Ready UNESCO di beberapa kawasan. Namun, menurut Daryoono, pekerjaan belum selesai.
"Pelajaran terbesar yaitu keberhasilan penanggulangan tsunami bukan diukur dari banyaknya korban yang berhasil diselamatkan setelah bencana, tetapi dari sedikitnya korban yang harus diselamatkan karena masyarakat sudah siap sebelum tsunami datang," katanya.
Â
Pesan Kunci
Daryono kembali mengingatkan, peristiwa tsunami Pengandaran 2006 harus menjadi salah satu tonggak penting yang mendorong penguatan sistem peringatan dini tsunami nasional dan peningkatan budaya kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap bencana. Daryono tidak mau peringatan 20 tahun tsunami hanya men jadi momen mengenang korban, lebih dari itu seharusnya menjadi pengingat tsunami akan selalu menjadi ancaman nyata di pantai selatan Jawa.
"Gempa di Pantai yang terasa lemah bukan berarti aman. Jika berada di pantai dan terjadi gempa, segera menjauh ke tempat tinggi," katanya mengingatkan.
Bagi Daryono, Natural Warning tetap menjadi penyelamat pertama, gempa kuat atau gempa lemah berayun lama, air laut surut mendadak, dan suara gemuruh dari laut adalah tanda alam yang harus dikenali semua orang yang berada di pantai rawan tsunami.
"Teknologi peringatan dini tsunami sangat penting, tetapi budaya kesiapsiagaan masyarakat adalah benteng pertahanan terakhir," ungkapnya.
Peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran adalah momentum untuk membangun generasi yang tidak panik, tetapi siap menghadapi tsunami melalui pengetahuan, latihan, dan evakuasi yang cepat.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495483/original/029586100_1770372285-sherly_tjoanda_klaim_giveaway.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5567468/original/050020200_1777282004-cek_fakta_alsintan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4536545/original/069114500_1691974925-cek_fakta_satir_ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299087/original/053914000_1784192454-cek_fakta_-_Sherly_Tjoanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299437/original/047963000_1784256181-tsunami_pangandaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1373110/original/054737000_1476359422-pangandaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297046/original/098584500_1784067058-Spain_s_Mikel_Oyarzabal__left__celebrates.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298306/original/004606900_1784166640-tuchel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298637/original/010650700_1784178420-INGGRIS_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519344/original/095709500_1772548220-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287272/original/017051900_1783206951-pra1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299397/original/073517100_1784250863-000_B6Z433V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290280/original/032335300_1783446810-063_2285091355.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299067/original/052484900_1784191879-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298224/original/042744300_1784155877-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4887995/original/062540200_1720596126-AP24190447290414.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264050/original/062227400_1782063258-063_2282639788.jpg)