Sambut Hari Lebah Sedunia, Pelajar Diajak Lihat Budidaya Madu Kelulut di Desa Tuwung Kalteng

Pelajar melakukan perjalanan lapangan ke Desa Tuwung, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah untuk melihat langsung proses budidaya lebah kelulut.

Diterbitkan 16 Mei 2026, 20:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Lebah Sedunia yang jatuh pada 20 Mei 2026 mendatang, Yayasan Borneo Nature Indonesia (YBNI) mengajak pelajar melakukan perjalanan lapangan ke Desa Tuwung, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Di sana, para siswa diajak melihat langsung proses budidaya lebah kelulut khas Kalimantan. Mereka diajak mengamati cara koloni lebah kelulut bekerja dan memanen madu yang higienis, serta mencicipi madu dari sarangnya.

Pengalaman tersebut memberikan kesan mendalam bagi para pelajar, salah satunya Melinda. Siswi dari MA Raudhatun Jannah ini mengaku sangat kagum saat berkesempatan melihat langsung proses budidaya lebah kelulut.

"Jujur saya kagum sekali karena ini pertama kalinya melihat yang seperti ini. Ternyata lebah kelulut itu berbeda dengan lebah biasa, mulai dari jenis madu yang dihasilkan sampai cara membudidayakannya," ujar Melinda.

Dia mengatakan, selain mendapatkan pengalaman baru mengenai teknik budidaya, perjalanan lapangan ini juga membuka wawasan Melinda tentang pentingnya menjaga kelestarian alam sekitar. Melinda melihat langsung lebah kelulut dan vegetasi hutan saling bergantung satu sama lain.

"Dari penjelasan yang saya dengar tadi, lebah ini mengambil nektar dari tumbuhan, bunga, dan pohon di sekitarnya. Aktivitas itu ternyata sangat membantu kesuburan tanaman itu sendiri," jelasnya.

 

Pentingnya Libatkan Anak Muda Peduli Pelestarian Alam

Sementara itu, Staf Edukasi dari Yayasan Borneo Nature Indonesia, Andrian menilai, pelibatan anak muda menjadi langkah penting untuk menumbuhkan generasi yang peduli pada pelestarian alam.

Dia mengatakan, dengan merawat lingkungan, lebah akan menghasilkan madu sebagai berkah ekonomi. Hal ini menjadi bukti bahwa kehidupan manusia dan alam bisa berjalan beriringan dan saling menguntungkan.

"Di alam ini, semua makhluk hidup saling terhubung. Contohnya lebah sangat bergantung pada tumbuh-tumbuhan untuk menghasilkan madu yang nantinya sangat bermanfaat bagi masyarakat," ucap Andrian.

Sementara itu, bagi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Desa Tuwung, memilih madu kelulut sebagai produk utama bukanlah tanpa alasan. Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Tuwung, Kamison menjelaskan, lebah kelulut menjadi pilihan terbaik karena cara budidayanya sangat mudah.

Menurut Kamison, selain biaya pemeliharaannya rendah, peternak tidak perlu repot memberi makan secara manual. Cukup meletakkan wadah di tempat yang sejuk, lebah-lebah ini akan mencari makan sendiri dengan memanfaatkan sumber pakan alam yang melimpah di sekitar perkampungan.

"Enaknya madu kelulut ini, kami dibantu oleh alam. Tugas manusia hanya menjaga alam agar tetap lestari. Selama tanaman dirawat dengan baik, mereka akan terus berbunga, dan bunga itulah yang menjadi sumber pakan utama lebah," kata Kamison.

Harga Jual Menjanjikan

Saat ini, menurut Kamison, mereka mengelola sekitar 99 stup (kotak sarang) lebah kelulut. Dari puluhan sarang yang sebagian digembalakan di alam bebas tersebut, warga mampu memanen madu dua minggu sekali.

"Dalam satu bulan, total produksi madu kelulut dari kelompok tani ini bisa mencapai sekitar 30 liter," ucap dia.

Kamison menyebut, dengan harga jual yang cukup menjanjikan, yaitu Rp 250.000 per liter, budidaya ini menjadi mesin ekonomi baru yang sangat potensial bagi warga desa tanpa harus merusak isi hutan.

"Untuk urusan pemasaran, madu dari Desa Tuwung ini sudah memiliki daya tawar yang kuat lewat merek dagang lokal bernama 'Nyai Hapu'. Nama brand yang sudah mulai dikenal luas ini membuat kelompok tani tidak lagi kesulitan mencari pembeli," terang dia.

"Sekarang kami fokus memenuhi pesanan yang masuk. Pemasaran kami lakukan secara mandiri oleh kelompok tani, baik melalui pesanan langsung via WhatsApp, Instagram, Facebook, hingga konsumen yang datang langsung ke desa kami," pungkas Kamison.