Perjuangan Tukang Sayur di Lampung, Nabung Koin di Ember 20 Tahun Akhirnya Bisa Naik Haji

Kisah Adna Yusri (58), tukang sayur di Lampung bisa pergi haji menginspirasi banyak orang tentang ketekunan dan konsistensi perjuangan pasti membuahkan hasil.

Diterbitkan 25 April 2026, 18:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lampung - Udara pagi masih terasa sejuk saat Adna Yusri (58) mulai menata dagangan di atas sepeda motornya. Sayur-mayur segar disusun rapi sebelum ia berkeliling kampung, menyapa pelanggan setia dari rumah ke rumah.

Rutinitas itu sudah menjadi bagian hidupnya selama puluhan tahun. Menyusuri gang sempit, berhenti di depan rumah warga, hingga bertahan di bawah terik matahari dan guyuran hujan, semua dijalani tanpa keluh demi mengais rezeki.

Di balik kesederhanaannya sebagai tukang sayur keliling, Adna menyimpan mimpi besar, berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Mimpi itu tidak instan. Selama dua dekade, ia disiplin menyisihkan sebagian penghasilannya. Jumlahnya tak seberapa, bahkan sering hanya koin Rp1.000. Namun, konsistensi menjadi kunci.

"Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Yang penting istiqamah," ujar Adna, Jumat (24/4/2026).

Kesabaran panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Saat waktu pelunasan biaya haji tiba, Adna datang dengan tabungan yang tak biasa, lima ember penuh berisi koin hasil jerih payahnya.

Ember-ember berisi uang logam itu menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang pedagang kecil yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Tahun ini, penantiannya berakhir. Nama Adna resmi tercatat sebagai calon jemaah haji asal Lampung Selatan dan dijadwalkan berangkat pada 5 Mei 2026.

Raut haru tak bisa ia sembunyikan. Mimpi yang ia rawat selama 20 tahun kini tinggal selangkah lagi menjadi kenyataan.

"Saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Semua dari jual sayur keliling dan doa," ucapnya lirih.

Namun, kebahagiaan itu belum sepenuhnya lengkap. Sang istri, Haljariyah, yang setia mendampingi perjuangannya, belum bisa ikut berangkat karena keterbatasan biaya.

Meski begitu, Haljariyah tetap ikhlas. Ia melepas suaminya dengan doa dan harapan agar suatu hari bisa menyusul ke Tanah Suci.

"Saya berharap nanti istri juga bisa berangkat," kata Adna.

 

Pekerja Keras yang Tak Pernah Mengeluh

Kisah Adna pun menginspirasi warga sekitar. Sumiyati, salah satu tetangganya, menyebut Adna sebagai sosok pekerja keras yang tak pernah mengeluh.

"Beliau itu tekun sekali. Kami semua bangga dan terharu," ujarnya.

Kepala desa setempat, Rudi Hartono, menilai kisah Adna menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita.

"Kalau ada niat dan kesabaran, pasti ada jalan. Pak Adna ini inspirasi bagi kita semua," katanya.

Perjalanan Adna Yusri bukan sekadar cerita tentang ibadah haji. Perjuangannya adalah potret keteguhan hati, tentang mimpi yang dirawat dalam keterbatasan, serta harapan yang terus hidup meski dalam kesederhanaan.

Â