Gelegar Meriam Karbit Pontianak, Warisan Tradisi Jelang Lebaran di Sungai Kapuas

Tradisi Meriam Karbit Kota Pontianak Kalimantan Barat kembali menggema jelang Idulfitri. Sebanyak 229 meriam tersebar sepanjang tepian Sungai Kapuas.

Diterbitkan 10 Maret 2026, 11:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aroma kayu basah menyengat di panggar sederhana yang ada di pinggir Sungai Kapuas. Warga menyiapkan tabung panjang terbuat dari kayu gelondongan maupun paralon. Bunyi dentuman segera menyusul. Tradisi Meriam Karbit kembali hadir jelang Idulfitri di Kota Pontianak Kalimantan Barat.

Tahun ini, 229 meriam karbit siap menggelegar. Meriam-meriam itu tersebar di 37 titik kelompok masyarakat sepanjang tepian Sungai Kapuas. Dentuman meriam bukan sekadar hiburan. Bunyi itu menjadi simbol penanda akhir Ramadan sekaligus penegas identitas budaya masyarakat Melayu Pontianak.

Ketua Forum Komunikasi Seni Budaya Tradisi Meriam Karbit Kota Pontianak, Fajriudin Anshari menegaskan dukungan pemerintah kota menjadi kunci keberlangsungan tradisi tersebut. 

“Kami menyampaikan apresiasi serta terima kasih kepada Pemerintah Kota Pontianak atas dukungan pelestarian permainan rakyat Meriam Karbit,” tutur Fajriudin.

Bagi warga tepian Sungai Kapuas, tradisi ini bukan peristiwa biasa. Meriam karbit menghadirkan ingatan kolektif, mengikat generasi lama serta generasi muda dalam satu ruang budaya.

Persiapan Meriam Karbit Pontianak

Persiapan kegiatan berlangsung bertahap. Di Gang Darsyad Jalan Imam Bonjol, panitia menyiapkan panggung utama pembukaan. Progres pembangunan mencapai sekitar 80 persen. Panggung seni, panggar meriam, serta area seremoni mulai berdiri.

Sebagian besar kelompok telah menempatkan meriam di lokasi masing masing. Menurut Fajriudin, sekitar 75 persen kelompok sudah memasang meriam di panggar. 

“Sekitar sepuluh hari menjelang Lebaran sebagian besar meriam sudah berada di lokasi. H-3 biasanya mulai uji bunyi sebagai tahap pengecekan,” jelasnya.

Uji bunyi memiliki fungsi penting. Tahap tersebut memastikan kondisi meriam aman sebelum malam takbiran tiba. Bunyi dentuman keras membutuhkan perhitungan matang. Kelalaian kecil berpotensi memicu risiko.

Di sepanjang tepian Sungai Kapuas, warga bekerja bersama. Ada menyiapkan kayu bakar. Ada membersihkan tabung meriam. Anak muda sibuk memeriksa rangka penyangga. Tradisi ini menghadirkan kerja kolektif penuh semangat kebersamaan.

Meriam Kapuas Sebagai Warisan Budaya

Komposisi meriam tahun ini terbagi dua jenis utama. 108 unit meriam balok dibuat dari kayu gelondongan besar. Proses pembuatan membutuhkan waktu hingga satu minggu. Kayu dipahat, dilubangi, lalu diperkuat agar mampu menahan tekanan ledakan karbit.

Sementara itu 129 unit meriam non balok berasal dari bahan paralon maupun besi. Jenis ini lebih mudah dibuat karena memanfaatkan material bekas.

Perbedaan bahan tidak mengubah makna tradisi. Dentuman meriam tetap menjadi simbol kegembiraan warga menyambut hari kemenangan.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menilai, tradisi ini memiliki nilai budaya tinggi. Permainan rakyat tersebut telah menjadi identitas daerah selama puluhan tahun. 

“Tradisi Meriam Karbit merupakan warisan budaya masyarakat Pontianak. Pemerintah kota mendukung pelestarian agar tradisi tetap hidup bagi generasi muda,” kata Edi Rusdi Kamtono.

Pemerintah Kota Pontianak getol koordinasi dengan aparat keamanan untuk jamin keselamatan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. 

Imbauan tegas disampaikan seluruh kelompok meriam dan masyarakat wajib patuhi aturan demi keamanan bersama.

Di balik dentuman keras, terdapat pesan budaya mendalam. Meriam karbit menjadi simbol perayaan, solidaritas sosial, serta kebanggaan masyarakat tepian Kapuas. 

Forum komunikasi budaya berharap festival meriam karbit kembali digelar pada 2027. Festival menghadirkan parade budaya lengkap dengan busana adat serta ornamen tradisi.

Harapan tersebut menegaskan satu hal penting. Tradisi bukan sekadar kenangan masa lalu. Tradisi merupakan napas budaya, hidup dalam ingatan masyarakat serta terus diwariskan dari generasi ke generasi. 

Saat malam takbiran tiba, dentuman meriam akan menggema di langit Kota Pontianak. Bunyi keras memantul di permukaan Sungai Kapuas. Kota khatulistiwa kembali merayakan Lebaran melalui suara tradisi tak pernah benar-benar hilang.