Kapolri Ziarah ke Makam Tokoh Nasional, Serap Nilai Perjuangan Bangsa

Kapolri mengatakan rangkaian ziarah ke makam para mantan presiden merupakan tradisi Polri untuk menyerap, menggali, dan meneruskan nilai-nilai perjuangan.

Diterbitkan 22 Juni 2026, 14:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo berziarah dan menaburkan bunga ke makam sejumlah tokoh nasional, seperti Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sabtu (20/6).

Kapolri mengatakan rangkaian ziarah ke makam para mantan presiden merupakan tradisi Polri untuk menyerap, menggali, dan meneruskan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pemimpin bangsa kepada institusi kepolisian.

"Ini sangat penting, khususnya bagi institusi Polri. Tentunya, kita memiliki amanah untuk terus mempertahankan apa yang telah diwariskan dan nilai-nilai yang telah diberikan oleh para mantan presiden serta pemimpin bangsa kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan institusi Polri," kata Sigit, seperti dikutip dari Antara, Senin (22/6).

Menurut Kapolri, nilai-nilai tersebut perlu dijaga dan dijadikan semangat bagi Polri dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

"Demikian juga, ini menjadi kekuatan dan hal positif yang terus kami kembangkan sebagai spirit bagi institusi Polri agar dapat melaksanakan amanah institusi, amanah masyarakat, bangsa, dan negara, serta menjalankan seluruh tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya," ujarnya.

Dalam prosesi ziarah di Astana Giribangun, Kapolri bersama rombongan membacakan doa dan menaburkan bunga di pusara Soeharto.

Pada hari yang sama, Kapolri juga berziarah ke makam Presiden pertama RI Soekarno di Blitar, Jawa Timur, serta makam Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di Jombang.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian ziarah Polri menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80 pada 1 Juli 2026.

Teladani Sejarah dan Warisan Bangsa

Merespons hal tersebut, Koordinator Indonesia Cerah, Febri Wahyuni Sabran, berpandangan bahwa kegiatan itu bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan juga meneladani warisan kebaikan para pemimpin bangsa.

"Belajar dari sejarah bukan hanya soal mengenal alur peristiwa masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita menghormati dan meneladani kebajikan-kebajikan yang mereka wariskan. Dan itulah yang dilakukan Kapolri," kata Febri, Senin (22/6).

Menurut Febri, tindakan Kapolri merupakan teladan positif bagi para pemimpin di seluruh Indonesia. Ia menekankan bahwa penghormatan terhadap sejarah dan para tokoh bangsa seharusnya menjadi bagian integral dari karakter seorang pemimpin sejati, bukan sekadar formalitas atau pencitraan semata.

"Gestur seperti ini penting untuk memperkuat koneksi emosional dan moral antara pemimpin masa kini dengan nilai-nilai perjuangan para pendahulu," ujarnya.

Febri mencatat, dari Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Indonesia belajar tentang pluralisme, toleransi, dan kepemimpinan yang merakyat. Gus Dur dikenang sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keberagaman Indonesia.

"Dari Presiden Soekarno, kita menimba semangat nasionalisme, persatuan, dan visi besar tentang Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. Lalu, dari Presiden Soeharto, kita belajar tentang pentingnya stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelas Febri.

Febri meyakini kunjungan Kapolri tersebut mencerminkan penghormatan kepada seluruh pejuang kemerdekaan tanpa terkecuali, termasuk para pahlawan yang gugur dalam membela bangsa.

Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa menghargai jasa para pendahulu merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai kebangsaan dan semangat pengabdian kepada negara.

Â