Terjadi 1.108 Gempa Susulan Usai Guncangan di Bitung Magnitudo 7,6

Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara menjadi gempa susulan ke 1.108 kali pasca-gempa Bitung.

Diterbitkan 06 April 2026, 09:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara pada, Senin (6/4/2026), sekitar pukul 06.18 Wita. BMKG mencatat, ini adalah gempa susulan ke 1.108 kali pasca-gempa Bitung pada Kamis, 2 April 2026 pagi, yang berkekuatan Magnitudo 7,6.

Berdasarkan data dari Stasiun Geofisika Manado, jumlah gempa susulan yang terjadi sejak Kamis pekan lalu sebanyak 1.108 kali. Dari jumlah tersebut, sebanyak 24 kali gempa dirasakan oleh warga.

"Hingga Senin 6 April 2026 pukul 06.48 Wita, tercatat sebanyak 1.108 kali terjadi gempa susulan,’’ ujar Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya, Senin (6/4/2026).

Dia mengatakan, gempa bumi itu merupakan rangkaian gempa bumi susulan dari kejadian utama tanggal 2 April 2026. Meski jumlah akumulatifnya mencapai ribuan kali, namun dalam empat hari ini frekuensi gempa harian menunjukan grafik yang menurun.

‘’Pada 1x24 jam pertama pasca-gempa M 7,6 di hari Kamis 2 April terjadi sebanyak 394 gempa susulan. Setelah itu frekuensinya hariannya menurun,’’ tuturnya.

Berdasarkan data yang diperoleh, pada hari kedua pasca-gempa terjadi 304 gempa susulan, hari ketiga sebanyak 223 gempa susulan, dan hari keempat hingga Senin pagi ini, sebanyak 187 gempa susulan.

 

Gempa di Ternate

Sebelumnya, masyarakat wilayah Ternate dan sekitarnya kembali dikejutkan oleh guncangan gempabumi tektonik pada Senin (6/4/2026) pagi. Warga di sebagian daerah di Sulawesi Utara juga merasakan getaran gempa.

Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa gempa kali ini berkekuatan Magnitudo 4,4.

Peristiwa yang terjadi pukul 06.18 Wita tersebut berpusat di laut, tepatnya pada koordinat 0.97° LU dan 126.40° BT, atau sekitar 110 kilometer arah Barat Ternate, Maluku Utara, dengan kedalaman dangkal 35 kilometer.

​Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya menjelaskan bahwa guncangan ini merupakan imbas dari aktivitas deformasi batuan Lempeng Laut Maluku. Secara spesifik, gempa ini masih menjadi bagian dari rentetan gempa susulan pasca-gempa besar Magnitudo 7,3 yang terjadi pada 2 April 2026 lalu.

"Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan Lempeng Laut Maluku. Ini merupakan rangkaian gempabumi susulan dari kejadian utama tanggal 2 April 2026 yang bermagnitudo 7,6," ujar Tony Agus Wijaya dalam keterangan resminya, Senin (6/4/2026).

Sejumlah warga desa berbagai daerah di Sulut juga merasakan gempa tersebut, seperti di Bitung, Minahasa Utara, dan Manado.