Ketika Puluhan Santri di Bandung Sakit Hati dengan Istri Ridwan Kamil

Puluhan santri tergabung dalam Aliansi Forum Santri Nusantara Bandung Raya mendatangi rumah mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya.

Diterbitkan 15 Oktober 2025, 00:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Puluhan santri tergabung dalam Aliansi Forum Santri Nusantara Bandung Raya mendatangi rumah mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya di Jalan Gunung Kencana, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, Selasa (14/10/2025).

Mereka merespons atas pandangan Atalia terkait usulan pembangunan ulang pondok pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur yang ambruk, harus berhati-hati jika menggunakan APBN.

Massa menggeruduk rumah tersebut sekitar pukul 15.00 WIB. Mereka tiba dengan menggunakan mobil komando. Mengenakan busana muslim, di mana massa pria memakai peci sedangkan yang perempuan berkerudung.

Massa lantas membentangkan spanduk, diselingi teriakan 'pecat Atalia', disusul dengan penyampaian orasi yang berisi tuntutan.

Koordinator Aksi Riki Ramdan Fadilah, mengungkapkan pernyataan Atalia terkait wacana pembangunan ulang pesantren Al Khoziny itu memicu pandangan buruk terhadap kalangan pesantren.

"Yang kami protes adalah tentang beliau seperti tidak sepakat dengan anggaran APBD yang kemudian akan digunakan oleh pemerintah untuk membangun Alokon Zini, untuk membangun kembali pesantren Al Khoziny. Dengan mengatakan bahwa kemudian seakan-akan melempar isu, bilamana terjadi pelanggaran berat, izin pesantren tersebut bisa dicabut. Karena dua hal yang berbeda," kata Riki.

"Tapi seakan-akan membangun opini di publik bahwa citra pesantren itu buruk. Bahwa citra pesantren itu tidak aman untuk menitipkan masa depan anak. Ini yang kemudian menjadi satu rasa sakit hati dari seluruh santri di Indonesia," ujarnya.

Dia mengungkap ada sejumlah poin yang dituntut oleh massa aksi. Tuntutan-tuntutan itu antara lain sebagai berikut.

1. Meminta Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia untuk memecat Ibu Atalia Praratya dari Anggota DPR RI, karena pernyataannya telah menimbulkan kegaduhan dan dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan sosial serta konstitusi.

2. Menuntut Ibu Atalia Praratya melakukan klarifikasi dan permintaan maaf terbuka kepada publik dan seluruh komunitas pesantren di Indonesia atas pernyataan yang menyinggung perasaan umat dan keluarga korban tragedi Al Khoziny.

3. Menuntut Komisi VIII DPR RI untuk menyusun Kebijakan Nasional Keselamatan Pesantren (National Santri Safety Framework) yang melibatkan Kementerian Agama, Kementerian PUPR, dan BNPB, agar tragedi serupa tidak terulang tanpa mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pesantren.

4. Mendesak Pemerintah dan DPR untuk memastikan hak-hak korban tragedi Al Khoziny, meliputi santunan keluarga korban dan bantuan medis dan psikososial bagi santri yang selamat

Selain tuntutan di atas, massa juga mewarnai aksinya dengan pembacaan puisi. Massa bubar sekitar pukul 15.50 WIB. Mereka membubarkan diri sembari melantunkan selawat.

Sebelumnya, Anggota Komisi VIII DPR Fraksi Golkar Atalia Praratya meminta pemerintah mengkaji ulang soal penggunaan dana APBN untuk memperbaiki Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo.

"Usulan penggunaan APBN ini harus dikaji ulang dengan sangat serius, sambil memastikan proses hukum berjalan dan kebijakan ke depan lebih adil, lebih transparan dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial," kata Atalia.