Lagi KKN di Desa Getas Kendal, 3 Mahasiswa Tewas dan 3 Lainnya Hilang di Sungai

Dari keenam korban, tiga ditemukan sudah meninggal dunia. Sementara tiga mahasiswa lain masih dicari.

Diterbitkan 05 November 2025, 05:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kendal - Enam mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang terseret arus deras sungai Jolinggo, Desa Getas, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Mereka adalah para mahasiswa yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dari keenam korban, tiga ditemukan sudah meninggal dunia. Sementara tiga mahasiswa lain masih dicari.

Menurut Kepala Basarnas, Kantor SAR Semarang, Budiono, upaya pencarian dan penyelamatan mengalami kesulitan karena cuaca buruk dan kondisi sungai yang ekstrem.

Dijelaskan bahwa kejadian bermula ketika 15 mahasiswa KKN Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST) memutuskan untuk beristirahat dengan bermain air atau tubing di aliran Sungai Tubing Genting Jolinggo yang berbatu.

"Aktivitas dilakukan di sela-sela program KKN tematik berbasis masyarakat di Desa Getas. Sekitar pukul 14.00 WIB, banjir bandang tiba-tiba menerjang dari arah hulu akibat hujan deras di wilayah selatan," kata Budiono .

Diduga para korban tidak mengetahui adanya hujan deras di hulu, karena kondisi langit di lokasi masih mendung.

"Sementara curah hujan ekstrem terjadi di daerah hulu sungai, yang menyebabkan debit air melonjak secara mendadak," katanya.

Warga yang menyaksikan insiden langsung berupaya menolong dan melaporkan ke tim SAR yang segera mengirim tim dari Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal, serta relawan lokal.

Tiga korban yang ditemukan warga dalam kondisi meninggal dunia telah dievakuasi ke Puskesmas Singorojo untuk visum dan penanganan lebih lanjut. Masing-masing korban adalah Riska Amalia, Syifa Nadilah, dan Muhammad Labib Riski, semuanya mahasiswa semester akhir dari FSH UIN Walisongo.

 

Identitas Korban Hilang

Sementara itu, pencarian untuk Bima Pranawira, Nabila Yulian Desi, dan Muhammad Jibril Asyarofi, terhambat arus sungai yang masih deras serta kekeruhan air akibat lumpur.

"Tim SAR gabungan terus mengupayakan penemuan ketiga korban hilang dengan mengerahkan peralatan deteksi bawah air dan drone, meski visibilitas rendah menjadi tantangan utama. Kami berharap dapat menyelesaikan operasi dalam 24 jam ke depan," kata Budiono.

Sementara itu, UIN Walisongo Semarang menyatakan akan mengevaluasi keseluruhan program KKN untuk memperketat protokol keselamatan, termasuk pemantauan cuaca real-time dan larangan aktivitas rekreasi di zona rawan bencana.

Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Masrur, menyampaikan duka cita mendalam dan menjanjikan pendampingan penuh bagi keluarga korban, termasuk bantuan biaya pemakaman dan konseling psikologis.

Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko bencana hidrometeorologi di wilayah Jawa Tengah, di mana Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan curah hujan hingga 150 persen di musim transisi akhir tahun ini.

BPBD Kendal telah mengeluarkan peringatan dini untuk menghindari aktivitas di sungai-sungai rawan banjir, terutama bagi kelompok pemuda dan pelajar.

 

Â