Kronologi Pelaku Pemerkosaan Difabel di Gowa Diamuk Massa dan Jasadnya Diseret Motor Keliling Kampung

Warga Gowa, Sulawesi Selatan dihebohkan dengan pria yang diamuk massa hingga tewas lalu diikat pada sepeda motor dan diseret keliling kampung.

OlehFauzan
Diterbitkan 04 Desember 2025, 13:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Warga Gowa, Sulawesi Selatan dihebohkan dengan pria yang diamuk massa hingga tewas lalu diikat pada sepeda motor dan diseret keliling kampung. Peristiwa tersebut terjadi di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Pria tersebut diketahui berinisial A (47). Ia diduga menjadi sasaran amuk massa karena dituding melakukan penganiayaan dan pemerkosaan terhadap wanita difabel berinisial T.

DT, salah seorang warga yang menjadi saksi mata, menjelaskan bahwa dugaan tindak pidana tersebut terjadi sekitar empat hari sebelum A tewas dihakimi warga. Saat kejadian pemerkosaan, warga sudah mengetahui peristiwa tersebut, namun pelaku berhasil melarikan diri.

"Iya betul kejadiannya kemarin sore. Warga sebenarnya sudah tahu sejak hari itu juga, tapi pelaku sembunyi. Empat hari kemudian baru didapat,” kata DT kepada Liputan6.com, Kamis (4/12/2025).

Usai diduga melakukan pemerkosaan, pelaku sempat bersembunyi selama dua hari di salah satu rumah warga. Setelah itu, dia kembali melarikan diri dan bersembunyi di kawasan hutan di kaki Gunung Lompo Battang, Desa Rappolemba, selama dua hari berikutnya.

“Sempat sembunyi dua hari di Cikoro. Terus dia sembunyi lagi di belakang kampung di kaki Gunung Lompo Battang, Desa Rappolemba,” bebernya.

Menurut DT, pelaku akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya karena diduga kelaparan. Ia kemudian mendatangi rumah seorang warga di Desa Rappoala untuk meminta makanan dan sempat terlihat berbelanja di warung.

"Katanya sempat beli sesuatu di warung. Karena memang sudah dicari-cari, akhirnya ada warga yang melihat dia," ucap DT.

A pun didatangi warga yang marah dan dianiaya hingga tewas. Tak hanya itu, jasad A juga diarak keliling kampung dari perbatasan Desa Rappoala menuju Desa Rappolemba hingga ke Kelurahan Cikoro’. Dalam aksi tersebut, A disebut mengalami mutilasi pada alat kelaminnya.

“Diarak keliling kampung sampai meninggal dunia. Saya sempat tanya ke petugas puskesmas, katanya memang benar alat kelaminnya dipotong,” jelas DT.

Aksi tersebut sempat direkam oleh sejumlah warga dan kemudian viral di media sosial.

 

Kemarahan Warga dan Hukum Adat

Menurut DT, aksi main hakim sendiri itu merupakan akumulasi kemarahan warga terhadap A. Ia disebut bukan kali pertama terlibat kasus kriminal dan telah beberapa kali keluar masuk penjara.

“A ini memang sudah lama ditolak warga kembali ke kampung. Beberapa tahun lalu juga pernah terlibat kasus pelecehan seksual dan tidak mau bertanggung jawab,” ungkapnya.

Selain itu, A juga diduga pernah terlibat kasus pencurian uang dalam jumlah besar di rumah warga dan sempat menjalani hukuman penjara selama dua tahun.

“Setelah bebas dia masih bikin ulah. Kabarnya sebelum kejadian pemerkosaan ini, dia juga sempat mencuri laptop,” lanjut DT.

Kemarahan warga memuncak setelah diketahui korban pemerkosaan merupakan seorang wanita difabel dengan keterbatasan mental.

“Diduga malamnya dia mencuri laptop, paginya dia melakukan pelecehan seksual dan pemukulan. Korbannya ini kasihan, mengalami keterbelakangan mental,” tutur DT.

DT menyebut tindakan warga terhadap A dianggap sebagai bentuk hukuman adat dan luapan emosi atas perbuatan pelaku. “Ini sudah jadi kemarahan warga sekaligus hukuman adat yang diberikan kepada dia,” ucapnya.

Situasi Kondusif

Sementara itu, Kapolres Gowa AKBP Muhammad Aldy Sulaeman membenarkan adanya peristiwa penganiayaan yang berujung tewasnya A. Ia memastikan kondisi keamanan di Desa Rappolemba, Desa Rappoala, dan Kelurahan Cikoro’, Kecamatan Tompobulu, kini sudah kembali kondusif.

“Dapat kami sampaikan bahwa memang beredar beberapa video terkait dugaan penganiayaan terhadap seseorang. Terkait hal tersebut, kami telah berkoordinasi dengan Polsek Tompobulu. Alhamdulillah, berdasarkan laporan yang kami terima, situasi di lokasi saat ini sudah kondusif,” ujar Aldy.

Aldy mengatakan pihaknya langsung bergerak ke lokasi untuk memastikan situasi tetap terkendali dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan susulan.

“Kami tidak ingin underestimate, tetapi melakukan langkah pengecekan dan pengamanan agar situasi tetap terkendali,” katanya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi awal, A diduga dianiaya massa karena sebelumnya diduga melakukan tindak pidana pemerkosaan. Namun pihak kepolisian masih akan mendalami kebenaran informasi tersebut.

“Informasi awal yang kami terima, yang bersangkutan diduga menjadi korban penganiayaan karena sebelumnya diduga melakukan tindak pidana pemerkosaan. Namun hal ini masih akan kami dalami untuk memastikan kronologi kejadian yang sebenarnya,” jelas Aldy.

Dalam proses penyelidikan, Polres Gowa melibatkan sejumlah satuan serta tim medis untuk keperluan pemeriksaan korban.

“Personel yang dilibatkan antara lain tim kesehatan dari Dokkes Polres Gowa untuk keperluan visum, Sat Samapta, Sat Reskrim, Sat Intelkam, dan Sat Binmas, serta didampingi oleh Kapolsek setempat. Kami juga telah berkoordinasi dengan tim Dokpol Polda Sulsel,” pungkasnya.