Viral Tangan Pasien Bayi Jadi Bengkak dan Berlubang Besar Usai Diinfus di RSIA Paramount

Tangan bayi berusia 9 bulan berinisial ASA mengalami pembengkakan dan berlubang besar usai diinfus saat dirawat di RSIA Paramount.

OlehFauzan
Diterbitkan 19 Februari 2026, 19:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makassar - Kasus dugaan kelalaian medis menimpa bayi berusia 9 bulan berinisial ASA viral di media sosial. Bayi tersebut mengalami pembengkakan parah usai diinfus, tangannya menjadi berlubang dan harus menjalani operasi. Pembengkakan hingga tangan berlubang itu terjadi saat sang bayi dirawat di RSIA Paramount Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Ibu korban, Nurjannah, membenarkan peristiwa tersebut saat dikonfirmasi awak media. Ia mengaku masih menenangkan anaknya ketika dimintai keterangan.

"Tunggu sebentar dih, karena saya lagi tenangkan anakku. Iya (nanti dikirimkan kronologinya)," ujar Nurjannah kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).

Terpisah, Humas RSIA Paramount Makassar, Vian juga turut membenarkan kejadian tersebut. Ia membeberkan bahwa kejadian itu bermula ketika bayi ASA masuk UGD RSIA Paramount pada 19 Januari 2026.

Kala itu, Pasien datang dengan keluhan demam tinggi disertai muntah. Infus kemudian dipasang di tangan kiri pasien. Selama perawatan pada 20–21 Januari, obat masuk dengan baik dan tidak muncul keluhan berarti.

Namun, pada malam 21 Januari, infus dilepas setelah muncul tanda phlebitis atau peradangan pembuluh darah vena. Pada 22 Januari pukul 01.45 Wita, bayi ASA kembali mengalami demam. Tim medis kemudian memasang infus ulang di tangan kanan.

"Dipasang ulang karena mengeluh demam kembali pada 01.45 subuh itu dipasang ulang di tangan kanan, berhasil masuk semua obat-obatannya," kata Vian, Kamis (19/2/2026).

Namun, sekitar pukul 03.00 Wita, perawat menemukan pembengkakan di sekitar area infus. Kondisi tersebut kembali didiagnosis sebagai phlebitis.

"Dikontrol kembali sama perawat ditemukan sudah bengkak tangannya, phlebitis," ujarnya.

 

Pasien Dibolehkan Pulang

Pihak rumah sakit menduga kondisi itu dipengaruhi pergerakan bayi serta ukuran pembuluh darah. Vena pasien disebut kecil dan pemasangan infus sempat mengalami kesulitan.

"Kan anak-anak, bisa jadi pergerakannya tidak terkontrol dan venanya kecil. Pemasangan infus memang agak sulit," jelas Vian.

Hingga 24 Januari, keluhan demam dan muntah dinyatakan sembuh dan sudah tak lagi ada. Dokter kemudian memperbolehkan pasien pulang pada 25 Januari, meski pembengkakan masih terjadi.

"Itu sudah boleh dinyatakan boleh pulang oleh dokter tanggal 25, tangannya memang masih dikeluhkan bengkak," kata Vian.

Pihak rumah sakit mengaku telah memberikan edukasi kepada orang tua pasien. Pembengkakan diminta ditangani dengan kompres air hangat selama rawat jalan.

"Dianjurkan untuk dikompres air hangat," ujarnya.

Keluhan juga sempat disampaikan melalui kanal pengaduan rumah sakit. Namun pasien disebut tidak kembali ke UGD saat diarahkan.

"Kita arahkan ke UGD untuk penanganan lebih lanjut. Tapi dia tidak ke UGD, langsung pulang ke rumahnya,” kata Vian.

 

Kondisi Tangan Memburuk hingga Menjadi Abses

Pasien dijadwalkan kontrol ke poliklinik RSIA Paramount pada 29 Januari, namun tidak hadir. Keesokan harinya, 30 Januari, bayi ASA datang ke poliklinik dan diperiksa dokter.

Saat pemeriksaan, kondisi tangan pasien sudah mengalami abses atau bernanah. Proses inflamasi disebut sudah berlangsung.

"Diperiksa dokter di poli tangan bayi sudah dalam keadaan abses, proses inflamasi," ujar Vian.

Dokter kemudian memberikan antibiotik dan salep. Namun kondisi belum membaik hingga 4 Februari. Pasien kembali diarahkan ke UGD dan baru datang pada 5 Februari siang. Saat itu, abses dinilai sudah terlokalisir.

"Dilihat oleh dokter, abses sudah terkumpul dan terlokalisir," jelasnya.

Dokter memutuskan melakukan observasi selama tiga hari dengan pemberian antibiotik. Jika tidak mengecil, tindakan operasi direncanakan.

"Rencana insisi atau debridemen itu dibuka sedikit supaya nanahnya lepas," kata Vian.

Setelah observasi, pada 9 Februari, dokter memutuskan melakukan insisi dan debridemen. Foto pascaoperasi kemudian beredar luas di media sosial.

"Itu foto yang viral, baru selesai operasi di hari pertama," ujarnya.

Dua hari pascaoperasi, pembengkakan mulai menurun. Namun luka operasi masih dalam kondisi basah.

 

Somasi Rp500 Juta

Pada 11 Februari, orang tua bayi ASA melayangkan somasi kepada pihak rumah sakit. Somasi tersebut berisi tiga tuntutan utama.

"Meminta klarifikasi tentang kesalahan yang terjadi, ganti rugi material dan nonmaterial senilai Rp 500 juta, serta perbaikan sistem dan prosedur," bunyi somasi tersebut.

Pihak RSIA Paramount Makassar membenarkan telah menerima somasi tersebut. Manajemen menyebut direktur rumah sakit telah bertemu keluarga pasien.

"Direktur sudah bertemu keluarga. Manajemen sudah jawab," kata Vian.

Namun rumah sakit menegaskan tidak ada kesepakatan soal kompensasi. Tidak ada pernyataan kesediaan membayar nilai yang diminta.

"Direktur tidak menyebutkan akan membayar itu, tidak ada negosiasi," tegasnya.

Vian juga mengungkap nilai tuntutan sempat diturunkan oleh pihak keluarga. Meski begitu, rumah sakit tetap tidak menyepakati angka tersebut.

"Dari Rp 500 juta, turun Rp 130 juta, turun Rp 70 juta, sampai Rp 30 juta. Direktur hanya berkomitmen menyelesaikan masalah," katanya.

Pihak rumah sakit menyatakan siap jika kasus berlanjut ke jalur hukum. Audit internal disebut telah disiapkan.

"Kami siap. Audit kronologi dari perawat, dokter, termasuk audit medik sudah kami siapkan," pungkas Vian.