Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500 Terkendala Kabut dan Hujan, Modifikasi Cuaca Disiapkan

Kabut tebal dan hujan yang terus menyelimuti Gunung Bulusaraung membuat pemerintah mengambil langkah khusus demi mempercepat pencarian dan evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500.

OlehFauzan
Diterbitkan 19 Januari 2026, 12:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kabut tebal dan hujan yang terus menyelimuti Gunung Bulusaraung membuat pemerintah mengambil langkah khusus demi mempercepat pencarian dan evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500. Memasuki hari ketiga operasi SAR, Senin (19/1/2026), teknologi modifikasi cuaca resmi disiapkan untuk mendukung kerja tim gabungan di lapangan.

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengatakan, Pemerintah Provinsi Sulsel telah mengirimkan surat resmi kepada BMKG untuk meminta pelaksanaan modifikasi cuaca.

Permohonan itu disampaikan langsung di Posko AJU Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, saat mendampingi Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Kepala Basarnas RI Mohammad Syafii.

"Kita akan terus melaksanakan pencarian, di mana ada kendala cuaca. Hari ini kita bersurat untuk melaksanakan modifikasi cuaca," ujar Sudirman kepada awak media.

Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang yang lebih besar bagi tim SAR gabungan, terutama dalam melakukan evakuasi melalui jalur udara. Selama ini, kabut tebal dan hujan ringan menjadi penghambat utama penggunaan helikopter.

"Mudah-mudahan nanti kita bisa melaksanakan akses yang lebih luas, terutama evakuasi dari udara," jelasnya.

Ia menambahkan, proses pengajuan modifikasi cuaca sudah mulai berjalan dan diharapkan bisa segera direalisasikan. "Per hari ini kita sudah mulai proses dan mudah-mudahan ini bisa dilakukan dengan cepat," tuturnya.

 

Tim SAR Temukan Petunjuk

Sudirman mengungkapkan, keputusan melakukan modifikasi cuaca diambil karena tim SAR telah menemukan sejumlah petunjuk penting terkait lokasi jatuhnya pesawat, yang diduga juga menjadi titik keberadaan korban. Sementara itu, jalur darat menuju lokasi membutuhkan waktu tempuh hingga tiga jam dengan kondisi medan yang berat.

"Kita koordinasikan dengan BMKG. Tapi yang pasti ini sudah menemukan beberapa bukti-bukti yang bisa jadi petunjuk, dan operasi darat ini butuh waktu tiga jam untuk sampai karena medan cukup berat," ungkapnya.

Ia juga menegaskan, Pemprov Sulsel memberikan dukungan penuh terhadap operasi kemanusiaan ini. Selain mengerahkan sumber daya pemerintah, masyarakat setempat juga dilibatkan untuk membantu tim SAR menjangkau lokasi-lokasi sulit.

"Kita juga ada pelibatan masyarakat setempat dalam upaya membantu memberikan petunjuk-petunjuk kepada tim untuk mencapai titik (korban) dan beberapa alternatif informasi untuk mempercepat proses evakuasi," kata dia.

Pelaksana Tugas Kepala BBMKG Wilayah IV, Nasrol Adil, memastikan kesiapan pihaknya dalam mendukung operasi SAR melalui teknologi modifikasi cuaca. Ia menyebut, satu unit pesawat telah disiapkan untuk melaksanakan operasi tersebut.

"Dalam mendukung operasi SAR ini kami telah menyiapkan pesawat menuju ke Ujung Pandang (Makassar) asal dari Semarang," ucap Adil.

 

Modifikasi Cuaca Sangat Diperlukan

 

Adil menjelaskan, modifikasi cuaca dilakukan dengan menaburkan bahan tertentu untuk mengendalikan potensi awan hujan di sekitar area operasi. "Untuk menghilangkan potensi awan-awan, jadi akan lebih menguatkan karena menabur zat kapur," terangnya.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menilai, modifikasi cuaca menjadi langkah yang sangat diperlukan mengingat kondisi cuaca di lokasi pencarian masih belum bersahabat. Kabut tebal dan hujan ringan dinilai cukup mengganggu operasi udara.

"Memodifikasi cuaca, teman-teman bisa lihat ini kan cuaca yang mungkin agak mengganggu operasi, udara khususnya," tegas Dudy.

Ia berharap, melalui dukungan BMKG, kondisi cuaca dapat dikendalikan sehingga unsur udara dapat dimaksimalkan dan proses pencarian serta evakuasi korban berjalan lebih efektif.

"Jadi harapannya nanti dari BMKG udara bisa dimodifikasi untuk unsur udara ini bisa maksimal lagi," pungkasnya.